Archive for the ‘Buku’ Category
Menjemput Maryamah Karpov
Sepulang dari sholat Jum’at siang ini, pada saat menuju warteg depan kantor yang menjadi tempat makan siang sehari-hari, saya melihat seorang karyawan MP Book Point Jl. Puri Mutiara mengenakan kaos bergambarkan sampul buku Maryamah Karpov. Aha! ini novel yang sudah ditunggu-tunggu pembaca sejak lama. Apakah buku itu sudah keluar?
Sesampai di warteg saya sapa karyawan MP Book Point tersebut dan menanyakan apakah Maryamah Karpov sudah keluar. Dia mengatakan bahwa Maryamah Karpov sudah ada. Maryamah Karpov adalah buku keempat dari tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Buku pertama berjudul Laskar Pelangi, buku kedua Sang Pemimpi dan buku ketiga Edensor. Maryamah Karpov ini menurut catatan saya sudah tertunda setahun penerbitannya.
Selesai makan siang, setelah menyimpan sajadah di kantor, saya menuju MP Book Point untuk menjemput Maryamah Karpov yang sudah lama saya nantikan kehadirannya. Saya yakin para penggemar Laskar Pelangi akan segera memburu novel keempat ini. Di MP Book Point sendiri malam ini pukul 19:00 (kalau tidak salah) akan ada acara peluncuran buku Maryamah Karpov. Sayang saya tidak bisa hadir karena ada acara yang sudah dijadwalkan.
Mengenai isinya, mohon maaf, saya belum bisa bercerita karena Maryamah Karpov baru saya jemput dan saya belum sempat membacanya. Agar mengetahui isinya saya anjurkan Anda untuk menjemput Maryamah Karpov juga.
Gambar sampul Maryamah Karpov dari Khatulistiwa.
Gratis Buku "The Journey" Karya Gola Gong"
Sampeyan sudah memasuki usia remaja pada tahun 80-an dan suka membaca majalah Hai? Sampeyan tentu membaca Balada Si Roy. Dan tentu Sampeyan ingat nama pengarangnya. Ya, Gola Gong!
Dari blog pribadinya saya membaca bahwa Gola Gong memutuskan untuk berhenti kuliah dan menjadi penulis. Balada Si Roy adalah ceritanya yang diterima oleh majalah Hai dan menjadikannya berbulat tekad untuk menjadi penulis. Sungguh mengagumkan, berbekal tekad, Gola Gong pergi ke Jakarta untuk menjadi penulis. Kini, Gola Gong sudah menerbitkan banyak buku. Dia pun aktif di Rumah Dunia. Di sana Gola Gong dan teman-teman aktif mengajarkan kepada siapa saja, terutama anak-anak untuk berkarya baik di bidang penulisan maupun seni.
Gola Gong yang berlengan satu — lengan kirinya buntung — pernah menjelajah Asean dengan bersepeda. Dia juga berkelana ke negeri-negeri lain. Cerita perjalanannya diangkat dalam buku terbarunya “The Journey” yang diterbitkan oleh Maximalis (Bandung).
Nah, Gola Gong membagi dua buku “The Journey” secara gratis. Syaratnya, Sampeyan hanya perlu menulis satu paragraf yang menceritakan kisah perjalanan Sampeyan. Tertarik? Silakan langsung ke halaman ini >>>>>>>
Saya sedang lirak-lirik Pak Ersis dan Pak Sawali nih. Siapa tahu bikin kontes serupa.
- edensor – Hanya Sebuah Buku Harian?
Menyusul khatamnya Sang Pemimpi saya juga khatam membaca edensor hari ini. Namun sayang seribu sayang saya merasakan grafik kepuasan saya menurun membaca edensor ini. Lebih rendah dari Sang Pemimpi yang nilai kepuasan saya telah lebih rendah dari Laskar Pelangi. Kalau digambarkan grafik kepuasan saya menurun dari LP ke SP dilanjutkan turun lagi dari SP ke edensor.
Berbeda dengan Laskar Pelangi — terlepas dari saya merasa bodoh — membaca edensor tidak memberi sensasi rasa seperti yang diberikan oleh Laskar Pelangi. Edensor saya rasakan datar saja dan membacanya hanya berasa seperti membaca sebuah buku harian.
Sang Pemimpi Membuat Saya Kembali Bermimpi
Berbeda dengan Laskar Pelangi yang membuat saya menjadi bodoh, Sang Pemimpi sudah mampu membuat saya menjadi manusia rata-rata. Saya tidak bodoh dan tidak pintar dan keadaan itu cukuplah untuk membantu saya menikmati cerita dalam Sang Pemimpi dengan lebih baik.
Cerita yang disuguhkan dalam Sang Pemimpi sangat manusiawi dan saya kira banyak contohnya yang terjadi di dunia nyata. Saya kira Andrea Hirata mampu menyampaikan dengan sempurna pesan bagi pembacanya untuk berani bermimpi.
Sudah banyak orang yang menyampaikan bahwa pencapaian-pencapaian luar biasa yang berhasil dicatatkan oleh umat manusia berasal dari mimpi yang dibuat. Tentu kita harus memandang mimpi di sini sebagai cita-cita. Bukan mimpi yang menjadi bunga tidur kita. Andrea Hirata menyampaikan pesan untuk berani bermimpi itu dengan kemampuan bertuturnya yang apik dan dengan contoh yang sangat menggugah. Tokoh Arai yang telah menjadi yatim piatu sejak kecil justru menjadi tokoh yang mengajarkan kepada Ikal untuk terus bermimpi. Sungguh sangat membangkitkan semangat ketika Arai menasehati Ikal ketika Ikal melorot drastis rankingnya.
“Biar kau tahu, Kal, orang seperti kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu!!”
Menerbitkan Buku Itu Gampang
Minggu lalu saya membeli ebook karya Jonru. Judulnya Menerbitkan Buku Itu Gampang.
Saya memang ingin tahu seluk belum penerbitan buku. Bukan karena Pak Ersis menantang saya untuk membukukan tulisan-tulisan saya. Bukan pula karena Pak Sawali menerbitkan kumpulan cerpennya. Bukan kedua alasan di atas melainkan karena saya memang ingin tahu seluk beluk penerbitan buku. Saya malas bertanya pada orang dan lebih suka untuk membaca dari buku mengenai pengetahuan tertentu, termasuk cara menerbitkan buku.
Jujur saja, saat ini saya baru membaca sampai halaman 17 dari 142 halaman keseluruhan isi buku elektronik itu. Gaya tutur Jonru di ebook itu sederhana dan mudah dipahami dan diserati dengan contoh-contoh yang aplikatif. Saya berharap bisa memahami seluk beluk penerbitan buku setelah khatam membaca buku elektronik ini.
Kalau membeli buku elektronik Menerbitkan Buku Itu Gampang, Sampeyan juga akan mendapatkan bonus empat buku elektronik lain dan voucher diskon 20% di BelajarMenulis.com.
Ada yang tertarik? Terus terang setelah membeli buku elektronik itu setiap pembeli akan diberi taut reseller. Saya pun memilikinya. Nah, yang ingin melihat halaman promosi buku elektronik itu, silakan klik saja gambar di atas. Modelnya memang seperti gaya Anne Ahira karena Jonru pernah belajar di AsianBrain.com.
Saya kira Jonru tidak melakukan penipuan karena Jonru menjual produk. Bahkan, disebut MLM atau money game pun bukan. Hmm… ada yang jual ebook panduan untuk membuat website seperti milik Jonru itu nggak?
Membaca Laskar Pelangi Serasa Bodoh
Kalau tidak salah ingat saya pernah menyampaikan bahwa saya sudah mengakuisisi Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan edensor dari Gramedia Karawaci. Laskar Pelangi belum selesai saya baca. Pembatas masih saya selipkan di antara halaman 384 dan 385. Saya baru akan membaca Bab 28 yang berjudul Societeit de Limpai. Minggu lalu saya sama sekali libur membaca. Tentu Sampeyan semua tahu mengapa saya bisa libur membaca. Yang belum tahu bisa membaca-baca postingan minggu lalu (maaf, bukan promosi).
Saya belum selesai membaca Laskar Pelangi. Novel yang sangat terlambat saya baca. Terus-terang saya memang agak kurang suka segala sesuatu yang pop. Apa pun yang pop dan jadi tren sesaat hampir pasti tidak akan saya ikuti. Sebagai bukti sampai saat ini saya belum pernah membaca Saman yang konon spektakuler. Saya belum pernah membaca Ayat-ayat Cinta. Filmnya pun saya tidak nonton. Apa yang pop, kecuali post office protocol tidak mampu membuat saya ikut-ikutan.
Lalu, mengapa saya mengakuisisi tiga dari tetralogi Laskar Pelangi? Baca entri selengkapnya »
Peluncuran Kumpulan Cerpen Pak Sawali
Ada email dari Ci Aha ke milis KBBC. Isinya seperti di bawah ini:
–isi-email–
Teman-teman semua dengan kerendahan hati mohon sudi kiranya hadir dalam acara louncing buku kumpulan cerpennya pak Sawali. Mohon dukungannya, ya.
Susunan Acara
PENTAS SASTRA DAN DISKUSI BUKU Baca entri selengkapnya »
XWOMAN dan Joerig
Xwoman
Dia menyebut dirinya xwoman. Bukan! Bukan berarti bahwa dia agak saru karena memiliki "x" sebuah. Saya sendiri tidak tahu mengapa dia memilih xwoman sebagai identitasnya. Seingat saya, tulisannya lebih bagus dari ketukan jari saya di atas papan kunci dan dia berdiam di Priangan sana.
Joerig
Dia ini wanita yang cantik dan cerdas. Melihat seringnya memakai Bahasa Sunda, saya menduga dia adalah orang Sunda. Lebih dari dua bulan yang lalu di layar komputer saya sering muncul pesan instan dari YM. Itulah Joerig yang sedang menyebarluaskan tulisan barunya di blog.
Xwoman entah kenapa menghapus blognya. Saya memang lama tidak mengunjungi blog Xwoman. bukan karena diskriminasi melainkan karena memang banyak blog yang tidak sempat saya kunjungi karena blogwalking sedang merupakan kemewahan bagi saya. Ketika sore ini saya ingat pada Xwoman, saya begitu terkejut. Dia telah menghapus blognya. Mungkinkah dia pindah rumah seperti bloger yang lain?
Joerig sudah hampir dua bulan hilang. Terakhir kali dia menulis adalah 3 November 2007. Dia menulis "10 things I have about winter". Saya pernah dapat isu kalau dia mau ke luar negeri lagi. Tapi entahlah, Pak Dee semakin produktif kala di negeri seberang, Joerig kok malah ilang.
Di tengah gelombang duka bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi akibat kebodohan kita, saya juga berduka karena satu blog telah mati (saya ingat wadehel yang bunuh diri) dan satu blog lagi tak tentu rimba pemiliknya. Ah, … tetap saja, Kata Pak SBY, "Indonesia ini bergerak maju." Dan beliau pun meluncurkan buku kedua beliau "Indonesia on the move". Duka saya karena Xwoman dan Joerig menjadi sedikit terobati. Apalagi mengingat kenyataan bahwa Presiden RI ini ternyata tidak pelit menulis.
Jangan Menghina, Saya Juga Penulis Loh!
Membaca adalah kesukaan saya waktu kecil dulu. Semua buku di dalam lemari buku Bu Lik saya yang seorang guru telah habis saya baca ketika saya masih SD. Semua buku yang ada di sana. Bahkan, buku panduan guru pun saya baca. Masih di SD pula waktu itu Kangmas saya yang sudah SMP saya minta untuk meminjam buku-buku di perpustakaan sekolahnya. Yang saya suka adalah buku-buku karya Karl May, yaitu Putera-Putera Suku Mimbrenyo dan Winnetou. Karya Karl May yang lain saya tidak mengikuti. Waktu di SMP saya menjadi pustakawan, menjadi petugas perpustakaan SMP sehingga saya menjadi lebih bebas untuk membaca buku yang ada di perpustakaan karena saya dengan mudah mencari sendiri di rak buku, tidak seperti siswa lain yang harus mencari dari katalog. Karya sastra yang berkesan untuk saya adalah "Cinta Bersemi Di Seberang Tembok", karya Bagin, pengarang zaman Balai Pustaka. Yang saya ingat, buku itu bercerita mengenai seorang pribumi Melayu Deli yang menjadi guru di Sekolah Cina dan menjalin cinta dengan Lian Min, seorang perempuan Cina. Ibunya tidak merestui perkawinan mereka tetapi pada akhirnya berbalik ketika mereka sekeluarga berkunjung sambil membawa cucu dan si menantu sujud di kaki ibu mertuanya. Pada "Cinta Bersemi Di Seberang Tembok" juga ada kisah mengenai Poh An Tui, Laskar Cina yang mendukung Belanda di Sumatra pada zaman Perang Kemerdekaan dulu. Buku ini sangay bagus tetapi sampai sekarang saya belum menemukan lagi di toko-toko buku. Mungkin sudah tidak diterbitkan lagi.
Kalau karya sastra tua semacam Layar Terkembang, Merantau Ke Deli, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Merahnya Merah, Atheis, Belenggu, saya sudah baca. Tentu masih banyak karya sastra yang belum saya baca. Akan tetapi, sebagian besar isi buku di perpustakaan SMP dulu pun sudah saya baca. Di SMA, saya kembali menemukan Putera-putera Suku Mimbrenyo dan Winnetou. Saya pun membacanya kembali. Buku-buku yang hampir tidak pernah dipinjam oleh siswa lain saya baca, buku itu adalah buku-buku dari Taman Siswa yang berisi sejarah Taman Siswa dan ajaran-ajaran Ki Hadjar Dewantara. Di SMA kebanyakan waktu ke perpustakaan saya gunakan untuk membaca koran. Membaca buku-buku di luar buku pelajaran sudah mulai berkurang. Mungkin yang sering saya baca malahan serial Wiro Sableng karena ada teman yang memiliki koleksi lengkap. Lalu komik Tiger Wong.
Saat ini, membaca buku mulai berkurang. Terus-terang saya saat ini bisa dikatakan lebih banyak menulis daripada membaca. Makanya, buat teman-teman penulis saya minta agar jangan sombong. Bukan Anda-anda saja yang bisa menulis. Saya pun bisa menulis. Bedanya, Anda menulis dengan bagus dan laku dicetak sedangkan saya hanya menulis suka-suka. Yang membaca pun belum tentu ada. Hahaha!
Serius! Saya mulai sedikit membaca buku. Mata saya tidak betah membaca buku. Bawaannya ngantuk kalau baca buku. Makanya saya kadang-kadang membaca blog saja. Buku tidak banyak baca tetapi blog yang sering dibaca. Setiap ada kesempatan saya akan membaca blog. Kalau tidak ada kesempatan, saya tentu tidak akan melayari blog siapa pun. Akan tetapi, yang lebih saya utamakan adalah ngisi blog. Baca blog dari teman-teman yang lain saya nomorduakan. Nomor satunya adalah nulis di blog. Gimana lagi? Mau nulis buku tidak bisa je…
Waktu SMP dan SMA saya paling puyeng kalau diminta mengarang. Gila! Mengarang benar-benar sulit. Lagipula, saya juga heran mengapa kami dulu diminta mengarang tentang sesuatu yang kami tidak senangi ya? Diminta mengarang dengan judul yang sudah ditentukan. Pusing deh! Di SMA oleh Guru Bahasa Indonesia kami pernah diminta membuat cerpen. Aseli, saya pusing semilyar keliling. Mau nulis cerita pendek tentang apa? Akhirnya, karena tidak mendapat cerita hasil khayalan saya tulis saja cerpen mengenai kejadian yang saya alami. Bodoh amat mau diberi nilai rendah atau tinggi yang penting tugas saya kerjakan.
Sekarang keadaan sudah terbalik. Saya lebih banyak menulis daripada membaca. Memang hanya menulis sesuatu yang nggak mutu seperti ini. Tidak mutu tetapi melegakan jiwa. Kadang-kadang cunthel di kepala jadi hilang setelah saya nulis. Tetapi ada kalanya juga saya nulis malah kepala jadi cunthel. Jan blaik tenan! Tentu saja bukan cunthel karena tulisan saya tidak ada yang mbaca — sebelum ada blog dulu saya suka nulis buku harian — melainkan cunthel karena tulisan nglembreh ke mana-mana. Ya seperti tulisan ini. Coba dicari intinya, Sampeyan mungkin bingung.
Padahal, intinya itu ya: Jangan menghina, saya juga penulis! Hahaha… Penulis blog.
Saya iri pada mereka ini yang sudah menulis buku dan juga masih ngeblog:
- Andie Wicaksono
- Dodi Mawardi
- Ersis Warmansyah Abbas
- Isman H Suryaman
- M Choirul Amri
- Ninit Yunita
- Rini Nurul Badariyah
- Romi Satriawahono
- dll
Maaf penulis yang juga bloger yang belum kesebut. Bukannya mendiskriminasikan melainkan karena keterbatasan saya saja taut ke blog Anda tidak saya buat.