Negara Yang Mengandalkan Investasi Asing Akan Alami Kerugian

Posted on November 27, 2008 oleh

2


“Negara yang mengandalkan investasi asing akan mengalami kerugian.” (Mahathir Muhammad)

Pernyataan Mahathir Muhammad itu saya baca dari news ticker MetroTV. Saya setuju dengan pernyataan Mahathir Muhammad tersebut, terutama investasi portfolio luar negeri yang hanya menguasai saham-saham perusahaan dalam negeri.

Persetujuan saya itu bukan tanpa alasan. Bukti sudah kita rasakan. Tingginya IHSG selama ini ternyata dipengaruhi oleh banyaknya investor asing yang membuat portfolio investasinya di BEI. Begitu krisis global menerpa, para investor portfolio itu langsung melepas portfolionya sehingga IHSG pun rontok.

Investasi asing lain yang berpotensi merugikan negara adalah investasi di bidang pertambangan. Dengan kontrak karya yang memberi imbal bagi hasil yang kurang menguntungkan negara, barang tambang kita habis dikeruk dan diangkut mentah-mentah ke luar negeri tanpa negara dapat berbuat apa-apa. Seharusnya, negara memberi tambahan persyaratan bahwa barang tambang, terutama mineral, harus diolah di dalam negeri, tidak boleh diangkut mentah-mentah ke luar negeri. Saya sangat mengapresiasi pernyataan Bung Karno dulu bahwa kekayaan tambang Indonesia akan tetap dibiarkan berada di perut bumi sampai insinyur-insinyur Indonesia mampu menambangnya. Apa lacur apabila pemerintahan berikutnya dengan begitu mudah mengundang orang-orang asing mengeruk kekayaan tambang Indonesia.

Investasi dalam negeri

Investasi yang ideal bagi suatu negara adalah investasi dalam negeri. Secara sederhana, investasi dalam negeri itu dapat diperoleh dari tabungan masyarakat. Dana masyarakat yang disimpan di bank dapat dipergunakan sebagai instrumen investasi melalui penyaluran kredit. Tentu saja, dalam hal ini adalah kredit usaha, bukan kredit konsumsi.

Dana masyarakat yang disimpan pada bank-bank nasional boleh dikatakan masih sedikit. Namun, apabila dikelola dengan benar, dana masyarakat tersebut dapat digunakan untuk melakukan investasi. Sayangnya, dunia perbankan nasional dikuasai oleh bankir nakal yang menggunakan dana masyarakat untuk hanya membiayai kelompok usahanya dan bahkan ada yang tidak ketahuan juntrungannya ke mana gerangan dana masyarakat disalurkan. Akibatnya, negara juga yang rugi karena harus menjamin dana masyarakat yang digarong para bankir nakal. Timbul kemudian kasus yang sampai saat ini belum selesai, yaitu kasus BLBI.

Tidak percaya diri

Investasi asing memang dapat dipergunakan untuk membantu mencapai target pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, terlalu menggantungkan pada investasi asing juga tidak baik bagi perekonomian nasional. Adalah lebih baik apabila pemerintah menggalakkan investasi dalam begeri. Tidak saatnya lagi kita menjadi bangsa yang tidak percaya diri. Kita harus percaya bahwa kita mampu mandiri, mampu melaksanakan pembangunan dengan kekuatan kita sendiri.

Investasi asing yang berupa industri tukang jahit yang hanya merupakan tempat perakitan adalah investasi yang keropos. Investasi seperti ini sangat mudah direlokasi ke mana pun di belahan bumi ini. Contoh investasi pada industri mesin jahit ini adalah perakitan elektronika dan pabrik sepatu. Perakitan elektronika dan pabrik sepatu hanya merupakan tukang jahit. Bahan baku sebagian besar diimpor dari luar negeri dan barang jadinya pun dijual ke luar negeri. Silakan dihitung berapa perakitan elektronika dan pabrik sepatu yang telah tutup karena direlokasi ke negara lain. Agar kejadian-kejadian seperti itu tidak terulang, pemerintah harus pandai memilih bidang/industri apa yang dapat dimasuki oleh investor asing. Yang pasti, investasi pada bidang pertambangan yang mengakut tanah dan segala isinya langsung ke luar negeri sudah tidak boleh dibuka pintunya. Bahkan, untuk yang sudah berjalan, pemerintah harus mengeluarkan aturan baru bahwa bahan tambang harus diolah di dalam negeri untuk menjadi bahan setengah jadi.

Kemandirian ekonomi tidak akan dapat dicapai apabila pemerintahan kita dikuasai birokrat-birokrat yang tidak memiliki kepercayaan diri dan bermental inlander.

Posted in: Ekonomi