Moh Arif Widarto

Archive for the ‘Post by Email’ Category

Banyak yang tertipu artis telanjang

without comments

Tulisan tipuan saya yang berjudul Artis Telanjang nampaknya sukses menjerat para pencari hal tersebut dari mesin pencari. Saat ini sudah 500an kali Artis Telanjang dibuka orang kesasar.

Saya tidak menipu Sampeyan yang mengunjungi blog ini secara langsung atau mendapat rujukan dari blog lain. Artis telanjang itu saya sembunyikan jauh di dalam dengan dibuatkan tanggal pada masa lalu sehingga pada saat dipublikasikan tidak muncul di halaman utama. Namun, kalau Sampeyan gemar mengetikkan “artis telanjang” di form pencarian mesin pencari, insya’ Allah Sampeyan akan kesasar ke tulisan tipuan itu.

Pasti mereka yang tertipu merasa kesal dan untuk menumpahkan kekesalan mereka memencet iklan yang memiliki judul-judul senada. Saya yakin mereka bakal ketipu lagi karena para pemasang iklan menggunakan AdWords juga suka menipu. Mereka membuat iklan bertuliskan cewek bugil dll tetapi landing page-nya bukan seperti yang diharapkan.

Ketipu kok dua kali!

Mbok ya sudah jangan pada mengetikkan kata kunci seperti itu daripada ketipu lagi-ketipu lagi.

Eh, Sampeyan termasuk yang pernah ketipu atau bukan?

Written by Kombor

Mei 21, 2008 at 5:38 pm

Ditulis dalam Post by Email

Sugeng Rawuh Sultan Ndoyokarto

with 3 comments

Kalau para jelatawan di Jelatakarta dalah negeri Kasultanan Ndoyokarto alias para eblis dan ebliswati CahAndong pada bersedih melepas kepergian Sultan ke Jancukarta maka saya yang sudah ngluru menir alias mencari butiran beras di Jancukarta justru sangat gembira dan siap menyambut Sultan. Jancukarta yang dibeci Sultan — sehingga olehkarenanya saya juga membencinya dan saya wujudkan kebencian itu dengan tinggal di Provinsi Banten — memang kejam tetapi Saya yakin dengan gaji limang gelo sepasar Sultan akan dapat bertahan dari keganasan seleksi alam di belantara beton dan hedonisme jancukarta.

Saya akan siap sedia menemani Sultan ke petilasan Banten Lama (asal jangan ke makam Maulana Yusuf) karena banyak jelata beneran yang selalu mengekor peziarah dengan telapak tangan menengadah.

Sugeng rawuh, Sultan!

( Sultan dapat ditemui di sini )

Di bawah ini daftar mereka yang telah menulis mengenai kepergian Sultan ke Jakarta:
1. Antobilang
2. Fany
3. Sir Mbilung
4. Siwi
5. Memeth
6. Ekowanz
7. Tikabanget
8. Tikabanget 3D
9. Momon 3D
10. PeTeer


Sent from Gmail for mobile | mobile.google.com

Written by Kombor

April 28, 2008 at 6:07 am

Ditulis dalam Post by Email

Ditandai dengan

Antri

with 3 comments

Antri. Kata itu tidak perlu saya terangkan maknanya karena saya yakin sebagian paling banyak dari penutur Bahasa Indonesia sudah mengetahui artinya. Namun, untuk yang belum tahu artinya, silakan buka KBBI supaya lebih mantab-bek pemahamannya tentang arti kata antri.

Saya mengangkat kata ini justru karena sebagian terbesar dari kita sudah sangat paham artinya. Saking pahamnya kita menyepelekan kata itu dan pada akhirnya hasil yang kita capai adalah kita tidak bisa antri. Tidak percaya? Lihatlah di depan loket penjualan karcis bus antarkota atau kereta api. Orang-orang bergerombol di depan loket dengan berdesak-desakan seperti anjing berebut keluar dari kandang. Lihat pula di terminal atau halte bus, Sampeyan akan melihat dengan mata kepala sendiri sehingga Sampeyan bisa mencapai tahap ainul yaqin mengenai pernyataan saya bahwa sebagian terbesar dari kita tidak bisa antri.

Budaya Antri Adalah Cermin Masyarakat Beradab

Masyarakat beradab di muka bumi ini merupakan masyarakat yang saling memahami dan saling menghormati sesama. Kelihatannya sepele, namun kalau kita mau memperhatikan dengan seksama, dalam aktivitas mengantri kita melihat setiap orang saling memahami dan saling menghormati antara satu dengan yang lain. Orang yang datang belakangan memahami bahwa orang yang hadir lebih dahulu berhak untuk berada di depan dan dengan sadar menghormati hak tersebut. Ada kesalehan yang maujud di sana. Kesalehan yang benar-benar melembaga dalam diri manusia sehingga maujud pula dalam kesehariannya.

Mengenai kesalehan ini, ada seorang mubaligh yang pernah menyampaikan bahwa orang-orang Jepang itu walaupun tidak beragama Islam tetapi sangat saleh. Lebih saleh dari orang Indonesia. Dalam bermasyarakat orang Jepang sangat teratur. Mereka saling menghormati dan saling menghargai. Lihat saja kedisiplinan mereka dalam menata sandal, sepatu dan bakiak di depan pintu. Lihat saja betapa tertibnya mereka dalam mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Lihat saja keindahan yang mereka tunjukkan dalam mengantri. Alangkah salehnya mereka orang-orang Jepang itu.

Kadar kesalehan tidak ditunjukkan oleh kekhusyukan dalam ibadah langsung dengan Tuhan (hablun minallah) semata melainkan juga dalam bermasyarakat (hablun minannas). Hubungan langsung dengan Tuhan adalah urusan pribadi masing-masing dan hanya Tuhan yang berhak memberikan penilaian. Akan tetapi, dalam kerangka hidup bermasyarakat, orang lain dapat memberikan penilaian mengenai kesalehan seseorang. Orang yang sangat saleh semestinya berperilaku saleh, bukan sebaliknya. Nah, dalam hal ini saya berpendapat bahwa ulama-ulama telah gagal dalam mengajarkan umat untuk menjadi saleh. Mereka hanya mengajarkan teori-teori agama tetapi lupa memberi contoh nyata sehingga umat yang diajarinya pun pasti akan sangat fasih mengutip dalil-dalil agama tetapi bodoh dalam menerapkannya di kehidupan sehari-hari.

Baca entri selengkapnya »

Written by Kombor

April 27, 2008 at 7:02 am

Ditulis dalam Post by Email

Ditandai dengan ,

Kalau Mau Kaya Jangan Jujur (2)

without comments

Praktek kongkalikong antara pengusaha, eksekutif dan legislatif masih tetap dilakukan walaupun pemerintah telah memiliki Keppres No. 80 yang sangat terkenal itu. Memang keppres itu telah mengatur agar pengadaan barang dan jasa lembaga pemerintahan dan BUMN transparan. Akan tetapi, prakteknya, transparansi hanya dilakukan sebatas untuk memberikan kesempatan yang sama kepada para pengusaha, yaitu melalui pengumuman tender yang harus diiklankan melalui media massa nasional. Jauh sebelum pengumuman lelang disatukan di Media Indonesia, banyak iklan pengadaan barang/jasa pemerintah yang dikamuflasekan sedemikian rupa sehingga tidak nampak seperti iklan lelang melainkan kelihatan sebagai iklan lowongan kerja atau iklan kematian. Atau, surat kabar yang terbit hari itu langsung diborong agar pesaing tidak tahu pengumumannya. Ketika iklan lelang disatukan di Media Indonesia pun masih ada yang mencoba berbuat curang dengan memasang iklan pada hari Sabtu atau Minggu
di mana kebanyakan orang sedang libur dan iklan lelang itu tidak ditayangkan pada versi online-nya. Entahlah tikus mana di Media Indonesia yang juga mau diajak kerjasama seperti itu, segera menurunkan iklan dari versi onlinenya. Saya mendapat cerita seperti ini dari teman-teman yang pernah mendapati adanya iklan lelang di Media Indonesia yang terbit pada hari Sabtu tetapi di versi onlinenya nggak ada. Kalau Media Indonesia kemungkinan masih bisa diajak main mata juga, buat apa iklan lelang pengadaan barang/jasa pemerintah dan bumn disatukan di sana?

Maaf, saya tidak menuduh Media Indonesia seperti Ramos Horta menuduh Desi Anwar terlibat dalam usaha pembunuhan presiden Timor Leste itu. Saya hanya menyampaikan sedikit cerita saja.

Jauh sebelum pengumuman, pengusaha dan pengguna dari kalangan pemerintah sudah berhubungan. Pengusaha membantu pengguna (dalam hal ini lembaga pemerintah) dalam mengidentifikasi kebutuhannya. Soal mengidentifikasi kebutuhan ini bisa terjadi di mana-mana. Kadang-kadang sebuah perusahaan memerlukan konsultan untuk merumuskan kebutuhan belanjanya. Ada konsultan rancang bangun untuk membantu membuat rancang bagun gedung. Ada konsultan IT untuk merumuskan kebutuhan solusi IT. Di kalangan lembaga pemerintah, untuk pekerjaan bernilai maha besar pun didahului dengan pekerjaan jasa konsultan. Anehnya, dalam merumuskan rencana kerja dan syarat-syarat serta kerangka acuan kerja lelang pekerjaan jasa konsultan ada konsultan lain, yaitu mereka yang bersama-sama dengan pengguna merancang pekerjaan. Kongkalikong bisa dimulai dari saat pengguna merumuskan kebutuhannya karena pada tahap yang masih sangat dini itu pemenang lelang — yang lelangnya sendiri baru dirancang
— sudah kelihatan atau bahkan sudah ditetapkan secara defakto. Urusan dejure adalah urusan dalam tahap-tahap pelelangan yang prosesnya transparan di mata publik. Padahal, banyak proses yang masih terjadi di ruang gelap sehingga tidak diketahui masyarakat.

Setelah lelang diumumkan — entah metodenya pra atau pasca kualifikasi — akan banyak perusahaan yang mendaftar. Pada proses ini, dokumen lelang akan dibuka di hadapan semua peserta lelang. Eit, jangan senang dulu! Panitia lelang yang cerdik akan membantu pengusaha licik memeriksa dokumen lelang mereka. Apabila ada kekurangan, pengusaha licik dapat menyusulkan dokumen yang benar yang sebenarnya sudah tidak bisa disusulkan ketika peserta lelang sudah memasukkan dokumen.

Pada tahap selanjutnya, entah ada beauty contest atau tidak, akan terjadi proses penilaian yang sangat subyektif dalam menilai dokumen/proposal teknis. Proposal yang satu tidak dapat dibandingkan dengan yang lain secara fair di hadapan peserta lelang. Dalam proses ini, hanya iblis yang bisa melihat apakah dokumen teknis yang diberi nilai tinggi benar-benar lebih baik daripada dokumen teknis peserta lain. Mengapa? Karena hanya panitia yang bisa menilai dan penilaian tidak dilakukan di depan peserta lelang. Dalam kasus yang memakai kontes kecantikan atau presentasi proposal, tidak ada peserta lain pada saat kontestan melakukan paparan. Hanya ada tim pemapar dan panitia lelang.

Written by Kombor

April 26, 2008 at 10:46 am

Ditulis dalam Post by Email

Kalau Mau Kaya Jangan Jujur (1)

with one comment

“Amenangi jaman edan, yen ora edan ora melu keduman”. Semua orang pasti pernah mendengar jangka Jayabaya atau ramalan Jayabaya yang salah satu ramalannya dipotong seenaknya seperti kalimat pembuka paragraf ini.

Zaman terus berubah. Akan tetapi, penyakit masyarakat pada setiap zaman kemungkinan akan sama saja. Pembunuhan manusia pertama sudah dimulai saat Qabil dan Habil berebut pasangan dan itu ada di masa Adam masih hidup. Pelacuran dikatakan sama tuanya dengan umur manusia. Tentu judi, pencurian, perampokan dan tindak kriminal yang lain juga telah hadir di antara kita sejak masa nenek moyang manusia pertama dulu. Begitu pula dengan korupsi yang selalu merugikan negara dan secara otomatis pasti merugikan masyarakat, umurnya pasti sudah setua umur manusia.

Pecurian, penipuan, dan korupsi adalah penyakit masyarakat yang didasari oleh berkuasanya ketidakjujuran dalam diri manusia. Sifat jujur memang selalu bersanding dengan sifat tidak jujur karena Tuhan selalu menciptakan segala sesuatu dalam pasangan-pasangan. Ada kalanya sifat jujur berhasil mendominasi dan mengalahkan sifat tidak jujur. Ada kalanya keadaan yang sebaliknya yang berlaku. Dalam keadaan ini seseorang akan selalu merugikan orang lain dan menguntungkan dirinya sendiri.

Pada saat kecil kita pasti dididik untuk selalu jujur. Orang tua kita meminta kita untuk pamit kalau mau pergi ke manapun. Orang tua pasti ingin tahu ke mana harus mencari apabila sudah saatnya pulang tetapi anaknya belum pulang. Kegiatan pamit dimaksudkan agar kita memberitahukan ke mana kita akan pergi, bersama siapa dan mau apa. Kalau informasi yang kita sampaikan kepada orang tua benar, ketika terjadi sesuatu dengan kita maka orang tua akan dapat melacak keberadaan kita dengan benar. Akan tetapi, kadang kala kita sudah mulai belajar tidak jujur sedari kecil. Mau mancing di bendungan kita bilang mau belajar kelompok. Mau berenang di waduk kita bilang mau bertanding sepakbola. Beruntunglah yang sedari kecil tidak pernah berbohong karena sifat jujur akan selalu terasah dan pada akhirnya akan mendominasi dan mengalahkan sifat tidak jujur.

Sifat tidak jujur sejatinya merupakan sifat inti dari para munafik. Nabi mengatakan tiga ciri orang munafik yaitu apabila bicara bohong, apabila berjanji mengingkari dan apabila dipercaya !erkhianat. Entah sifat mana yang membuat Dewi Persik bisa mengatakan, “Jangan munafik deh!” Ketika Walikota Tangerang mencekalnya menggoyang pantatnya di Tangerang. Apakah dengan begitu Walikota Depok, Bupati dan Ulama-ulama di Sukabumi, dan kepala daerah – kepala daerah yang lain yang mencekal dia juga munafik? Ah… Manusia banyak yang membohongi diri sendiri dalam usahanya mencari uang.

Kalau hanya membohongi diri sendiri sih mungkin hanya diri sendiri yang rugi. Namun, kalau sudah melangkah ke tingkat yang lebih tinggi, yaitu membohongi orang lain maka skala kerugian yang ditimbulkan otomatis juga semakin luas, bukan hanya diri sendiri melainkan juga orang lain. Bahkan bisa lebih luas lagi, yaitu merugikan masyarakat.

Banyak jalan menuju Roma. Banyak juga jalan menjadi kaya. Ada jalan yang panjang berliku dan penuh onak, ada pula jalan pintas yang sangat mulus, lebar dan tanpa hambatan. Yang belakangan ini yang banyak ditempuh para pejabat kita. Merasa gajinya kekecilan dan tidak memungkinkan untuk bisa mengantarkannya menjadi kaya, banyak abdi negara yang mengambil jalan pintas dengan mengerat keuangan negara untuk keuntungan sendiri. Para pejabat ini menyunat anggaran negara melalui penggelembungan nilai proyek. Modus lain, mereka meminta jatah agar pemenang lelang proyek menyetor sejumlah prosentase tertentu kepada mereka. Bukan hanya eksekutifnya, orang dari legislatif juga suka minta jatah pada pemenang proyek. Fakta-fakta di lapangan sampai saat ini masih sulit untuk menghilangkan praktek kongkalikong antara pengusaha, eksekutif dan legislatif dalam tender proyek. Namun, kerugian negara yang ditimbulkan tidak separah zaman dulu di mana proyek fiktif banyak
sekali. Kabar baiknya adalah para tikus pengerat itu mulai diendus olek KPK.

*bersambung*

Written by Kombor

April 26, 2008 at 8:52 am

Ditulis dalam Post by Email

Kopdar Dengan Fertob 15 Juni 2008

with 8 comments

Segala puji bagi Tuhan seru sekalian alam, akhirnya Fertob bersedia untuk kopdar. Sesuai dengan komentar Fertob pada tulisan saya sebelum ini (maaf, posting by email nggak bisa naut) di mana Fertob minta dikabarin untuk kopdar seperti kutipan di bawah ini:

“Okeh…okeh… tinggal kasih kabar buat kopdar. Tapi bulan Mei ini saya balik ke Sorong (Papua) dulu, Kang. Sudah 9 tahun nggak pernah balik. Sekalian nengok ortu yang sudah lama nggak dikunjungi. Dan sekalian nengok kampung kelahiran :)

Maka saya tentukan saja waktu Kopdar dengan Fertob 15 Juni 2008. Tempatnya biar diatur oleh Chika. Syarat tempat: (1) merakyat, (2) muat orang banyak.

Saya menyaratkan tempat yang merakyat supaya rakyat jelata bisa ikutan dalam acara ini nanti. Blogosfer terdiri dari pangeran dan putri mal, pengusaha, profesional, karyawan, buruh, mahasiswa, pelajar dan golongan jelata yang lain. Mudah bagi pangeran dan putri mal untuk sedikit turun ke plasa. Akan tetapi, sulit bagi jelatawan seperti saya untuk naik tingkat ke wahana gaul bloger jetset. Dus, tempat yang merakyat akan mampu menyerap semangat dan kerinduan kita untuk menghadap Sang Fertob.

Syarat kedua, tempat kopdar harus muat orang banyak. Ruang starbuck yang sempit pasti tidak akan mampu menampung khalayak yang ingin bertemu dengan Fertob. Saya tidak merendahkan Sampeyan yang ingin ketemu Fertob. Saya sendiri sudah 15 tahun tidak bertemu Fertob. Bu Enny bersedia naik bus umum asal bisa bertemu Fertob. Anak bebek saya yakin bersedia terbang dari Palembang lagi untuk bertemu muka dengan superhero yang ditulisnya. Om Anggara, Caplang saya juga percaya akan siap sedia untuk datang. Saya bahkan akan mengusulkan kepada KBBC untuk menjadikan kopdar dengan Fertob ini sebagai acara wajib.

Catat dalam buku agenda atau organizer Sampeyan semua tanggal penting di pertengahan tahun ini, 15 Juni 2008 sebagai tanggal kopdar dengan Fertob.

Saya yakin Fertob akan sudah pulang dari Sorong pada tanggal itu nanti. Fertob tidak akan mengecewakan kita. Dia akan memilih mengecewakan diri sendiri daripada mengecewakan kita, orang-orang yang memendam rindu, mengidolakan atau sekedar penasaran dengan kemisteriusan Fertob.

Untuk yang belum tahu Fertob kunjungilah Pyrrho.

Silakan sebarkan warta gembira ini di blog masing-masing kalau berkenan. Please trekbek atau lacakbalik ke sini yah!

Written by Kombor

April 25, 2008 at 6:36 pm

Ditulis dalam Post by Email

Ditandai dengan ,

Siapa Pernah Bertemu Fertob?

with 12 comments

Saya punya pertanyaan menggelitik: siapa pernah bertemu dengan Fertob atau yang menggunakan nickname Pyrrho di wordpress.com?

Fertob yang alamat blognya http://fertobhades.wordpress.com. Dia adalah teman SMA saya. Keturunan Batak tetapi kiriman Biak. Ketika Sampeyan menyebut Fertob, sebenarnya Sampeyan sedang menyingkat namanya.

Saya terakhir bertemu dengan Fertob adalah tahun 1993, tahun di mana dia dan saya masih sekolah di Magelang. Lulus SMA, saya dengar Fertob masuk STAN dan saya menganggur di rumah (karena pilihan secara sadar). Tahun 1994 saya dengar Fertob keluar dari STAN dan di tahun itu saya diterima di Administrasi Negara UGM tetapi saya cabut kembali pendaftaran ulang karena saya memilih menjadi perintis di UPH.

15 tahun sudah saya tidak bertemu dengan Fertob. Seperti pengakuannya di halaman aboutnya, mungkin Fertob memang asosial. Tahun lalu saya sempat menelpon dia dan menanyakan (biasalah…) di mana dia bekerja. Tidak tahu dengan Sampeyan semua, yang jelas saya belum pernah bertemu dengan Fertob dalam 15 tahun terakhir ini.

Membaca halaman aboutnya, sedikit persamaan saya dengan Fertob hanyalah dia lahir di bulan singa dan tahun macan. Mikir yang aneh-aneh dan membuat hal gampang jadi rumit mungkin juga menjadi kesamaan saya dengan Fertob. Soal kesenangan membaca, saya juga suka walaupun keluasan bahan bacaan saya tidak sehebat Fertob. Mungkin saja penyakit Fertob dan saya juga sama karena kesamaan naungan bulan dan tahun yang sama; singanya macan.

Namun, saya memiliki kesenangan yang mungkin tidak dimiliki Fertob. Saya senang membaca tulisan-tulisannya yang dengan segala kerumitan pemikirannya bisa menuliskan hal sepele menjadi penting. Kebalikan dengan saya yang menulis sesuatu yang penting menjadi remeh-temeh karena kekerdilan pengetahuan saya.

Saya memang tidak bergaul akrab dengan Fertob. Yang saya gauli adalah Agustinus Wahyudi, teman sekampung Fertob dari Biak. Agustinus Wahyudi ini anak Katolik asli Temanggung yang semasa di SMA dulu sangat akrab dengan saya. Perbedaan agama tidak menghalangi kekariban saya dan Agustinus Wahyudi karena level kemampuan otak kami yang setara. Berbeda dengan Fertob yang jenius tapi bodoh dimana kejeniusan dan kebodohannya mungkin membuat saya tidak bisa terlalu akrab dengannya. (Fer, di mana Agustinus Wahyudi sekarang? Anak-anak pada nggak tahu loh! Aku kangen sama anak item berambut kriting yang mirip orang Irian asli itu.)

Siapa yang pernah kopi darat dengan Fertob? Bagaimana kalau kita seret Fertob untuk kopi darat? Bagaimana Chik (http://chikastuff.wordpress.com)? Bagaimana, Fer?

*link ditulis urlnya karena post by email, nggak bisa bikin taut*

Written by Kombor

April 24, 2008 at 5:43 pm

Ditulis dalam Post by Email

Begitu Dong Pak Agum

with 6 comments

Sore tadi sekitar pukul 17 (saya sore sudah di rumah karena sampai hari ini masih belum ngantor) saya lihat berita mengenai pasangan Agum – Nukman yang membuat pernyataan menerima hasil penghitungan suara pilkada oleh KPUD Jawa Barat. Pernyataan tersebut sekaligus mengoreksi pernyataan wakil pasangan tersebut yang kemarin menolak hasil penghitungan suara pilkada oleh KPUD Jawa Barat. Meskipun demikian, Agum Gumelar tetap menyampaikan adanya kecurangan-kecurangan pada pelaksanaan pilkada Jawa Barat yang lalu.

Nah, begitu dong Pak Agum. Mengapa harus menunggu massa Sampeyan beraksi seperti kemarin? Atau, supaya saya punya bahan ngeblog?

Written by Kombor

April 23, 2008 at 2:11 pm

Ditulis dalam Post by Email

Pak Agum Kendalikan Massa Sampeyan Dong!

with 5 comments

Saya masih ingat ketika acara debat terbuka pasangan cagub-cawagub Jawa Barat yang disiarkan MetroTV semua kandidat siap menang dan siap kalah. Pak Agum Gumelar dengan mantap menjawab juga seperti itu. Hmm, waktu itu saya mengatakan dalam hati bahwa inilah pasangan para ksatria yang siap berkompetisi secara adil.

Namun, berita mengenai kericuhan di Kantor KPUD Jawa Barat saat sidang pleno penetapan hasil pilkada Jawa Barat sangat membuat saya kecewa kepada Pak Agum. Kemana saja Sampeyan, Pak? Mengapa Sampeyan tidak turun dan mengendalikan masa Sampeyan? Kalau ada sengketa dalam pilkada bukankah bisa dilakukan lewat jalur hukum, bukan melalui cara barbar mengerahkan massa seperti itu?

Saya juga semakin kecewa kepada PPP. Jujur saya katakan bahwa ketika Orde Baru berkuasa dulu saya sangat simpati pada PPP. Apalagi ketika suara-suara lantang Sri Bintang Pamungkas dan Khofifah Indar Parawansa menjadi pembawa angin perubahan di gedung keong Senayan. Sayang, PPP memang partai plin plan. Dulu azas Islam diganti Pancasila. Ketika Soeharto tumbang, kembali lagi ke azas Islam. Ideologi seperti barang dagangan yang bisa ditukar kursi parlemen. Kini PPP terbukti hanya menjadi partai pelengkap yang bisa saja satu dekade ke depan sudah tidak akan lolos elektoral treshold.

Saya kecewa kepada Pak Agum karena tidak turun mengendalikan masa. Saya kecewa kepada PPP karena mengerahkan massa ke Kantor KPUD Jawa Barat dan yang lebih konyol, mendeklarasikan pasangan Agum – Nukman sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat.

Kesatria konsekuen pada ucapannya. Tolong, Pak, buktikan ucapan Sampeyan yang siap menang dan siap kalah itu. Terus terang saya bukan warga Jawa Barat tetapi saya sudah penat melihat pilkada yang berakhir sengketa dan diwarnai pengerahan massa. Sebagai elit politik janganlah membakar emosi massa. Didiklah massa agar melek politik dan mampu menyikapi hasil pilkada dengan pikiran waras.

Written by Kombor

April 22, 2008 at 3:12 pm

Ditulis dalam Post by Email

Tepar

with 13 comments

Ketika bangun pagi tadi saya merasakan kepala ini berat dan sangat pusing. Orang Jawa bilang sebagai buyer. Saya melihat sekeliling saya berputar sangat cepat. Saya berusaha mengangkat kepala tetapi tidak kuat. Kalau kepala saya angkat, segalanya berputar semakin cepat. Saya menyerah dan hanya berusaha merubah posisi tidur yang semula miring ke kanan menjadi telentang. Ternyata posisi telentang pun membuat buyer di kepala bertambah. Saya kembali berbaring miring ke kanan.

Kemarin saya masih dengan gagah menghadiri acara silaturahim Ikastara Tangerang di rumah Dodi Mawardi. Hadir di sana 20 alumni SMA Taruna Nusantara Magelang. Bloger alumni yang hadir adalah tuan rumah sendiri, Anjar Priandoyo, Ari Juliano dan saya sendiri. Ikastara Tangerang memiliki agenda untuk bersilaturahim bersama setiap tiga bulan sekali. Di sana kembali saya sosialisasikan rencana kerja Ikastara Tangerang. Rencana kerja yang membumi, bukan yang muluk-muluk:
1. Silaturahim setiap 3 bulan
2. Donor Darah setiap 3 bulan
3. Bakti Sosial (project based)
4. Satu Bulan Satu Buku. Sumbang buku ke SMATN
5. Karyawisata Bersama

Selesai acara di rumah Dodi Mawardi saya mampir ke rumah Anjar Priandoyo di Permata Bintaro. Saya belum menengok keponakan baru sehingga kemarin itu saya niatkan betul untuk mampir.

Pukul 16:30 saya pamit dari rumah Anjar, takut mengganggu istirahat si Kecil dan mamanya. Juga supaya Anjar tidak bosan mendengar ocehan saya. Kalau mau tahu, banyak topik yang kami bicarakan mulai dari bayi, pekerjaan, sampai blog monetization.

Sebelum ke rumah saya mampir dulu beli sate padang pesenan ibunya Si Berseri-seri Cahaya Kemuliaan yang libur masak. Sampai di rumah hujan turun dengan derasnya. Saya sempat terkena gerimisnya dari jarak 500 meter dari rumah.

Saya tidak ke kantor. Bangun dari kasur saja saya tidak mampu. Kaki sih mampu menopang badan saya untuk berdiri tetapi justru kepala yang membuat saya tidak mampu berdiri. Bahkan, duduk pun tak mampu. Saya menuliskan posting ini sambil berbaring. Posting via email sehingga link saya tulis url aselinya.

Memang kalau mau jujur kemarin saya sudah merasakan senut-senut di tengkuk kiri saya. Bahkan lengan kiri saya juga agak nyeri. Akan tetapi saya tidak ingin hal itu menghalangi saya untuk bersilaturahim dengan para alumni SMA Taruna Nusantara yang berdomisili di wilayah Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan calon Kota Tangerang Selatan. Biarlah yang lain tidak hadir bersilaturahim, asal bukan saya. Kapan lagi saya akan mengetahui dan berkunjung ke rumah alumni yang lain kalau bukan dalam acara silaturahim seperti ini. Sebagai alumni angkatan purwaka saya merasa berkewajiban untuk mengajarkan kepada adik-adik agar jangan menjadi kacang lupa kulit. Melupakan ikatan almamater SMATN. Makanya saya selalu mengusahakan untuk hadir dalam silaturahim Ikastara Tangerang. Saya tidak hadir satu kali karena keluarga di Tangerang berkeras minta diantar ke Masjid Dian Al-Mahri di Depok.

Saya masih berbaring dan sesekali mencoba duduk untuk merasakan masih buyer atau tidak. Saya akan pergi ke dokter. Tadi istri saya minta untuk pergi ke dr. Joko yang praktek di Taman Picaso apakah mau dipanggil untuk datang ke rumah karena saya benar-benar tidak mampu bangun. Petugas di bagian pendaftaran mengatakan dr. Joko tidak bisa ke rumah saya. Tanpa bicara dengan dr. Joko istri saya langsung pulang padahal saya benar-benar tidak mampu bangun. Ya sudah, saya akan menunggu sampai saya kuat bangun dan mengendarai sepeda motor. Untuk menurunkan tekanan darah saya minum jus sledri dan makan timun. Mudah-mudahan bisa mempercepat terusirnya rasa buyer.

Update
Baru saja istri saya ke dr. Joko lagi (pukul 16-an) dan berhasil ketemu dr. Joko. Dokter itu bilang, “Saya sudah mau pergi. Saya buatkan rujukan ke rumah sakit saja ya. Lagipula saya tidak pernah memeriksa pasien di rumah.”

Saya minta istri saya ke apotek saja untuk mencari unalium. Februari lalu ayah saya tensinya tembus 220 dan merasa sangat buyer seperti yang saya rasakan. Untuk menghilangkan buyer itu dokter meminta untuk dibelikan unalium.


Sent from Gmail for mobile | mobile.google.com

Written by Kombor

April 21, 2008 at 6:12 am

Ditulis dalam Post by Email, silaturahim

Ditandai dengan , ,