Memprihatinkan, Harga Minyak Tanah di Tanara dan Carenang Lebih Tinggi Dari Bensin

Posted on November 10, 2008 oleh


Saya sangat prihatin membaca berita di Radar Banten yang menyebutkan bahwa harga minyak tanah di Tanara dan Carenang mencapai Rp 7.300,- per liter. Harga minyak tanah tersebut lebih tinggi dari harga bensin yang saat ini Rp 6.000,- per liter dan mulai 1Desember 2008 nanti akan turun menjadi Rp 5.500,- per liter.

Rumah tangga pemakai minyak tanah adalah keluarga menengah ke bawah. Mereka adalah warga negara yang harus diberi keberpihakan, harus diberdayakan agar mampu meningkatkan taraf hidupnya. Saya sadar bahwa subsidi merupakan beban bagi APBN tetapi daripada uang negara hilang percuma seperti yang dihasilkan oleh kasus BLBI, saya lebih rela negara memberikan subsidi kepada rakyat yang memang berhak menerima.

Partai GERINDRA berjuang untuk mewujudkan swasembada pangan dan energi. Apabila berhasil memenangkan pemilu nanti, insya’ Allah apa yang dialami oleh rakyat di Tanara dan Carenang tidak akan terjadi lagi. Sungguh memalukan, di Pulau Jawa yang sudah disebut sebagai pulau kota masih ada tempat yang harga minyak tanahnya lebih tingi dari bensin.

-*-

Harga Mitan di Atas Harga Bensin

TANARA – Bagi warga di Kecamatan Tanara dan Carenang, minyak tanah (mitan) merupakan salah satu kebutuhan yang sulit dicari dan mahal. Di Tanara, harga per liternya mencapai Rp 7.300. Ini jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan harga bensin yang pada Desember mendatang hanya Rp 5.500/liter.
Selain itu, minyak tanah juga hanya datang seminggu sekali. Akibatnya, warga harus antre untuk mendapatkannya.
Pantauan Radar Banten di sejumlah desa, Sabtu (8/11), sejumlah warga terpaksa harus antre hanya untuk mendapatkan lima liter minyak tanah. Di Desa Pedaleman misalnya, warga rela menunggu kedatangan minyak tanah dari agen selama kurang lebih satu jam lamanya.
Ratusan jirigen dengan ukuran bervariasi berjejer seperti tentara yang sedang apel siaga. Tak hanya itu, jirigen tersebut terpaksa diikat dengan seutas tali agar warga tetap antre ketika minyak tanah sudah datang.
Kondisi tidak jauh berbeda terjadi di Desa Teras, Kecamatan Carenang. Antrean mitan di kawasan tanaman padi inipun terjadi. Bahkan, warga yang berasal dari desa lain rela menggunakan jasa ojek hanya untuk mendapatkan minyak tanah.
Menurut Husni, salah seorang warga Tanara, setiap seminggu sekali antrean warga selalu ada. “Wong, minyak tanah datangnya seminggu sekali. Yah, kita pun hanya bisa membeli minyak tanah satu kali seminggu,” kata Husni kepada Radar Banten, Sabtu (8/11).
Menurut Husni, harga mitan saat ini sudah mencapai Rp 7.300/liter. “Meskipun harganya mahal tapi karena butuh tetap saja dibeli,” ujarnya.
Program konversi dari minyak tanah ke gas pun sampai saat ini belum dinikmati mayoritas warga di Kecamatan Tanara. “Iya, katanya mau ada bantuan kompor gas tapi sampai sekarang belum ada,” kata Rohimah, seorang ibu rumah tangga asal Desa Pedaleman. (kar) Sumber: Radar Banten.

Dilihat 46 kali dan 18 hari ini

Posted in: Bangun Banten