Archive for the ‘Pendidikan’ Category
Informasi Pendaftaran Calon Siswa SMA Taruna Nusantara Magelang 2009/2010
Mengingat banyaknya pencari informasi pendaftaran siswa baru SMA Taruna Nusantara Magelang TP 2009/2010 yang masih saja mengakses informasi tahun sebelumnya (TP 2008/2009) di blog ini, maka saya putuskan untuk mengunjungi website SMA Taruna Nusantara dan menemukan informasi penerimaan siswa baru TP 2009/2010 di halaman Info Pendaftaran.
SMA TARUNA NUSANTARA (BERASRAMA)
MENERIMA SISWA KELAS X TP. 2009/2010
Lembaga Perguruan Taman Taruna Nusantara (LPTTN)
Pengelola SMA Taruna Nusantara
menerima Pendafaran Siswa Kelas X
1. Persyaratan.
a. Warga Negara Indonesia (WNI) Laki dan Perempuan.
b. Beragama.
c. Usia maksimal 17 tahun pada bulan Juli 2009.
d. Sehat Jasmani dan Rohani (Surat Keterangan Dokter).
e. Tinggi dan Berat Badan Seimbang.
f. Berkelakuan Baik (Keterangan Kepala Sekolah).
g. Siswa Kelas III SMP/sederajat. Nilai Raport Kelas I s.d. III SMP minimal 7 untuk Pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA dan Matematika.
h. Bersedia tinggal di Asrama selama mengikuti pendidikan.
i. Persetujuan Orang Tua/Wali.
2. Waktu dan Tempat Pendaftaran.
a. Waktu : 15 Januari s.d. 31 Maret 2009.
b. Tempat : Ajen Kodam atau Ajen Korem dan Kodim
3. Cara Pedaftaran.
a. Mengisi Formulir Pendaftaran FORM : NO 02-2009 (Formulir dapat diambil di tempat Pendaftaran).
b. Menyerahkan Formulir Pendaftaran beserta lampirannya masing-masing rangkap 3.
Lampiran Formulir sebagai berikut :
- Fotokopi Raport Kelas 1 s.d. Kelas III SMP yang telah dilegalisir Sekolah.
- Fotokopi Akte Kelahiran yang telah dilegalisir Sekolah.
- Surat Keterangan Berkelakuan Baik di Sekolah.
- Pas Foto Hitam Putih ukura 3 x 4 cm sebanyak 3 lembar.
- Surat Keterangan Dokter (Dokter Rumah Sakit Pemerintah atau Militer setempat)
4. Seleksi. Seleksi dilaksanakan dalam dua tahap :
a. Seleksi Awal.
- Seleksi Administrasi, meneliti data Calon Siswa yang tertulis pada Formulir Pendaftaran dihadapkan pada substansi persyaratan penerimaan (dilaksanakan di daerah/Ajen maupun Pusat/LPTTN)
- Seleksi Akademik, Calon Siswa yang memenuhi persyaratan diharuskan mengikuti Seleksi Akademik dengan materi Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA dan Matematika, dilaksanakan sekitar bulan April 2009 di Ajendam/Ajenrem.
b. Seleksi Lanjutan.
- Calon Siswa yang dinyatakan lulus Seleksi Akademik akan dipanggil untuk Seleksi Lanjutan berupa Seleksi Psikolgi dan Kesehatan di daerah yang ditunjuk.
- Bagi siswa yang dinyatakan lulus seleksi psikologi dan kesehatan dipanggil ke SMA Taruna Nusantara Magelang untuk wawancara.
- Seluruh biaya transportasi ditanggung peserta.
c. Diberikan kesempatan bagi Calon Siswa yang memenuhi persyaratan kelulusan dan bersedia memberikan Kontribusi Khusus guna pengembangan SMA Taruna Nusantara.
5. Biaya.
a. Calon Siswa dikenakan Biaya.
- Biaya Pendaftaran Rp. 100.000,- (Seratu ribu rupiah).
- Seleksi Lanjutan (Wawancara) di Magelang tidak dikenakan biaya.
- Bagi Calon Siswa yang dinyatakan diterima wajib membayar (untuk TP. 2009/2010) :
- a) Uang Pangkal Rp. 20.000.000,- (Dua puluh juta rupiah).
- b) Iuran Sekolah Rp. 2.500.000,- (Dua juta lima ratus ribu rupiah) per bulan. Biaya sudah termasuk akomodasi, makan dan biaya kegiatan belajar mengajar yang lain.
b. Cara Pembayaran.
- Uang Pendaftaran dibayarkan pada waktu mengambil Formulir Pendaftaran di Panitia Daerah setempat.
- Uang Pangkal dan Uang Sekolah bulan Juli 2009 dibayarkan sesudah mendapat panggilan masuk dan diterima menjadi siswa SMA Taruna Nusantara di Magelang dengan catatan :
- a) Calon siswa dinyatakan gugur diterima karena tidak membawa persyaratan, iuran sekolah bulan Juli 2009 dikembalikan penuh
- b) Bagi Calon siswa yang mengundurkan diri setelah dinyatakan diterima, Iuran sekolah bulan Juli 2009 dikembalikan penuh.
6. Beasiswa.
Pada TP. 2009/2010 SMA Taruna Nusantara menyediakan sejumlah Beassiwa secara terbatas bagi Calon Siswa yang berprestasi tinggi namun Orang Tuanya tidak mampu membayar Iuran Sekolah dan Uang Pangkal.
Persyaratan Beasiswa sebagai berikut :
a. Nilai raport SMP dan yang setingkat semester I s.d. V minimal rata-rata 8 (delapan) untuk mata pelajaran Matematika, IPA, Bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia dan masing-masing pelajaran memenuhi nilai minimal 7,5
b. Para siswa/siswi potensial dan berprestasi namun nilai rata-rata kurang dari 8 (delapan) diberikan kesempatan mengajukan minat untuk mendaftarkan diri menjadi peserta beasiswa dengan rekomendasi dari Kepala Sekolah dan Guru mata pelajaran yang bersangkutan.
c. Tidak pernah tinggal kelas selama mengikuti pendidikan SMP atau setingkat dan lulus tahun ajaran 2008/2009.
d. Mengikuti prosedur Pendaftaran dan Seleksi yang telah ditetapkan.
e. Mengisi Formulir Pengajuan Beasiswa FORM NO : 03-2009.
f. Menyerahkan Daftar Penghasilan Orang Tua (Bapak dan Ibu atau Wali) dan Instansi tempat bekerja atau dari Lurah/Kepala Desa setempat.
g. Menyerahkan Fotokopi Kartu Kelurga dan KTP Orang Tua/Wali.
h. Meyertakan peringkat di Sekolah yang dikeluarkan oleh Sekolah. i. Dinyatakan dapat meperoleh Beasiswa oleh Panitia Penerimaan Calon Siswa Tingkat Pusat.
7. Bagi Calon Siswa yang dinyatakan diterima sebagai Siswa SMA Taruna Nusantara langsung masuk pendidikan.
KATEGORI PENDAFTARAN :
- Pendaftar Calon Siswa SMA Taruna Nusantara TP. 2009/2010 kategori Sanggup Membayar Iuran Sekolah.
-
Pendaftar yang memenuhi persyaratan sesuai Form No. 01-2009.
-
Mengisi Form No. 02-2009.
-
Bersedia dan mampu membayar Uang Pangkal dan Iuran Sekolah sesuai ketentuan LPTTN.
-
Bersedia membayar sumbangan sukarela sesuai kemampuan.
- Kelulusan tidak ditentukan oleh besar kecilnya sumbangan sukarela.
- Calon Siswa yang dinyatakan diterima adalah bagi yang lul
us Test Akademik, Kesehatan, Psikologi, dan Wawancara.
- Pendaftar Calon Siswa SMA Taruna Nusantara TP. 2009/2010 kategori “Kontribusi Khusus”.
-
Pendaftar yang memenuhi persyaratan sesuai Form No. 01-2009.
-
Mengisi Form No. 02A-2009 dan Form No. 04-2009.
-
Bersedia dan mampu memberi Kontribusi Khusus yang besarnya minimal Rp. 50.000.000,- (Lima puluh juta rupiah).
-
Bersedia dan mampu membayar Uang Pangkal dan Iuran Sekolah sesuai ketentuan LPTTN.
-
Calon Siswa yang dinyatakan diterima adalah bagi yang lulus Tes Akademik, Kesehatan, Psikologi, dan Wawancara.
- Kelulusan tidak hanya ditentukan oleh jumlah Kontribusi Khusus yang akan diberikan, tetapi oleh hasil Test Akademik, Kesehatan dan Psikologi dengan standard minimal.
-
- Pendaftar Calon Siswa SMA Taruna Nusantara TP. 2009/2010 dengan kategori Permohonan Memperoleh Beasiswa.
- Pendaftar yang memenuhi persyaratan sesuai Form No. 01-2009.
- Mengisi Form No. 03-2009, Form No. 05-3009 dan Form No. 06-2009.
- Orang Tua Calon Siswa tidak mampu secara ekonomis.
- Calon Siswa yang dinyatakan diterima adalah bagi yang lulus Tes Akademik dengan NILAI BAIK, Kesehatan, Psikologi dan Wawancara.
Keterangan lebih lanjut
Dapat diperoleh di tempat Pendaftaran
LPTTN : Jl. KH. Wahid Hasyim No. 7 Jakarta Pusat 10340 Telp : 021-31905440 Fax : 021-31905409
SMA TN : Jl. Raya Purworejo Magelang 56172 Telp : 0293-364195, Fax : 0293-364047
TEMPAT PENDAFTARAN CASIS SMA TARUNA NUSANTARA TP. 2009/2010
NO. PANDA/SUB PANDA, ALAMAT PENDAFTARAN, NO.TELP.
1. AJENDAM ISKANDAR MUDA, JL. NYAK ADAM KAMIL II NEUSU BANDA ACEH, 0651.26786
2. AJENDAM I/BUKIT BARISAN, JL. BINJAI KM. 7,4, , MEDAN, 061.845300
3. AJENREM 023/KAWAL-SAMUDERA, JL. DATUK ITAM NO. 1, SIBOLGA, 0631.22805
4. AJENREM 031/WIRA BIMA, JL. PERWIRA, PEKANBARU, 0761.21501
5. AJENREM 032/WIRA PRAJA, JL. SAMUDERA NO. 1, PADANG, 0751.23365
6. AJENREM 033/WIRA PRATAMA, JL. SEI TIMUN BATU 14, SANGGRANG TJ. PINANG, 0771.21856
7. AJENDAM II/SRIWIJAYA, JL. URIP SUMOHARJO, SEKOJO, PALEMBANG, 0711.713868
8. AJENREM 041/GARUDA EMAS, JL. PEMBANGUNAN NO. 3, PADANG HARAPAN BENGKULU, 0736.21870.
9. AJENREM 042/GARUDA PUTIH, JL. DR.AK. GANI NO. 3, JAMBI, 0741.23191
10. AJENREM O43/GARUDA HITAM, JL. IR. SUKARNO HATTA, BANDAR LAMPUNG, 0721.701596
11. KODIM 0413/BANGKA, JL. SOLIKIN GP, PANGKAL PINANG, 0717.432004
12. AJENDAM JAYA, GEDUNG WIRAGUNA, JL. KESEHATAN, CIJANTUNG JAKTIM, 08I2.8291032
13. AJENDAM III/SILIWANGI, JL.BOSCHA, BANDUNG, 022.2039645
14. AJENREM 064/MAULANA YUSUF, JL. MAULANA YUSUF, SERANG. 0254.200208
15. AJENDAM IV/DIPONEGORO, JL. P. KEMERDEKAAN, WATUGONG SEMARANG, 024.7472249
16. AJENREM 072/PAMUNGKAS, JL. RING ROAD BARAT, DEMAK IJO YOGYAKARTA, 0274.566325
17. AJENDAM V/BRAWIJAYA, JL. BELAKANG RUMKIT SAIFUL-ANWAR, MALANG, 0341.366159
18. AJENDAM VI/ TANJUNG. PURA, JL. JENDERAL SUDIRMAN 10, BALIKPAPAN, 0542.425342
19. AJENREM 101/ANTASARI, JL. TENDEAN NO. 60, BANJARMASIN, 0511.3252141
20. AJENREM 121/ABW, JL. ADI SUCIPTO KM. 6, PONTIANAK, 0561.7009027
21. AJENREM 102/PANJUNG, JL. IMAM BONJOL NO. 5, PALANGKARAYA, 0536.21578
22. AJENDAM VII/WIRABUANA, JL. GARUDA NO. 3, MAKASAR, 0411.5056298
23. AJENREM 131/SANTIAGO SARIO, NJL. A. YANI NO 19, MANADO0431.851450
24. AJENREM 132/TADULAKO, JL. JENDERAL SUDIRMAN 25, PALU, 0451.421514
25. AJENREM 143/HALO ILIO, JL. DRS. ABDUL SILANDAI 41, KENDARI, 0401.321262
26. AJENDAM XVII/CENDRAWASIH, JL. DIPONEGORO UJUNG, JAYAPURA, 0967.533854
27. AJENREM 171/SORONG, JL. PRAMUKA NO 1, SORONG, 0951.325754
28. AJENREM 173/BIAK, JL. MOJOPAHIT NO. 9, TRIKORA I BIAK, 0981.21670
29. AJENREM 174/MERAUKE, JL. RAJAMANDALA, MERAUKE, 0971.321707
30. AJENDAM XVI/PATIMURA, JL. AJEN NO. 1, AMBON, 0911.313537
31. AJENDAM IX/UDAYANA, JL. PANG. BESAR SUDIRMAN, DENPASAR, 0361.228007
32. AJENREM 161/KUPANG, JL. TOMPELO NO. 2, KUPANG, 0380.821072
33. AJENREM 162/MATARAM, JL. MALOMBA AMPERAN, MATARAM, 0370.621273
35. AJENREM 152/BABULLAH, JL. AM. KOMARUDDIN NO.1, TERNATE, 0921.3121075
35. KODIM 1304/GORONTALO, JL.JENDERAL A. YANI, GORONTALO, 0435.821056
Partai Politik Wajib Memberikan Pendidikan Politik Kepada Rakyat
Usia Republik ini sudah 63 tahun. Sepanjang sejarahnya, telah dilaksanakan pemilu sebanyak sembilan kali yaitu pemilu pada tahun 1955, 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, 1997, 1999, dan 2004. Akan tetapi, banyak yang mengatakan bahwa pemilu di Republik ini belum berkualitas karena rakyat dianggap masih belum melek politik.
Dari literatur sejarah kita mendapatkan pencerahan bahwa pemilu pada tahun 1955 merupakan pemilu paling demokratis di negeri ini. Setelah itu, pemilu turun kualitas demokrasinya. Kita tentu ingat pada awal Orde Baru berkuasa, pemerintah menyederhanakan sistem kepartaian di negara ini. Jumlah partai dibatasi jumlahnya hanya menjadi dua saja, yaitu Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia ditambah sebuah Golongan Karya. Yang disebut terakhir bukan merupakan partai politik tetapi diperbolehkan mengikuti pemilu. Sebuah kebijakan yang aneh.
Selama 32 tahun kekuasaan Orde Baru, rakyat Indonesia dijauhkan dari politik. Politik sebagai panglima yang dijalankan oleh pemerintahan lama digantikan dengan ekonomi sebagai panglima. Penjauhan rakyat dari politik dimaksudkan untuk menciptakan stabilitas nasional. Bahkan, selama 32 tahun kekuasaan Orde Baru, hasil pemilu sudah diplot sedemikian rupa sehingga di setiap pemilu urutan hasil pemilu tidak pernah berubah, selalu saja Golkar, PPP baru PDI. Selama itu pun, baik pemerintah maupun partai politik tidak memberikan pendidikan politik kepada rakyat. Sebagian besar rakyat dibiarkan tetap sebagai massa mengambang.
Menyusul runtuhnya Orde Baru, keran politik dibuka lagi selebar-lebarnya sehingga partai politik bermunculan seperti cendawan di musim hujan. Sayangnya, banyaknya partai politik tersebut belum berbanding lurus dengan tingkat kemelekan politik rakyat. Banyaknya partai politik terjadi karena pemain lama berlomba-lomba mendirikan partai politik baru, bukan karena besarnya kesadaran rakyat untuk ikut berpolitik.
Pembelengguan politik selama 32 tahun telah membuat rakyat menjadi apolitik. Tentu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk kembali membangkitkan kesadaran politik rakyat. Partai politik sebagai pemain di barisan terdepan memiliki kewajiban untuk memberikan pendidikan politik bagi rakyat. Pemerintah harus memfasilitasi pendidikan politik tersebut melalui penyisipan materi pendidikan politik di kurikulum pendidikan nasional. Tujuan dari pendidikan politik tersebut adalah agar rakyat menjadi subyek politik, menjadi pemain-pemain utama dalam pentas perpolitikan nasional, bukan seperti yang diklaim selama ini bahwa rakyat hanyalah obyek politik. Rakyat baru disertakan dalam kegiatan politik setiap menjelang pemilu. Kita tentunya ingin mengubah hal tersebut.
Universitas Kita, Perguruan Tinggi Atau Perguruan Tinju?
Pada saat kecil dulu, saya membayangkan bahwa Perguruan Tinggi adalah sebuah lembaga keilmuwan tingkat tertinggi di mana ilmu pengetahuan selalu diperkaya dan intelektualitas selalu diasah dan dikedepankan. Gelar para pencari ilmu pun sangat terhormat, mahasiswa.
Entah mengapa, saat kecil dulu saya berpikir bahwa tidak semua orang akan bisa masuk ke perguruan tinggi. Hanya mereka yang memiliki tingkat kepandaian dan kecerdasan tinggi saja yang dapat menuntut ilmu sebagai mahasiswa. Yang tidak dapat meneruskan menuntut ilmu di perguruan tinggi akan bekerja mencari nafkah dengan bekal ilmu sampai tingkat menengah atas atau yang sederajad.
Saat ini, pikiran saat kecil itu terlintas kembali. Perguruan tinggi haruslah dihuni oleh mereka yang haus akan ilmu pengetahuan. Mereka yang serius menuntut ilmu dan mengembangkannya. Mereka yang mengedepankan intelektualitas dalam memecahkan setiap persoalan yang dihadapi. Bukan mereka yang mengedepankan kekuatan otot dan kekerasan. Perguruan tinggi tidak pernah mengajarkan kuda-kuda, pukulan, tendangan atau jurus-jurus beladiri. Perguruan tinggi tidak pernah mengajarkan cara melempar batu kepada orang lain.
Dalam waktu kurang dari dua minggu ini, kita sudah disuguhi berita tawuran antarmahasiswa. Yang pertama di Jakarta. Mahasiswa sebuah perguruan tinggi tawuran dengan mahasiswa dari dua perguruan tinggi yang lain. Berita yang paling hangat adalah tawuran mahasiswa di Makasar.
Saya semakin heran. Apakah akhir-akhir ini ada perubahan kurikulum di perguruan tinggi? Apakah para dosen sudah mengajarkan kuda-kuda, pukulan, tendangan dan jurus-jurus beladiri?
Saya dulu sangat mengecam kekerasan para praja STPDN karena menurut saya, segala bentuk kekerasan di dalam dunia pendidikan sangat tidak layak untuk ada. Oleh karena itu, saya pun mengecam para mahasiswa yang hobi tawuran dan hobi melakulkan kekerasan. Sungguh, saya kembali berpikir bahwa perguruan tinggi tidak perlu menampung semua lulusan sekolah menengah atas. Hanya mereka yang serius mencari ilmu dan mengembangkan ilmu serta mereka yang mengedepankan intelektualitaslah yang berhak menyandang gelar mahasiswa.
Bagaimana menurut Anda?
Mengira-ira Potret Pendidikan Dengan Alokasi APBN 20 Persen
Pemerintah pusat sudah berkomitmen untuk mengalokasikan anggaran untuk pendidikan pada APBN 2009 sesuai dengan amanat UUD, yaitu 20%. Tentu saja hal tersebut merupakan berita bagus buat kita semua. Bagus karena Pemerintah RI tidak lagi melanggar UUD dan bagus karena kita boleh menaruh harapan pada peningkatan pendidikan kita. Oleh karena itu, marilah kita mengira-ira potret pendidikan kita di tahun 2009 nanti akan seperti apa.
Tahun depan, belanja negara diprediksi akan mencapai Rp1.222,2 trilyun. Dengan alokasi anggaran sebesar 20% maka sektor pendidikan akan mencapai Rp178 trilyun. Di luar itu, pemerintah juga sudah menyanggupi untuk menambah anggaran sebesar Rp46,1 trilyun untuk peningkatan kesejahteraan guru dan dosen. Di atas kertas, angka-angka tersebut di atas sangat menjanjikan.
Kesejahteraan guru dan dosen
Selama ini kita melihat bahwa guru dan dosen merupakan profesi yang kurang dihargai. Gaji, honor dan tunjangan guru dan dosen begitu rendahnya sehingga guru dan dosen sebenarnya hanya nyambi mengajar karena mereka harus mencukupi kebutuhan hidupnya dari penghasilan yang lain seperti bertani/berkebun, menjadi guru les, menjadi konsultan/main proyek dan bahkan di Jakarta ada guru yang sepulang mengajar mencari uang sebagai tukang ojek. Kita patut menangis menyaksikan drama kehidupan yang seperti itu. Di satu sisi guru dituntut untuk selalu meningkatkan kapasitas dan kompetensinya tetapi di sisi lain, untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya saja dia harus bekerja dalam berbagai profesi. Dalam keadaan seperti itu, kita tidak pantas mengharapkan guru hanya berkonsentrasi pada profesinya sebagai pengajar karena kita harus memaklumi mereka bekerja dalam profesi yang lain untuk dapat mencukupi kebutuhannya.
Komitmen pemerintah untuk menambah anggaran peningkatan kesejahteraan guru dan dosen pada tahun 2009 sebesar Rp46,1 trilyun memberikan secercah harapan bagi kita semua. Mudah-mudahan guru dan dosen akan lebih sejahtera sehingga mereka dapat meningkatkan kapasitas dan kompetensi mereka sehingga kita boleh berharap bahwa guru dan dosen akan semakin berkualitas dan turunannya adalah generasi penerus bangsa yang juga semakin berkualitas.
Rp178 trilyun Harus Kita Awasi
Anggaran pendidikan pada RAPBN 2009 sebesar Rp178 trilyun harus kita awasi penggunaannya. Sebagai warga negara kita berhak untuk tahu alokasi anggaran itu digunakan untuk apa saja. Jangan sampai, anggaran itu menjadi proyek-proyek sarat korupsi yang tidak menyentuh substansi usaha pemerataan dan peningkatan mutu pendidikan di negara kita.
Sebentar, dari kalimat terakhir pada paragraf di atas saya justru memiliki pertanyaan mengenai rencana bidang pendidikan ke depan, apakah pemerataan atau peningkatan kualitas yang akan diprioritaskan?
Bagi saya sendiri, pendidikan harus merata dan berkualitas. Warga negara harus mudah untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Buat apa mudah mencari sekolah tetapi sekolah tersebut tidak memiliki sarana dan prasarana yang memadai, termasuk memiliki tenaga pengajar yang berkualitas.
Kalau boleh mengira-ira, tahun depan Depdiknas saya rasa akan meningkatkan kualitas dan penetrasi pendidikan berbasis teknologi informasi yang sudah pada tiga tahun terakhir ini terus dibangun infrastrukturnya oleh Depdiknas melalui kegiatan-kegiatan pengembangan e-learning dan penyediaan BSE. Porsi kegiatan berbasi TIK ini tentu akan semakin meningkat pada tahun depan.
Kalau boleh saya kritisi, e-learning dengan konten terintegrasi di pusat data Depdiknas hanya akan dinikmati oleh sekolah-sekolah di kota besar yang telah memiliki infrastruktur internet yang handal. Di daerah-daerah di mana saluran telepon PSTN saja tidak lagi dikembangkan oleh PT Telkom yang lebih memilih mengembangkan telepon nirkabel (FWA), mengakses konten e-learning merupakan suatu kemewahan yang sangat sulit dijangkau. Oleh karena itu, apabila program e-learning akan dilanjutkan, Depdiknas perlu memikirkan untuk mendistribusikan konten e-learning ke sekolah-sekolah. Belum saatnya konten e-learning terpusat di Depdiknas melainkan harus terdistribusi ke tingkat sekolah. Untuk mencapai itu pun, Depdiknas harus memperluas penetrasi komputer ke sekolah-sekolah. SMP dan SMA/SMK wajib memiliki komputer minimal 3 laboratorium masing-masing untuk setiap jenjang kelas.
Sebenarnya, jujur saja, saya lebih menyukai apabila pemerintah menyediakan buku-buku pengantar gratis seperti yang pada tahun 1970-an sampai 1980-an dipenuhi melalui buku-buku Balai Pustaka. Maraknya komersialisasi pendidikan melalui penjualan buku-buku penunjang kegiatan belajar oleh para penerbit swasta makin mempermahal biaya pendidikan. Teorinya, buku-buku itu dapat dipakai sampai beberapa tahun tetapi prakteknya, buku yang diterbitkan setiap tahun berbeda, minimal pada penempatan halaman. Akibatnya, murid dipaksa untuk selalu membeli buku baru. Hal semacam ini sangat tidak bermoral dan tidak beretika. Para penerbit swasta telah menodai tujuan negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan pemerintah sebagai regulator tertidur lelap sehingga tidak mampu dengan memperbaiki penyimpangan yang terjadi.
Potret Pendidikan 2009
Pada intinya, pada tahun 2009 saya mengira alokasi anggaran pendidikan untuk kegiatan berbasis TIK akan memiliki tingkat pertumbuhan tertinggi. Saya hanya baru bisa mengira-ira karena belum memegang satuan anggarannya. Akan tetapi, pesan yang ingin saya sampaikan adalah agar anggaran itu tidak berhenti sampai kegiatan orang-orang pusat yang tidak menyentuh kebutuhan sebenarnya dari daerah. Saya sendiri pernah menemukan di beberapa SMK di Bantul, komputer yang diturunkan dari pusat dan sudah tiga tahun masih tersimpan rapi di kardus. Begitu pula alat-alat laboratorium fisika yang sudah dua tahun masih rapi tersimpan di kardus. Persoalannya sepele, sekolah-sekolah yang menerima komputer atau peralatan laboratorium itu tidak tahu cara memakai perangkat-perangkat tersebut. Secara anggaran, kegiatan sudah dieksekusi dengan sukses tetapi kegiatan itu merupakan kegiatan yang mubazir karena daerah tidak dapat memanfaatkannya. Tentu kita tidak ingin anggaran yang begitu besar disia-siakan hanya untuk meng-entertain nafsu proyek pejabat-pejabat Depdiknas.
Kelompok Eksklusif Anak-anak Elit Jakarta di SMA Taruna Nusantara
SMA Taruna Nusantara Magelang merupakan sekolah yang didirikan atas prakarsa almarhun Jendral LB Moerdani pada tahun 1980-an. Sekolah itu menerima siswa pertamakali pada tahun 1990. Sesuai salah satu wawasan yang diajarkan di sekolah berasrama itu, yaitu wawasan kenusantaraan, semua siswa berasal dari seluruh provinsi yang ada di nusantara. Saat itu masih 27 provinsi sehingga dari 281 siswa angkatan pertama, ada perwakilan dari setiap provinsi.
Saya masih ingat nama dari tiga teman saya yang berasal dari Timor Timur. Mereka adalah Virgilio, Jaulino dan Adelino. Nama belakang mereka samar-samar di kepala saya. Kalau tidak salah Virgilio Da Costa, Jaulino Da Costa Pinto. Untuk Adelino, saya tidak ingat sama sekali. Baca entri selengkapnya »
14 Juli 1990
Pagi hari itu, Sabtu 14 Juli 1990, saya menjadi bagian dari 281 anak Indonesia yang berasal dari seluruh penjuru nusantara (27 provinsi waktu itu) yang dilantik menjadi siswa SMA Taruna Nusantara Magelang melalui sebuah Upacara Prasetya Siswa. Upacara dipimpin oleh Panglima ABRI waktu itu, Jenderal TNI Try Sutrisno.
Perasaan saya waktu itu bercampur aduk. Saya sangat gembira karena hari-hari yang melelahkan selama proses seleksi untuk menjadi siswa SMA Taruna Nusantara telah berhasil saya lalui dengan baik. Saya sangat mengingat momen-momen seleksi itu. Yang pertama adalah seleksi administrasi yang dilakukan di Kodim Sleman. Saya harus mengambil berkas administrasi pendaftaran lalu mengisinya dan melengkapi semua persyaratan yang ada. Ada fotokopi rapor SMP dari semester 1 sampai semester 5, ada Surat Ijin Orang Tua, SKKB, Surat Keterangan Sehat dari Puskesmas. Saya mencari sendiri semua yang saya butuhkan, mulai dari RT, RW, Dukuh, Lurah, Kecamatan, Koramil, Polsek, Polres untuk SKKB. Ke Puskesmas untuk periksa kesehatan. Lalu, saya mengembalikan berkas administrasi pendaftaran itu ke Kodim seorang diri tanpa disertai oleh orang tua. Di sana ada pemeriksaan gigi oleh dokter gigi muda yang cantik. Setelah itu, yang perlu saya lakukan hanyalah menunggu surat panggilan dari Kodim. Kalau lulus seleksi administrasi, saya akan dikirimi surat panggilan.
Musyawarah Nasional Ikatan Alumni SMA Taruna Nusantara Tahun 2008
SMA Taruna Nusantara Magelang meluluskan alumninya untuk pertama kali pada tahun 1993. Sebanyak 275 siswa dari 281 siswa — yang dilantik pada tanggal 14 Juli 1990 melalui upacara Prasetya Siswa yang dipimpin oleh Panglima ABRI Jend. TNI Try Soetrisno sebagai Inspektur Upacara — dilantik menjadi alumni melalui sebuah upacara Prasetya Alumni. 275 alumni pertama siap terjun ke masyarakat untuk melanjutkan pendidikan atau bekerja. Kini, pada 21 Juni 2008 yang lalu, SMA Taruna Nusantara kembali melakukan upacara Prasetya Alumni untuk angkatan ke 16. Tidak terasa sudah 16 angkatan diluluskan oleh SMA Taruna Nusantara Magelang.
Pada tahun 1994, setahun setelah lulus, para alumni Angkatan I SMA Taruna Nusantara memelopori berdirinya sebuah ikatan alumni yang diberi nama Ikatan Alumni SMA Taruna Nusantara yang disingkat IKASTARA. Sepanjang sejarah berdirinya, IKASTARA telah memiliki dua Ketua Umum yaitu Anang Kurniawan Hanudji (alumnus Angkatan I) dan Takwa Fuadi Samad (alumnus Angkatan II). Kedua Ketua Umum IKASTARA itu menjabat dalam dua periode masa jabatan. Sebagaimana pasal mengenai jabatan presiden di Republik Indonesia, maka Ketua Umum IKASTARA maksimal hanya boleh dijabat selama 2 kali berturut-turut dan setelah itu alumnus yang bersangkutan tidak boleh lagi mencalonkan diri.
Pada 28 Juni 2008 yang akan datang, IKASTARA akan melaksanakan Musyawarah Nasional V untuk menerima laporan Pertanggungjawaban Ketua Umum periode 2005 – 2008, mengubah AD/ART dan memilih Ketua Umum periode 2008 – 2011. Ada tiga alumni SMA Taruna Nusantara yang telah ditetapkan menjadi Calon Ketua Umum yang berhak untuk dipilih pada Munas nanti yaitu:
- Dr. Agung Wicaksono, M.Sc. MBA, alumnus Angkatan III
- dr. Herbert Situmorang, SPOG, alumnus Angkatan II
- Syarif Syahrial, SE, MSE, Alumnus Angkatan V
Kursus Blog Benteng Cisadane 11 Mei 2008
Alhamdulillah wa syukurilah pada hari Minggu kuturut ayah ke kota 11 Mei 2008 Komunitas Bloger Benteng Cisadane telah dengan sukses mengadakan acara pelatihan blog yang diberi nama Kursus Blog Benteng Cisadane. Jadi, KBBC mengadakan KBBC. Ancuurrrr…. namanya! Siapa sih yang ngusulin? (wakakaka…).
Kursus Blog Benteng Cisadane dilaksanakan di Multiplus Ki Samaun di Jl. Ki Samaun 169 – Tangerang. Warnet di sana kita booking untuk sehari penuh khusus untuk memfasilitasi pelatihan blog. Kami tidak mengejar kuantitas melainkan kualitas. Dengan memberi setiap PC dihadapannya diharapkan mereka akan memiliki pengalaman ngeblog yang sesungguhnya yang pada gilirannya nanti (diharapkan lagi) akan memberikan mereka gairah untuk terus merawat blognya. (bahasanya kayak pejabat)
Acara dibagi menjadi 3 sesi dengan rencana tiap sesi pesertanya sebanyak 10 orang. Sesi I Pukul 10:00 – 12:00, Sesi II Pukul 13:00 – 15:00 dan sesi III Pukul 15:30 – 17:30. Saya kebagian menjadi fasilitator untuk sesi II bersama Anggara yang memberikan pengenalan singkat mengenai blog dan pentingnya informasi. Selesai membuat blog, membuat posting dan mengedit halaman about, peserta dilatih mengenai cara memberikan komentar. Peserta diminta untuk praktek memberi komentar di sini. Layanan blog yang dipakai adalah DagDigDug. Kami mengedepankan layanan blog dalam negeri. Apalagi DagDidDug memberi souvenir, makin mantaplah rasanya untuk melatih mereka ngeblog di DagDigDug.
Materi pelatihan dibuat oleh Away. Tips Ngeblog Ala KBBC dibuat oleh Ajo.
Ada kejadian lucu saat saya mengajari mereka untuk membuat blog di DagDigDug. Karena sebelumnya mereka sudah sering berinternet, saya berasumsi mereka punya email. Lagipula, ketika mendaftar melalui formulir pendaftaran di BlogerBenteng.Com mereka pun mencantumkan alamat email. Nah, email tersebut kita pergunakan untuk mendaftar di DagDigDug. Nggak tahunya, ketika mau cek email,… username yang menjadi alamat email belum ada. Gubrak! brang! breng!brong! gludak! gluduk!!! Dengan penuh rasa kebapakan (halah) saya arahkan mereka untuk membuat email lagi sesuai dengan yang mereka pergunakan untuk mendaftar di DagDigDug. Betapa bodohnya saya, bukankah dagDigDug sudah mengirim email ke alamat email yang belum tersedia sebelumnya? Akibatnya, walaupun di-refresh berulang-kali, tetap tidak ada email yang masuk. Nah, Saudara-saudara, kebodohan dimulai lagi. Saya minta mereka membuat username baru di DagDigDug. Tahukah apa yang terjadi?
Naskah Soal Seleksi Akademik Calon Siswa SMA Taruna Nusantara TP 2007/2008
Sesuai janji saya, naskah soal sudah saya pindai dan unggah ke server. Servernya Geocities, sih!
Selanjutnya naskah soal tahun 2007 itu saya gabung dengan soal-soal yang sebelumnya sudah ada dan saya sediakan taut untuk mengunduh soal-soal itu di halaman Soal Seleksi SMA TN. Yang berminat silakan mengunduh dari halaman tersebut.
Sedikit kekurangan pada bundel soal tes kemampuan logika (matematika) tahun 2007 adalah halaman 2 tidak ada. Bundel soal yang saya peroleh ternyata mencetak halaman 1 sebanyak 2 kali sehingga halaman 2 pada bundel soal tersebut hilang. Saya yakin soal matematika pada bundel soal tahun-tahun sebelumnya dapat menggantikan sekitar 10 soal yang hilang dari bundel soal matematikan tahun 2007.
Selamat berlatih!
Berguru Kepada Murid
Saya yakin, yang seperti ini tidak akan terjadi di Indonesia. Guru tidak akan pernah berguru kepada murid. Murid pasti berguru kepada guru. Begitulah hukum menuntut ilmu di Indonesia. Selama Pak Madi masih menjadi ayah Budi dan Wati masih saja menjadi kakak Budi, maka pendidikan di Indonesia ya hanya akan menghasilkan generasi seperti saya ini. Selain itu, guru akan selalu merasa lebih mengerti dan lebih pintar daripada murid. Padahal, kenyataannya zaman terus berubah. Murid-murid mengikuti perubahan zaman sedangkan guru-guru tetap saja dengan tradisi dan pemikiran kolotnya. Hehehe… maaf ya, Kangguru, Pak Sawali dan Kang Ceking.
Sayangnya, saya tidak akan menceritakan mengenai keadaan di dalam batas wilayah geografis Indonesia. Walopun tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita ini asalnya juga dari Indonesia. Lah, kok bisa Kang? Ya bisa saja. Wong yang nulis cerita ini saya kok.
Alkisah ada sebuah negara di sekitar Kepulauan Nusantara yang merdeka bukan karena perjuangan mengusir penjajah melainkan diberi kemerdekaan oleh penjajah. Bahkan, selain diberi kemerdekaan, negara itu juga disusui sebagai bagian dari sebuah persemakmuran. Meskipun dijajah oleh sebuah penjajah yang beraliran imperialisme modern, negeri baru ini tidak memiliki putra-putri negeri yang berkualitas untuk membangun kecerdasan penduduknya. Maka sejarah mencatat begitu banyak anak-anak Nusantara yang berprofesi sebagai guru diperbantukan ke negara yang baru merdeka itu. Sampai tahun 1980-an banyak putera-puteri negara itu yang menimba ilmu di padepokan-padepokan tinggi di Nusantara (terutama di Jawa Dwipa). Bahkan, bukan hanya bidang pendidikan saja yang diperbantukan kepada negara baru itu. Negara baru yang tidak memiliki perusahaan pertambangan minyak itu pun diberi kesempatan belajar kepada perusahaan minyak milik nusantara. Segala macam tetek bengek bisnis perminyakan sampai dengan pembuatan kontrak-kontrak pun diajarkan.
Dunia berubah. Ya, itu adalah keniscayaan. Perubahan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Semua hal pasti berubah. Hubungan negeri yang baru merdeka dengan nusantara pun berubah. Negeri itu kini lebih maju dari nusantara. Perekonomiannya lebih maju dari nusantara. Perusahaan pertambangan minyaknya lebih besar dari perusahaan pertambangan minyak nusantara. Pendidikannya pun lebih maju dari pendidikan di nusantara. Semuanya telah berbalik sekarang. Negeri yang dulu diajari oleh nusantara kini menjadi tujuan belajar anak-anak nusantara. Sudah banyak anak-anak yang berasal dari Swarna Dwipa yang bebas fiskal untuk berkunjung ke negeri itu yang meneruskan belajar di padepokan-padepokan tinggi di sana. Bahkan, banyak pula sarjana-sarjana kita yang mencari gelar lebih tinggi di negeri itu. Tak kurang, Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra pun memiliki gelar dari padepokan tinggi negeri itu. Hehehe… sedulur saya dari kampus ndeso ini pun juga sedang ngangsu kawruh di negeri itu. Padahal, di kampus ndeso itu dulu banyak putera-puteri dari negeri itu yang menimba ilmu.
Saat ini guru sudah belajar dari murid. Bisa jadi fenomena ini merupakan sebuah sunnatullah. Guru yang merasa selalu lebih pandai dari murid tidak pernah mendapatkan ilmu-ilmu baru karena dia belajar dari guru-guru yang sudah mati dan kitab-kitab kuno yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Sedangkan, si murid selalu haus ilmu sehingga selalu mencari guru-guru yang lain untuk diserap ilmunya. Hasilnya, pendidikan di negeri sang murid menjadi lebih maju daripada pendidikan di negeri sang guru alias nusantara. Dan, berbondong-bondonglah anak-anak nusantara untuk ngangsu kawruh di sana.
Mau tidak mau kita harus mengakui bahwa negeri itu, terlepas dari sukanya mematenkan apa-apa milik nusantara, memang lebih maju dari nusantara. Mereka bisa bergerak ke depan sedangkan nusantara ini bergeming di tempatnya. Nusantara ini jalan di tempat terlalu lama dan saat ini semakin tenggelam karena tanah yang dijejaki terus semakin amblas. Entahlah… apakah nusantara bisa dibangkitkan lagi setelah anak-anak nusantara kembali dari berguru di negeri itu. Atau, jangan-jangan mereka tidak akan pernah kembali dan memilih untuk memajukan negeri itu daripada memajukan nusantara dengan resiko kesejahteraan hidup yang lebih rendah.
Mestinya, guru-guru di sekolah-sekolah di Indonesia mau untuk mulai belajar dari murid-muridnya. Paling tidak, mereka mau mempelajari bahwa murid-murid itu tidak hanya perlu diajari ilmu-ilmu kuno yang tidak perlu diajarkan melainkan sebaiknya diisi dengan ilmu-ilmu baru yang bermanfaat untuk membangun nusantara pada saatnya.
Tak terperi luka di hati melihat betapa bangsa ini semakin lama semakin membusuk saja.