Malas Nonton Berita di Televisi

Posted on Maret 30, 2010 oleh

0


Akhir-akhir ini, kira-kira sudah sekitar semingguan lamanya, saya malas mengikuti berita di televisi. Malas. Malas sekali. Pasalnya, setiap hari selalu saja ada berita dengan kosa kata rusuh atau ricuh. Contohnya:

  • Unjuk rasa mahasiswa diwarnai kerusuhan. Mahasiswa dan polisi saling melempar batu.
  • Pembongkaran lapak pedagang kaki lima diwarnai kerusuhan antara pedagang melawan Satpol PP.
  • Pagelaran musik dangdut diwarnai kericuhan berupa perkelahian antarpenonton.
  • Pertandingan sepakbola Liga Super Indonesia diwarnai kericuhan antarpendukung.

Kalau bukan rusuh dan ricuh, ruang keluarga kita dipenuhi kata korupsi. Konon Kabinet Indonesia Bersatu dipimpin Presiden sendiri akan memimpin pemberantasan korupsi. Memimpin di mana? Bahkan, ada kasus suap pemilihan Deputi Senior BI yang tersangka penerima suapnya sudah diproses tetapi penyuapnya tidak ada. Kasus yang aneh. Ada penerima suap tetapi tidak ada yang menyuap.

Mungkin saja saya sedang sensitif dan merindukan kedamaian. Juga ketentraman. Rasanya kok kata damai dan tentram itu makin jauh dari keseharian kita. Kata damai dan tentram itu seperti sudah langka. Bisa saja sebentar lagi kedua kata itu punah dan hilang dari kamus bahasa kita.

Saya melihat ada yang salah dengan diri kita ini. Rakyat begitu mudah beringas dan pemimpin kehilangan keteladanan. Pemimpin takut bertemu dengan rakyatnya sehingga muktamar para ulama di Makassar harud diwarnai dengan pemblokiran jalan selama lima jam. “Iki lakone apa, Pak Manteb?”

Berita adalah sesuatu yang saya tunggu-tunggu. Akan tetapi, apabila isinya setiap hari hanya kata rusuh, ricuh, atau korupsi, saya jadi malas untuk menunggunya. Lebih baik saya mengisi waktu dengan kegiatan lain yang bisa memberi rasa damai dan tentram.

Ditandai: ,
Posted in: Informasi