Archive for the ‘Kesehatan’ Category
Wasir
Wasir. Ya wasir yang itu. Ada juga yang menyebut dengan ambeien. Bahasa Pak/Bu Dokter menyebut hal itu dengan hemorrhoid.
Konon wasir itu merupakan pembengkakan pembuluh darah. Seperti varises tetapi tempatnya di sekitar anus. Ada dua macam wasir, yaitu wasir luar dan wasir dalam. Wasir luar benjolan akibat pembengkakan pembuluih darahnya ada di luar anus. Sedangkan wasir dalam terjadi di dalam lubang anus. Pada penderita wasir dalam, kadang-kadang wasir harus didorong kembali ke dalam.
Ada beberapa penyebab wasir. Di antaranya adalah: (1) suka mengejan / ngeden pada saat buang air besar, (2) terlalu lama duduk di kursi setiap hari (3) terlalu lama duduk di kloset duduk, mungkin sambil baca koran/majalah/novel dan (4) makanan / pola makan yang kurang serat (5) sering memberi tekanan pada perut (misal fitnes) Baca entri selengkapnya »
Obat Kencing Manis Dari Biji Alpukat
Ibu saya adalah penderita Diabetes Mellitus atau yang disebut penyakit kencing manis. Penyakit ini tidak dapat disembuhkan. Penderita Diabetes Mellitus harus mengontrol makanannya agar kadar gula selalu bagus.
Pada hari Sabtu kemarin ada teman almarhum bapak yang melayat. Istri beliau juga penderita Diabetes Mellitus. Bahkan kadar gula darahnya pernah mencapai 400. Beliau bercerita mengenai obat alternatif untuk Diabetes Mellitus dengan menggunakan biji alpukat.
Obat Diabetes Mellitus dengan Biji Alpukat
Cara membuat:
1. Biji alpukat diiris tipis-tipist
2. Irisan biji alpukat dijemur sampai kering
3. Irisan biji alpukat uyang sudah kering disangrai (orang Jawa bilang digoreng sangan) seperti membuat kopi.
4. Irisan biji alpukat yang sudah disangrai diblender sampai lembut.
5. Masukkan bubuk biji alpukat hasil memblender ke kulit kapsul yang dapat dibeli di apotek.
6. Minum kapsul biji alpukat satu kali sehari.
Demikian informasi yang saya rekam dalam memori saya. Apabila ada yang memiliki resep obat lain bagi Diabetes Mellitus silakan ikut berbagi melalui formulir komentar.
Bagaimana Mengatasi Asam Urat dan Trigliserida Tinggi?
Kemarin saya melakukan tes darah untuk menambah diagnosis terhadap penyebab suka marah-marah hipertensi saya. April tahun 2007 yang lalu, ketika tekanan darah saya mencapai 160/110, semua indikator berada dalam tingkat normal. Dokter mengatakan bahwa naiknya tekanan darah saya bukan diakibatkan oleh sesuatu dari dalam tubuh saya. Mungkin ada lelembut bawa pompa dan memaksa jantung saya memompa darah kuat-kuat dengan volume darah sebanyak-banyaknya. Halah… omongan ngawur!
Hasil tes darah kemarin adalah:
- Trigliserida tinggi (kalau tidak salah 189, normalnya < 150)
- Asam urat (uric acid) tinggi. Kadar asam urat saya 9,5 padahal seharusnya < 7
- Kekentalan darah meningkat
Tekanan darah saya Senin kemarin adalah 160/90 dan 150/90. Dokter mengukur dua kali dengan selang waktu sekitar lima menit.
Saya diberi:
- Captopril 12,5mg untuk tekanan darah saya
- Zuloric 100mg untuk asam urat saya
- Therodon untuk memusnahkan sakit kepala saya. Yang ini hanya diminum jika sakit kepala.
Selamat Jalan Ijal
Pukul 04.39 WIB ada panggilan di telepon genggam saya. Panggilan itu tidak terangkat karena saya sedang di air. Istri saya bilang sekitar pukul setengah dua juga ada panggilan dari teman saya, Nasip. Panggilan itu tidak diangkat oleh istri saya karena saya baru tertidur sekitar pukul satu lepas tengah malam. Saya baru saja terlelap dan istri saya tidak sampai hati membangunkan saya.
Pas Shubuh saya telpon Kisdiyanto yang menelpon saya pukul setengah empat. Dari operator mendapat tanggapan bahwa telepon berada di luar servis area. Saya panggil nomor telpon Nasip, sama juga. Saya panggil nomor rumah Kisdiyanto dan diangkat oleh istrinya. Saya tanyakan di mana Pak Kis dan dijawab bahwa Pak Kis ada di rumah Nasip.
“Ada apa?”
“Anak Pak Nasip meninggal.”
“Meninggal? Siapa?”
“Saya juga nggak jelas, Mas, karena selsai menerima telpon tadi Mas Kis langsung ke tempatnya Pak Nasip. Entah yang pertama entah yang mana.”
“Ya sudah, kalau begitu saya akan ke sana saja.”
Hipertensi
Kang Kombor ini memiliki silsilah yang bagus. Mbah Kakung (dari bapak), Bapak, dan Kangmas semuanya diberkahi bludreg alias darah tinggi alias hipertensi. Mbah Kakung meninggal tidak lama setelah terjatuh di kamar mandi. Kemungkinan Mbah Kakung terkena stroke pada saat siram. Alhamdulillah, bapak, kangmas dan saya masih diberi izin menghirup oksigen sampai detik tulisan ini dibuat.
Eh.. Kang Kombor belum nyebutin kalau Kang Kombor juga punya bludreg ya? Maaf deh!
Bludreg sejak kuliah
Seminggu Tanpa Rokok, Aku Baik-baik Saja
Jumat malam tanggal 15 Juni 2007, Kang Kombor pandangi bungkus Surya 16 di tangan Kang Kombor. Isinya tinggal satu batang lagi. Sudah pukul 23 lewat dan semua warung di kompleks Kang Kombor sudah tutup. Kang Kombor malas untuk mengeluarkan motor dan menyambangi warung rokok di dekat pos polisi yang jaraknya sekitar 1 km. “Hmm… nggak usah beli rokok deh. Nggak malam ini dan nggak besok pagi.”
Terus-terang, setiap pagi Kang Kombor selalu sarapan rokok. Sebelum kerongkongan ini dibasahi air putih, asap rokok sudah memenuhi mulut lalu dihisap ke hidung dan dikirim ke paru-paru. Aroma tembakau dan cengkeh yang harum ditambah paduan rasa gurihnya menyuntikkan asap kental yang konon berisi ribuan racun ke dalam saluran pernafasan Kang Kombor. Sepagian Kang Kombor bisa menghabiskan minimal tiga batang rokok. Sebatang saat bangun tidur. Sebatang saat BAB alias buang air besar dan sebatang lagi saat manasin mesin Avanza kantor.
Akan tetapi, Sabtu pagi tanggal 16 Juni 2007 suasananya sangat lain. Kang Kombor bangun pagi langsung mencari gelas, mengisinya dengan air putih dan meminumnya. Lalu Kang Kombor duduk di depan televisi, mirsani berita. Tidak ada kepulan asap rokok yang biasanya membuat pengap udara di dalam rumah yang ventilasinya seperti tidak berfungsi. Maklum, RSS yang murah meriah.
Hari Sabtu itu Kang Kombor lalui tanpa rokok. Kang Kombor tidak lemas. Kang Kombor tidak aras-arasen. Kang Kombor juga tidak menjadi tumpul pikiran atau kehilangan konsentrasi. Semuanya tetap dalam kendali.
Kalau mau dihitung, hari ini adalah hari ketujuh Kang Kombor tidak merokok. Sudah seminggu! Ternyata waktu cepat sekali berlalu. Rasanya baru kemarin Kang Kombor menikmati hari Sabtu di rumah tanpa asap tembakau. Menikmati hari-hari tanpa berhala itu di antara dua jari Kang kombor atau di antara dua bibir Kang kombor. Ternyata Kang kombor baik-baik saja. Kang Kombor masih bisa konsentrasi bekerja. Kang Kombor masih bisa memeras otak untuk memecahkan masalah-masalah operasional di kantor yang selalu saja ada setiap hari. Kang Kombor masih bisa mengganggu teman-teman seperti hari-hari biasa.
Memang ada gangguan. Teman kantor yang biasanya melihat Kang Kombor merokok segera menawari rokok karena melihat tidak ada bungkus rokok di meja Kang Kombor dan dia tidak melihat Kang Kombor duduk manis di depan layar notebook sambil menghisap rokok. Ada pula teman yang selalu mengganggu dan merecoki agar Kang Kombor mau merokok. Akan tetapi, Kang Kombor tolak semua itu dengan tegas, “Maaf, ini hari ketiga saya tidak merokok.” “Maaf, ini hari kelima saya tidak merokok.” Ada yang bilang, “Bagus dong!” Ada pula yang bilang, “Alaaahhh… gaya Lu! Kalau nggak punya duit, bilang saja deh. Gua beliin ya!” “Ya, satu slop sekalian ya. Kan lumayan gue ecerin lagi,” Begitu jawab Kang Kombor.
Berhenti merokok itu gampang, Mas dan Mbak. Hanya ada satu resep untuk berhenti merokok. Resep ini resep sangat sederhana dan sangat mudah untuk dilakukan.
Mau berhenti merokok?
Gampang: Tidak usah merokok!
Tak mau ambil resiko
Senin malam, mulai pukul delapan malam si Berseri-seri Cahaya Kemuliaan mengeluh sakit perut. Kang Kombor masih di kantor. Ibunya hanya nanyain kapan pulang. Itu pukul 20:15 WIB. Karena masih ada sedikit urusan, Kang Kombor bilang setengah sembilan akan pulang. Prakteknya, 20:45 WIB Kang Kombor baru keluar dari ruangan. Suara tangis si Berseri-seri Cahaya Kemuliaan terdengar sangat keras ketika ibunya nelpon Kang Kombor lagi. Avanza Kang Kombor pacu di angka 120 Kpj baik di tol BSD maupun tol Jakarta – Merak. Pukul sepuluh malam Kang Kombor sampai di rumah. Ada abah dan emak di rumah. Istri Kang Kombor memang menghubungi kakek dan nenek Si Berseri-seri Cahaya Kemuliaan untuk datang karena menurut ibunya si semata wayang itu nangisnya sampai jemari tangannya kaku-kaku. Mungkin menahan sakit perut yang sangat.
Selamat Jalan, Pak Lilik
Pukul 9:15 WIB pagi Kang Kombor berangkat dari rumah menuju Perum II Tangerang untuk menjemput Sunu dan Amar anaknya. Kami akan menuju Rempoa menghadiri pernikahan Thomy. Thomy adalah teman seangkatan Sunu di SMA dulu atau adik kelas Kang Kombor. Tahun 1994 kami sama-sama kuliah di Tangerang. Kang Kombor punya anak satu, Sunu tiga dan Thomy baru mau menikah. Ssst… ada yang akhir bulan ini atau awal bulan depan akan lahir anak keempatnya.
Dari Perum II, kami bertiga menuju Medang Lestari, ada adik kelas SMA kami yang lain yang akan nebeng sampai Ragunan karena ada lomba burung. Dia memang punya hobi burung berkicau. Kebetulan ada lomba burung berkicau di Ragunan hari ini. Dia tahu kami mau ke Rempoa sehingga minta diturunkan di Ragunan sementara kami terus ke Rempoa.
Ayo Dukung Imunisasi Campak!
Pemerintah Menggelar Kampanye Imunisasi Campak Secara Nasional
Jakarta: Pemerintah menggelar imunisasi campak di setiap Puskesmas di seluruh Indonesia. Penyakit campak yang menimbulkan infeksi sekunder dapat mematikan bagi penderitanya.[Metrotvnes.com]
Menurut berita itu, setiap tahunnya 30 ribu anak Indonesia meninggal karena komplikasi campak. Fantastis! Bukan demam berdarah saja pembunuh ganas di negeri ini. Bahkan campak yang tidak digembar-gemborkan juga merupakan pembunuh berdarah dingin. Campak ini sangat mudah menular melalui droplet (percikan ludah) atau kontak dengan penderita. Anak Kang Kombor langsung ketularan campak ketika tetangga kontrakan di Harkit dulu “naruh” anaknya yang baru saja kena campak dan belum sembuh bener di petak kontrakan Kang Kombor sehingga mau nggak mau si Berseri-seri Cahaya Kemuliaan main dengan anak tetangga itu. Penyakit ini pula yang membuat hipertensi Kang Kombor mbalik jadi hypotensi. Entah apa hubungannya …
Lebih jauh tentang campak telah dijelaskan oleh Cak Dokter Moko di sini >>>>.
Ayo dukung imunisasi campak ini. Kalau di sekitar Sampeyah ada balita yang tidak dibawa ke pos imunisasi, geret saja… Kang Kombor gregeten waktu PIN uktuk polio ada warga sekitar yang tidak membawa anaknya ke Pos PIN. Kalau tidak 100% diimunisasi, gimana mau berhasil pemberantasan penyakitnya? Hladalah…
Demam berdarah: Apakah akan kita tunggu menjadi sejuta korban?
252 Orang Meninggal Akibat DBD
Sebanyak 252 orang dilaporkan meninggal dunia selama Januari- Februari 2007 akibat wabah Deman Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia, sedangkan jumlah kasusnya mencapai 15.005 kejadian, demikian Depkes, Jumat.
Memuakkan! Hanya itu yang bisa Kang Kombor teriakkan menghadapi kenyataan bahwa bangsa kita ini tidak bisa apa-apa. Bayangkan saja, pada periode Januari – Februari 2007 sudah ada 252 orang yang meninggal akibat demam berdarah. Apa strategi nasional yang dimiliki untuk membebaskan Indonesia dari demam berdarah? Kang Kombor mulai mengenal penyakit ini sejak di SMA dulu, dan itu berarti tahun 1990 – 1993. Ambillah tahun 1992 sebagai awal munculnya demam berdarah (bisa saja lebih awal dari itu) maka sampai 2006 sudah 14 tahun kita bergaul dengan demam berdarah. Ibaratnya remaja sudah masuk masa puber dan sudah mulai berubah fisik dan pola pikirnya. Tapi kita sebagai sebuah bangsa ini sudah bergaul dengan demam berdarah selama 14 tahun dan tidak bisa berbuat apa-apa?
Thesis Kang Kombor mengenai pemerintah yang tidak bisa ngurus apa-apa bisa terbukti kalau begini.
Baca entri selengkapnya »