Elpiji 3 kg Masih Langka di Banten, Cermin Program Tanpa Perencanaan Matang

Posted on Desember 22, 2008 oleh

2


Sampai Senin (22 Desember 2008) elpiji 3 kg masih langka di Banten. Banten Tribun melaporkan bahwa harga elpiji 3 kg di wilayah Rangkasbitung, Lebak, mencapai Rp22.000,- di tingkat pengecer. Sementara, di Ciputat, Tangerang, harga elpiji 3 kg mencapai Rp20.000,- per tabung (Tangerang Tribun, 22 Desember 2008 hal.4).

Saya menilai program konversi minyak tanah ke elpiji ini hanya sebuah proyek. Sebuah proyek yang tidak direncanakan dengan matang. Akibatnya, rakyat yang untuk kesekian kalinya menjadi korban.

Sebuah program yang mempengaruhi kehidupan rakyat seharusnya dikaji dan direncanakan dengan matang. Program konversi minyak tanah ke elpiji ini nampaknya tidak didukung dengan penyiapan infrastruktur produksi dan distribusi elpiji yang mampu mencukupi permintaan masyarakat. Sementara minyak tanah sudah dikurangi pasokannya, elpiji tidak ditingkatkan persediaannya. Akibatnya, di mana-mana elpiji langka dan harganya di tingkat pengecer mencekik rakyat. Di masa sulit seperti ini, rakyat kecil bukannya mendapatkan keberpihakan tetapi sebaliknya, malah semakin sulit hidupnya.

Elpiji adalah gas yang dihasilkan dari tambang minyak bumi. Namanya saja LPG (Liquified Petroleum Gas). Sementara produksi minyak bumi kita semakin kecil dan kita sudah menjadi net-impoter minyak, rasa-rasanya kurang tepat apabila konversi bahan bakar dilakukan terhadap minyak bumi ke elpiji. Dalam jangka panjang, hal ini akan menimbulkan persoalan baru. Apabila elpiji yang dipasok kepada masyarakat berasal dari impor, pemerintah sebenarnya sedang membuat jebakan energi untuk rakyat. Pada saat harga minyak bumi dan elpiji kembali meroket, bisa-bisa rakyat akan memakan mentah makanannya karena tidak mampu membeli bahan bakar. Sudahkah kebijakan konversi minyak tanah ke elpiji itu dikaji dan direncanakan matang-matang? Atau, benar dugaan saya bahwa itu hanyalah sebuah proyek?

Konversi energi, apabila dikaji dan direncanakan dengan matang, seharusnya dilakukan kepada bahan energi yang sumbernya dimiliki secara melimpah (abundant) oleh negara kita. Untuk bahan bakar fosil, kita memiliki batubara. Mengapa tidak kita konversi ke sana? Atau, mengapa tidak dialihkan ke gas alam cair (LNG)?

Saya telah berkali-kali menulis bahwa kelangkaan komoditi di negara ini seperti diatur jadwalnya. Kelangkaan akan selalu ada. Hanya komoditasnya saja yang berbeda. Pada pertengahan tahun, minyak goreng langka. Mengapit kelangkaan minyak goreng, minyak tanah langka. Setelah itu, premium dan solar pun langka. Pada musim tanam Oktober (sampai saat ini) pupuk yang dibutuhkan petani untuk menyuburkan tanaman padi juga langka. Yang masih dirasakan sampai saat ini, elpiji langka.

Saya kasihan melihat rakyat negeri ini yang selalu dibuat susah oleh para pemimpinnya yang berpihak pada pedagang besar (pengusaha) yang mempermainkan nasib rakyat. Pedagang besar yang tidak memiliki nasionalisme. Coba lihat, pada saat harga CPO di pasar internasional tinggi, para pedagang besar itu tidak mau melayani permintaan dalam negeri. Kini, ketika harga CPO dunia jatuh dan tidak ada permintaan luar negeri, kepada siapa mereka akan menjual?

Ketika harga batubara internasional tinggi, para pedagang tanpa nasionalisme itu tidak mau memasok PLN. Pada saat harga dunia jatuh dan tidak ada pembeli luar negeri, siapa yang akan membeli batubara mereka?

Nasionalisme sangat penting. Kita ini hidup sebagai satu bangsa. Apabila kita lebih menomorsatukan kepentingan pribadi daripada kepentingan dan kemaslahatan bangsa, apa jadinya bangsa ini?

Kini, kembali ke elpiji, janji pasokan elpiji untuk normal dalam tiga hari telah terlewati. Andai pemimpin mengucapkan sanksi apabila dia tidak dapat memenuhi janji yang diucapkannya, tentu kini dia sedang memenuhi konsekuensi sanksi yang diucapkannya bersama dengan diucapkannya janji. Sayang, janji hanya sebatas janji.

Dilihat 1505 kali dan 387 hari ini

Posted in: Bangun Banten