Kurs Rupiah, Menguatlah

Posted on November 24, 2008 oleh

1


imageSaya tidak dalam posisi gembira saat ini. Nilai tukar rupiah ternyata semakin melemah. Tanggal 20 November 2008 yang lalu, kurs tengah BI USD1 sebesar IDR12230. Hari ini sudah pada posisi USD1 = IDR12400. Dunia usaha kita tentu akan semakin kewalahan menghadapi pelemahan Rupiah ini.

Krisis kali ini ternyata lebih buruk dari krisis moneter 1997. Bahkan, banyak analis yang mengatakan krisis global 2008 ini lebih buruk daripada depresi besar (great depression) tahun 1930-an. Seluruh dunia saat ini sudah terseret ke dalam lingkaran krisis ini tanpa ada yang mampu melepaskan diri. Sungguh mengenaskan.

Seminggu yang lalu saya menerima surat cinta dari bank tempat saya meminta KPR. Isinya tentu saja bukan pemberitahuan bahwa saya mendapatkan hadiah mobil mewah. Bukan! Bukan itu. Isinya adalah pemberitahuan bahwa bunga KPR naik lagi.

Perbankan kali ini sangat berhati-hati dalam menerima aplikasi KPR. Perbankan tentu takut akan terjadi gagal bayar seperti yang dialami oleh Amerika Serikat yang akhirnya menjadi salah satu penyebab terjadinya krisis finansial di negeri Paman Sam itu. Sedikitnya KPR yang disetujui berarti sedikit rumah yang akan dibangun. Sedikit rumah yang akan dibangun berarti sedikit tenaga kerja yang terserap ke sektor ini. Sedikit pula transaksi bahan bangunan yang terjadi. Bayangkan berapa banyak tukang batu dan tukang kayu yang akan menganggur. Bayangkan berapa banyak jiwa di belakang para tukang itu yang akan kesulitan mencukupi kebutuhan hidupnya?

Sementara negeri ini susah, pemilik uang ramai-ramai memindahkan simpanannya ke luar negeri, ke tempat yang menerapkan blanket guarantee alias penjaminan 100% dana nasabah. Singapura dan Malaysia, dua negara tetangga kita sudah gencar menghubungi para pemilik duit untuk memindahkan dananya ke bank mereka. Pelarian modal ke luar negeri (capital outflow) sedang terjadi di negeri ini. Kasihan ibu pertiwi.

Ah, entah mengapa saya menjadi menyesal karena saya bukan pemilik trilyunan dana yang bisa tetap saya parkir di dalam negeri ini untuk membantu menggerakkan ekonomi.

Saya berharap Rupiah segera menguat lagi karena pelemahan Rupiah saat ini tidak juga memacu ekspor untuk naik. Bagaimana ekspor mau naik apabila negara tujuan ekspor juga bangkrut? Hal itu berbeda dari krisis moneter 1997 di mana yang bangkrut hanya kita dan belahan dunia lain tetap sehat ekonominya. Pada saat itu, pelemahan Rupiah mendorong naiknya ekspor karena pelemahan Rupiah sejatinya membuat barang-barang kita menjadi murah. Kali ini, barang kita menjadi murah tetapi pembeli bangkrut. Akibatnya, ekspor juga tidak meningkat.

Mudahnya negara kita terseret dan terpuruk ke dalam krisis ini tentu membuat kita mempertanyakan kekuatan fundamental ekonomi kita. Benarkah fundamental ekonomi kita kuat? Apabila iya, mengapa kita selalu dengan mudah mengalami akibat yang lebih buruk dari negara-negara lain? Marilah kita rapatkan barisan dan memantapkan tekad kita untuk membangun perekonomian yang mandiri. Perekonomian yang tidak bergantung kepada luar negeri.

Bisakah kita mewujudkannya? Bisa saja, asalkan kita semua mau merapatkan barisan dan bersama bangun bangsa serta bergerak untuk Indonesia Raya, bukan bergerak untuk kepentingan sendiri atau kepentingan kelompok sendiri.

Posted in: Ekonomi