20 Tahun SMA Taruna Nusantara

Posted on Juli 14, 2010 oleh

2


Hari itu, Sabtu, 14 Juli 1990, 281 anak lulusan SMP yang berasal dari 27 provinsi — termasuk Timor Timur — melalui upacara yang membanggakan dan melelahkan, dilantik menjadi siswa SMA Taruna Nusantara. Membanggakan karena kami telah lolos dari rangkaian seleksi yang panjang mulai dari Kodim, Panda sampai ke Magelang dan telah terseleksi dari ribuan calon siswa yang lain. Melelahkan karena Inspektur Upacara waktu itu, Panglima ABRI, Jenderal TNI Try Sutrisno, tidak mengistirahatkan kami saat beliau memberikan amanat.

Saya teringat pada suatu hari almarhum bapak saya menyampaikan informasi bahwa telah dibuka sebuah sekolah taruna, sebuah sekolah berasrama yang untuk bisa mendaftar, lulusan SMP harus memiliki ranking 1 – 10 di kelasnya. Bukannya sombong, di kelas saat sekolah di SMP 1 Sleman dulu, saya selalu ranking 1 mulai dari semester 1 sampai semester 5. Semester 6 saya ranking 2. Ranking 1 direbut Muhammad Arif Yasfani yang bernomor absen 17, tepat di belakang saya yang 16. Almarhum berkata bahwa saya harus mendaftar. Saya ingat waktu itu saya tidak berminat sama sekali tetapi almarhum bersikeras agar saya mendaftar.

Perintah almarhum saya laksanakan. Memori saya waktu itu berhasil memunculkan kembali ingatan atas sebuah pengumuman di kelas mengenai sekolah itu. Pendaftarannya di Kodim.

Kebetulan sekali SMP 1 Sleman berseberangan dengan Kodim Sleman sehingga saya cukup jalan kaki untuk mengambil formulir pendaftaran. Ternyata, itu bukan sebuah formulir melainkan kumpulan berkas. Ada formulir pendaftaran, formulir data pribadi/biodata, formulir surat pernyataan, formulir surat ijin orang tua/wali, dan beberapa persyaratan lain yang harus saya penuhi seperti fotokopi rapor dari semester 1 sampai semester 5, surat keterangan sehat, SKKB, dan fotokopi akta kelahiran dilegalisir. Sangat jelas di dalam ingatan, saya mengurus sendiri semua kelengkapan administrasi itu. Pergi ke Ketua RT untuk minta pengantar membuat SKKB (kebetulan Ketua RTnya ibu saya sendiri), lalu ke Ketua RW, Pak Dukuh, ke Kelurahan Caturharjo, ke Kecamatan Sleman, ke Koramil Sleman, ke Polsek Sleman lalu ke Polres Sleman untuk mengurus SKKB. Saya juga pergi ke Kantor Catatan Sipil untuk melegalisir fotokopi akte kelahiran. Ke Puskesmas Sleman sendirian untuk kir kesehatan. Lalu setelah semua persyaratan lengkap, saya kembali ke Kodim untuk mengembalikan berkas pendaftaran. Saya pun teringat, di Kodim waktu saya mengembalikan berkas, ada dua orang dokter gigi yang masih muda dan cantik. Setiap pendaftar diperiksa giginya. Yang dikatakan dokter gigi cantik itu kepada saya adalah agar saya menambal gigi saya yang berlubang atau mencabutnya sekalian. Ya, saya punya dua gigi berlubang waktu itu.

Dari SMP 1 Sleman ada tiga siswa yang mendaftar, Aris Budiman dari kelas 3E, Muhammad Agus Widodo dari kelas 3F, dan saya dari kelas 3D. Aris Budiman tidak lolos administrasi dan Muhammad Agus Widodo kelak tidak lolos seleksi tingkat Panitia Daerah di Lanud Adisucipto. Dari ketiga pendaftar itu, saat kelulusan sayalah yang punya NEM paling rendah, hanya 46. Akan tetapi, dari nilai Ijazah, saya lulusan urutan nomor 4 dari 350 lebih siswa satu angkatan.

Saya tidak ingat berapa banyak pendaftar di Kodim Sleman yang dikirim ke Panitia daerah (Panda) XI Yogyakarta. Yang saya ingat adalah waktu itu kami dipanggil ke Kodim lalu Komandan Kodim Sleman yang berpangkat Letnan Kolonel memberikan pengarahan mengenai hal-hal yang harus kami persiapan. Beliau memberikan contoh gambar-gambar untuk dibuat saat tes psikologi di Lanud Adisucipto nantinya. Contoh-contoh gambar yang tidak semua saya gambar pada lembar tes psikologi. Hanya gambar papan target saja dari contoh itu yang saya gambar. Itu pun karena hanya itu yang saya ingat!

Saat tes seleksi di Lanud Adisucipto saya selalu berangkat sendiri. Saya ingat pagi-pagi sekali saya menumpang bus sampai Terminal Umbulharjo. Dari sana saya berganti bus Koperasi Pemuda atau Kopata Jalur 7 untuk turun di seberang SMP Angkasa yang terdapat di lingkungan Lanud Adisucipto. Hari pertama saya terpana melihat lebih dari seratus orang anak SMP yang postur tubuhnya kebanyakan lebih besar dan lebih tinggi dari saya. Saat saya tanyakan NEM, kebanyakan lebih tinggi dari saya. Perasaan minder sempat menyambangi saya. Untunglah, tes yang dilakukan pertama adalah tes darah. Tes yang menggugurkan. Pada tes darah ini, beberapa anak bertubuh atletis bak binaraga ternyata tidak lolos. Itulah awal optimisme saya. Tubuh yang besar dan atletis ternyata bukan jaminan bahwa dirinya sehat. Paling tidak itulah yang terjadi di depan mata saya, mereka tidak lolos saat tes darah.

Saat tes itu saya sempat menandai seorang anak Bantul bernama Anung. Anaknya tidak besar. Ceking malah. Akan tetapi, anak itu paling kencang suaranya dan paling suka nyeletuk. Sayang saya tidak ingat kapan ia gugur dalam tahapan tes. Saya juga sempat berkawan dengan Rohmad dari Kecamatan Ngaglik Sleman. Seorang kawan yang baik yang sayang tidak berhasil ke Magelang.

Saya pernah dinyatakan untuk tidak mengikuti tahap seleksi selanjutnya karena nilai kesehatan saya K1. Saya yakin itu karena urusan gigi saya yang sudah ompong dan bertambal. Saat pengumuman itu hasil tes psikologi belum keluar. Tes psikologilah yang membuat saya dipanggil kembali untuk mengikuti Pantukhirda. Saya ingat waktu itu Bahari Anjar Wahyudi, Daru Cahyo Sumirat, Made Rimbawa Purnatapa dan saya mengikuti Pantukhirda bersama-sama. Itulah kali pertama ibu saya menemani saya ke Lanud Adisucipto. Hari saat pantukhirda itu bertepatan dengan kegiatan Perpisahan SMP 1 Sleman yang diselenggarakan di Gedung Serbaguna Kabupaten Sleman di Beran, Sleman. Saat selesai pantukhirda kendaraan umum jurusan Yogya – Tempel yang ibu dan saya tumpangi lewat depan Gedung Serbaguna Kabupaten Sleman. Acara telah selesai. Kawan-kawan sudah berkeliaran di jalan untuk pulang ke rumah masing-masing. Saya memutuskan untuk tidak turun dan langsung menuju rumah.

Tibalah harinya kami dari Panda XI berangkat ke Magelang untuk seleksi di tingkat pusat. Mula-mula kami datang berdelapan. Dua hari kemudian bergabunglah empat lagi kawan kami sehingga kami dari DIY berduabelas. Di antara ke-12 calon siswa dari DIY itu saya memiliki NEM pada urutan ke-11. Itulah faktanya. Ranking 1 di kelas selama lima semester di SMP 1 Sleman tidak membuat NEM saya tinggi karena di SMP 1 Sleman waktu itu pun, NEM saya sudah urutan belasan. Saya sempat malas belajar saat EBTANAS karena dulu ibu pernah meminta saya sekolah STM saja jika saya lulus SMP nanti.

Di Magelang kami bertemu dengan anak-anak dari seluruh penjuru nusantara. Saya ingat Simon Petrus Kamlasi dari NTT. Anak yang pendiam. Sayalah yang menyapanya lebih dulu. Saya juga ingat dengan Sony Sanjaya, anak asal Riau yang apabila kena giliran jaga malam pasti giliran ronda malam itu akan terputus, tidak lagi ada giliran selanjutnya yang sampai pagi. Tiga anak dari Timor Timur yaitu Adelino, Virgilio dan Jaulino di Graha VIII waktu casis sedangkan saya di Graha VII bersama anak-anak dari DIY (8 orang di Graha ini), Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan (sebagian) dan Irian Jaya.

Di Magelang itu kami kembali melakukan tes darah yang dilaksanakan di AKMIL. Lalu kami menjalani tes wawancara. Kami diundang satu-satu untuk menghadapi tiga pewawancara. Selain itu, menu kami sehari-hari adalah latihan baris-berbaris dan latihan upacara. Saat sedang tes itu pula seingat saya, Indra Dwiyatmoko adalah anak yang datang ke Magelang paling akhir. Badannya gendut dan mengenakan celana pendek merah dan kemeja putih. Entah SMP mana yang seragamnya merah – putih dan bukan biru – putih.

Pendeknya, hari Sabtu 14 Juli 1990, ada 281 anak berumur limabelasan tahun yang dilantik menjadi siswa sebuah sekolah baru yang berkampus di kebun tebu di Desa Pirikan, Magelang. Mereka yang kelak ketika lulus sekolah berhasil meroket dengan perolehan rata-rata NEM peringkat 1 di Provinsi Jawa Tengah. Mereka yang ketika lulus tersebar di banyak institusi pendidikan tinggi kedinasan maupun universitas. Sungguh sebuah fragmen kehidupan yang telah membantu membentuk karakter dan kepribadian.

Kini setelah duapuluh tahun, 6 dari 11 lulusan Angkatan Pertama yang masuk AKMIL sedang SESKO. Belasan dari sekitar 70-an yang masuk AKPOL sedang SESPIM sedang lainnya ada yang sedang menjabat Wakapolres di daerah dan Kapolsek di Jakarta, ada pula yang menjadi penyidik KPK. Dua dari belasan yang masuk AAU menjadi penerbang F-16. Faisal Fathani, seorang keturunan Aceh bergelar Tengku menjadi Doktor Teknik Sipil dan mengabdi di UGM. Romi Satriawahono yang lulusan Jepang menjadi ahli Teknologi Informasi. Dan masih banyak lagi.

Saya sangat bersyukur bahwa waktu itu almarhum berkeras agar saya mendaftar ke sebuah sekolah yang baru dibangun dan sedang mencari calon siswa untuk angkatan pertamanya karena saya sangat yakin bahwa di SMA Taruna Nusantara saya mendapatkan pendidikan terbaik sepanjang hidup saya. Bukan karena gratis waktu saya sekolah di sana dulu melainkan karena saya mendapatkan pendidikan dengan pola asah, asih dan asuh. Tidak ada guru di sana, yang ada ialah Pamong Pengajar Pengasuh. Lalu kami diajarkan tiga wawasan, yaitu Wawasan Kebangsaan, Wawasan Kejuangan, dan Wawasan Kenusantaraan. Tiga wawasan yang turut membangun kepribadian saya kini.

Dirgahayu SMA Taruna Nusantara! Selamat ulang tahun ke-20.

Posted in: SMA TN, Utama