The Power of Giant Flags Pada Pemilu Legislatif 2009

Posted on Juni 23, 2009 oleh

1


Pada setiap pemilu, partai politik atau calon legislator selalu melakukan upaya-upaya untuk mempengaruhi pemilih untuk memilih mereka pada hari H pemilihan umum. Upaya-upaya untuk mempengaruhi pemilih tersebut dapat dilakukan secara sederhana melalui sosialisasi partai politik atau caleg maupun menggunakan cara-cara yang lebih maju melalui pemasaran politik (political marketing). Dengan pemasaran politik, partai politik atau calon legislator menggunakan manajemen pemasaran secara lebih baik daripada upaya sosialisasi tradisional. Pemasaran politik akan membidik pasar dengan kaidah-kaidah pemasaran modern dilengkapi dengan pemilihan strategi maupun taktik pemasaran yang canggih.

Pada pemilu 2009 saya mengamati bahwa beberapa partai politik telah menggunakan pemasaran politik dalam upaya memenangkan pemilu. Saya yakin partai politik besar hasil pemilu 2004 telah menerapkan pemasaran politik pada pemilu 2009. Parpol-parpol tersebut tidak hanya menjual parpol melalui atribut tradisional berupa bendera dan spanduk seperti pada pemilu-pemilu sebelumnya tetapi juga dilengkapi dengan marketing tools yang sudah canggih untuk memperkuat komunikasi politik yang dipergunakan. Satuhal lagi yang memperkuat penggunaan cara-cara modern dalam pemasaran politik parpol-parpol tersebut adalah penggunaan konsultan politik profesional untuk menggarap pemasaran politik mereka. Setidaknya, terdapat dua partai politik yang saya ketahui menggunakan konsultan politik profesional, yaitu Partai Demokrat dan Partai GERINDRA. Untuk PKS, saya memiliki perkiraan bahwa partai kader tersebut menggunakan sumberdaya internal dalam melakukan pemasaran politik. Saya tidak malu mengakui bahwa di dalam PKS terdapat manusia-manusia pandai yang mampu menelurkan strategi maupun taktik pemasaran yang brilian dan kreatif.

Sebagaimana pemasaran jasa atau produk, dalam pemasaran politik pun terdapat bauran pemasaran. Tentu saja, bauran pemasaran dalam pemasaran politik agak berbeda dari bauran pemasaran produk atau jasa (pemasaran bisnis). Pada pemasaran politik, yang menjadi produk bisa beberapa hal, organisasi (dalam hal ini adalah partai politik itu sendiri), orang (calon legislator, calon presiden), atau hal lain berupa visi, misi atau program partai. Distribusi dan promosi pada pemasaran politik tidak begitu berbeda dengan distribusi dan promosi pada pemasaran bisnis. Tujuan distribusi pada keduanya adalah untuk mendekatkan produk pada konsumen. Promosi pada pemasaran politik dan pemasaran bisnis pun memiliki tujuan yang sama, yaitu membantu memperngaruhi pembeli/konstituen untuk mengambil keputusan. Pada pemasaran bisnis, keputusannya adalah membeli. Sedangkan, pada pemasaran politik keputusannya adalah memilih atau memberikan vote pada saat hari H pemilihan umum. Yang agak berbeda dari pemasaran bisnis dan pemasaran politik justru bauran yang satu lagi, yaitu harga. Menurut saya, harga pada pemasaran politik justru merupakan kebalikan dari harga pada pemasaran bisnis. Apabila dalam pemasaran bisnis, harga adalah harga produk, maka dalam pemasaran politik, harga (menurut saya) adalah dana yang diperlukan oleh partai politik untuk melaksanakan kegiatan pemasaran. Pemilih berbeda dengan pembeli dalam hal pembayaran. Pembeli membayar harga produk/jasa sedangkan pemilih tidak membayar sama sekali. Bahkan, partai politik/legislator yang akan disuruh membayar oleh pemilih. Membayar janji-janji selama kampanye, termasuk mewujudkan visi, misi dan program yang ditawarkan.

Selain bauran pemasaran, dalam pemasaran politik juga dipergunakan alat-alat pemasaran (marketing tools). Ada beberapa alat pemasaran yang dipakai oleh partai politik dalam melakukan pemasaran politik. Beberapa di antaranya tidak terlalu berbeda dari alat-alat pemasaran yang terdapat dalam pemasaran bisni. Alat-alat pemasaran yang sama tersebut adalah alat-alat pemasaran yang terdapat dalam promosi (salah satu bauran pemasaran). Adapun alat-alat pemasaran dalam pemasaran politik yang berbeda dari pemasaran bisnis di antaranya adalah penggunaan:

  • propaganda
  • survey politik
  • push poll

Propaganda merupakan cara-cara yang umum dilakukan dalam kegiatan politik. Propaganda adalah kegiatan untuk mengkomunikasikan pesan kepada audiens dengan tujuan agar audiens percaya pada pesan yang disampaikan terlepas dari benar atau tidaknya pesan yang disampaikan. Propaganda pada awalnya bertujuan baik tetapi pada prakteknya kemudian, propaganda dipersepsi secara negatif. Dalam konteks negara kita, propaganda Orde Baru pada saat ini pasti dikonotasikan negatif. Saya pun setuju dengan hal tersebut.

Survey politik merupakan alat pemasaran politik modern yang mulai marak di Indonesia pada pemilu 2004. Survey politik dilakukan secara terus-menerus sampai mendekati hari H pemilihan umum dengan tujuan untuk mengetahui elektabilitas partai politik/kandidat di dalam pasar. Bagi partai politik/kandidat, survey politik dapat dipergunakan untuk mengukur efektifitas kegiatan pemasaran yang telah dilakukan. Bagi pasar, hasil survey politik dapat menjadi acuan untuk menentukan pilihan pada saat hari H pemilihan umum. Hasil survey politik tidak secara mutlak akan mempengaruhi pemilih. Akan tetapi, apabila beberapa kali survey memberikan hasil yang sama, kecenderungan pemilih untuk mempercayai hasil survey dapat semakin tinggi. Begitu pula apabila hasil survey menunjukkan kecenderungan kenaikan elektabilitas suatu partai atau seorang kandidat, pemilih pun akan memiliki kecenderungan untuk mengikuti hasil survey.

Push poll sebenarnya hampir sama dengan survey politik. Hal yang membedakan adalah bahwa push poll dilakukan oleh partai politik, bukan lembaga survey yang independen. Perbedaan kedua, push poll dilaksanakan dengan metoda-metoda yang kurang saintifik. Metoda yang kurang saintifik tersebut sengaja dipergunakan karena tujuan push poll adalah untuk mempengaruhi pemilih agar memilih partai politik/kandidat tertentu. Push poll ini dapat juga disebut tactical survey. Tujuannya sama, menggiring responden/pemilih untuk memilih partai politik/kandidat tertentu. Push poll atau tactical survey dilakukan melalui metode survey terdesain (designed survey) dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan.

Bagaimana dengan survey politik di Indonesia? Silakan Anda memberikan penilaian sendiri apakah survey politik di Indonesia termasuk ke dalam survey politik yang obyektif yang dilakukan oleh lembaga survey yang independen atau merupakan push poll/tactical survey yang dilakukan oleh partai politik/kandidat tertentu dengan memberikan survey pesanan ke sebuah lembaga survey yang dapat dibeli.

The Power of Giant Flags

Terlepas dari kegiatan pemasaran politik yang telah dilakukan oleh para kontestan pemilu 2009, saya mengamati satu hal yang menurut saya memberikan pengaruh secara psikologis kepada para calon pemilih. Kegiatan tersebut menurut saya didesain oleh partai politik tersebut atau konsultan politiknya untuk menunjukkan kesan kebesaran/dominasi partai politik tersebut di dalam benak calon pemilih. Jujur, saya tidak melakukan investigasi kepada partai politik tersebut atau pun konsultan politiknya. Saya hanya melakukan pengamatan atas gejala yang saya lihat di sekitar saya. Saya pun secara sadar mengakui bahwa partai politik tersebut mampu menyalurkan sinyal-sinyal kebesaran atau kemampuan untuk melakukan dominasi dalam pemilu 2009 yang lalu.

Kegiatan tersebut adalah pemasangan bendera-bendera raksasa (giant flags) secara masif di tempat-tempat yang dapat terpandang setiap hari oleh para calon pemilih. Banyaknya bendera-bendera raksasa yang dipasang secara massal itu memberikan kesan kepada calon pemilih bahwa partai politik tersebut adalah sebuah partai yang besar. Partai yang akan dapat mendominasi dalam pemilihan umum 2009.

Saya adalah seorang caleg DPR-RI pada pemilu 2009 yang lalu. Setiap saya pergi ke dapil, saya akan melewati
Tol Jakarta – Merak di mana di kedua tepi jalan tol tersebut mulai dari Balaraja sampai ke Merak, dipasang bendera-bendera raksasa satu paket dengan tiang-tiang besi dan menara slink. Bahkan, ada bendera raksasa yang dipasang di menara BTS yang kosong. Bendera-bendera raksasa itu tidak hanya dipasang di sepanjang Tol Jakarta – Merak tetapi juga dipasang di tempat-tempat yang lain. Di sepanjang tol dan di tempat-tempat lain di tengah masyarakat. Di Perumahan Citra Raya tempat saya tinggal, bendera raksasa tersebut dipasang di depan pool KJU di sebelah Pompa Bensin Citra Raya, Tangerang.

Pada pemilu 2009, saya yakin bahwa bendera-bendera raksasa tersebut telah berhasil melaksanakan misinya. Kini, pada pemilu presiden 2009, partai politik tersebut, yaitu Partai Demokrat telah kembali memasang bendera-bendera raksasanya kembali. Ada bendera raksasa Partai Demokrat dan bendera raksasa bertuliskan SBY – Boediono. Sebuah sinyal bagi para kontestan pilpres yang lain. Apabila tidak diantisipasi, saya yakin bendera-bendera raksasa tersebut akan dapat melaksanakan misinya kembali seperti yang telah berhasil dilaksanakan pada pemilu legislatif 2009 yang telah lalu di mana Partai Demokrat keluar sebagai paraih suara terbanyak.

Di bawah ini adalah sebuah bendera raksasa Partai Demokrat di depan pool KJU di Citra Raya yang saya ambil Selasa (24 Juni 2009).

Posted in: Pemilu 2009