Harga Minyak Goreng Turun Karena Diturunkan Pemerintah Atau Karena Harga CPO Turun?

Posted on Februari 10, 2009 oleh

2


Saat ini harga minyak goreng sudah turun apabila dibandingkan dengan gejolak pada pertengahan 2007 lalu saat harga minyak goreng mencapai Rp12.000,- per kilogram. Harga minyak goreng yang turun adalah harga minyak goreng curah. Sedangkan, harga minyak goreng kemasan. Tabloid Kontan No. 18-XIII, 6 – 12 Februari 2009, pada artikel berjudul “Mau Beli Minyak Goreng atau Beli Mereknya” menulis:

“…Dari beragam merek yang tersaji, minyak goreng rata-rata masih bertengger di harga Rp 10.000 per liter. …”

“… Harga minyak goreng curah berada di kisaran antara Rp 7.000 per liter hingga Rp 8.000 per liter.”

Harga CPO dunia terus turun sampai tingkat yang sangat murah tetapi harga minyak goreng Indonesia tetap tinggi. Pada artikel tersebut juga ditulis bahwa produsen minyak goreng mengatakan bahwa mereka membeli CPO menggunakan dolar. Ini adalah keanehan di Indonesia. Indonesia adalah produsen CPO terbesar di dunia tetapi pabrik minyak goreng membeli CPO menggunakan dolar. Hal yang mengingatkan saya pada tulisan saya berjudul “Haramkan Transaksi Dolar Di Wilayah Indonesia.”

Nampaknya pemerintah tidak mampu mengendalikan produsen minyak goreng agar menurunkan harga jualnya. Akibatnya, pemerintah akhirnya ikut jualan minyak goreng. Pemerintah menjual minyak goreng curah kemasan bermerek Minyakita yang dijual Rp 6.000 per liter. Akan tetapi, Minyakita ternyata tetap tidak mampu menggoyang tingginya harga minyak goreng kemasan. Harga minyak goreng kemasan tetap bertengger pada kisaran Rp 10.000 per liter.

Jadi, benarkah pemerintah telah menurunkan harga minyak goreng? Pemerintah memang menargetkan harga minyak goreng akan stabil Rp 6.000 selama 2009. Dari Inilah.com dilaporkan ucapan Bu Menteri Perdagangan sebagi berikut:

"Sekarang harga minyak goreng memang sudah turun karena harga CPO turun, tapi kita merasa (harganya) bisa turun lagi. Target kita harga minyak goreng mencapai posisi Rp 6.000 per liter, hampir serupa dengan keadaan 2006," kata Mari Elka Pangestu di sela-sela penjualan langsung minyak goreng di kantor Kelurahan Johar Baru, Jakarta Pusat, Senin (5/1).

Ungkapan tersebut di atas menyiratkan bahwa harga minyak goreng turun karena harga CPO turun. Sama halnya dengan harga BBM yang diturunkan karena harga minyak dunia juga turun, bukan karena semata keberhasilan pemerintah dalam menurunkan harga kedua komoditi di atas. Buktinya, selain harga minyak goreng curah, harga minyak goreng kemasan tetap mahal. Yang murah adalah harga minyak goreng curah yang dikemas oleh pemerintah, diberi merek Minyakita dan dijual dengan harga Rp 6.000 per liter. Harga Minyakita inilah yang menurut saya akan stabil selama 2009. Sedangkan, harga minyak goreng curah selain Minyakita, justru saya harapkan bisa lebih rendah dari Rp 6.000 per liter.

Harga Rp 6.000 itu pun baru dicapai pada 2009. Padahal, pada 2007 pemerintah telah mengeluarkan Program Stabilisasi Harga Minyak Goreng dengan target Rp 6.500 – Rp 6.800 pada akhir Juni 2007 yang, menurut saya, tidak pernah tercapai karena tidak ada yang mengawasi. Silakan baca, Siapa Yang Mengevaluasi Program Pemerintah?

Saya tetap berpegangan bahwa bumi dan air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Apabila para produsen CPO lebih mengutamakan menjual CPO ke pasar internasional pada saat harga CPO dunia tinggi sehingga penduduk Indonesia harus menderita karena harga minyak goreng yang tinggi seperti dialami pada pertengahan 2007 dan ketika harga CPO dunia turun sampai tingkat yang paling rendah menyombongkan diri menjual CPO dengan dolar, maka sudah sangat wajar apabila pemerintah mengakuisisi kebun-kebun CPO swasta melalui PTPN dan mendirikan BUMN pengolah TBS menjadi CPO dan pabrik minyak goreng untuk melayani warga negara. Saya kira minyak goreng akan selalu dibutuhkan oleh rakyat Indonesia sampai kapan pun. Artinya, permintaan minyak goreng akan selalu ada sehingga pabrik CPO dan minyak goreng akan selalu dapat bertahan.

Ungkapan para produsen minyak goreng bahwa mereka membeli CPO dengan dolar telah menyakiti saya. Sebagai orang Indonesia, saya merasa terhina bahwa pemerintah membiarkan saja transaksi di atas wilayah Indonesia dengan menggunakan mata uang asing. Ketika di zaman kemerdekaan dulu kita mengeluarkan ORI dan kemudian menjadikan Rupiah sebagai mata uang Republik Indonesia, tentu kita mengharapkan agar Rupiah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Apabila transaksi di wilayah Indonesia masih bebas menggunakan mata uang asing, buat apa kita punya Rupiah?

Posted in: Ekonomi