Pahlawan Di Tengah Bencana

Posted on November 10, 2010 oleh

2


Hari ini, 10 November, adalah Hari Pahlawan. Penetapan 10 November sebagai Hari Pahlawan tidak lepas dari semangat dan jiwa kepahlawanan Arek-Arek Suroboyo dalam melawan tentara Sekutu yang mendarat di Surabaya pada 10 November 1945. Penduduk Surabaya pada waktu itu tanpa mengenal takut melawan tentara Sekutu yang diboncengi Nica. Suara Bung Tomo melalui radio dengan teriakan “Allaahu Akbar!” menambah daya juang Arek-Arek Suroboyo. Pada peristiwa itulah para pemuda berhasil merobek warna biru bendera Belanda yang dikibarkan di atas Hotel Oranje sehingga tinggal dua warna saja, Merah Putih. Selain itu, Arek-Arek Suroboyo juga berhasil menewaskan pimpinan tentara Sekutu yaitu Jenderal Mallaby. Korban berjatuhan karena Arek-Arek Suroboyo mempergunakan senjata seadanya dan bahkan ada yang tanpa senjata. Akan tetapi, semangat,  daya juang  dan sifat kepahlawanan Arek-Arek Suroboyo pada waktu itu telah menginspirasi pemerintah untuk menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan.

Pada Hari Pahlawan 10 November 2010 ini kita tidak boleh larut hanya pada upacara seremonial di Taman-Taman Makam Pahlawan atau pun larut dalam seremoni pemberian gelar pahlawan tetapi kita perlu memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya pada para pahlawan kita yang mengabdikan dirinya untuk menjadi relawan di tengah bencana yang melanda di beberapa wilayah kita. Kita harus berterimakasih kepada para relawan – termasuk aparat pemerintah, TNI, Polri, PMI, dan lain-lain – yang turun ke daerah bencana baik di Wasior, Mentawai maupun Merapi untuk melakukan evakuasi korban hidup atau meninggal, merawat korban yang luka-luka dan melayani para pengungsi. Mereka sejatinya adalah pahlawan bagi kita semua karena mereka telah mewakili kita yang tidak dapat meninggalkan tugas sehari-hari untuk ikut bahu-membahu mengabdikan diri membantu mereka yang tertimpa bencana.

Khusus untuk bencana letusan Gunung Merapi, ada lima anggota Taruna Tanggap Bencana (TAGANA) yang turut menjadi korban terkena awan panas saat akan mengevakuasi korban dari lereng Merapi. Selain itu, ada juga tiga relawan lain yang meninggal kecelakaan lalu lintas di Tol Pejagan. Mobil yang ditumpangi para relawan tersebut menabrak sebuah truk. Pengemudi kendaraan tersebut, yang juga relawan kelelahan dan mengantuk di jalan pada saat mereka sedang membawa bantuan dari Jakarta untuk di bawah ke Jawa Tengah.

Tentu saja kita tidak boleh terpaku kepada gelar kepahlawanan yang dianugerahkan oleh Negara karena gelar Pahlawan Nasional dari Negara hanya diberikan kepada mereka yang telah meninggal. Padahal, di tengah-tengah kita ada pahlawan-pahlawan yang hidup. Kepahlawanan bukan sekedar gelar dari Negara melainkan perwujudan dari jiwa ikhlas dalam mengabdikan diri untuk kemanusiaan seperti yang ditunjukkan oleh para relawan tersebut.

Selamat Hari Pahlawan. Mari kita berikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para relawan yang menjadi pahlawan kita di tengah bencana alam yang melanda negeri ini.

Ditandai:
Posted in: Nasional