Setelah kiriman saya mengenai “berkunjung ke atau berkunjung di” dan “tolok ukur atau tolak ukur”, kali ini saya ingin menyoroti penggunaan gabungan kata “mengungsi di”. Menurut saya, penggunaan kata “mengungsi di” adalah tidak benar. Saya bukan pakar bahasa. Saya hanya menggunakan logika saja. Mengungsi adalah kegiatan yang di dalamnya terkandung makna berpindah tempat. Oleh karena… [Read more…]
Bulan Oktober adalah Bulan Bahasa, demikian informasi yang saya dapatkan dari blog Pak Sawali. Berkenaan dengan itu, saya ingin mengungkapkan keprihatinan saya terhadap banyaknya orang yang menggunakan kata tolak ukur padahal yang benar adalah tolok ukur. Kesalahan penggunaan kata tolak ukur ini sudah semakin menggejala. Dalam kesempatan menyaksikan siaran langsung pertandingan sepak bola, tak jarang… [Read more…]
Akhir-akhir ini saya terganggu dengan berita dari Radio Elshinta (satu-satunya radio yang saya dengar) karena koresponden Radio Elshinta sering menggunakan frasa “berkunjung di” untuk melaporkan pejabat yang sedang berkunjung ke suatu tempat. Sepengetahuan saya, kata berkunjung diikuti kata depan ke menjadi berkunjung ke, bukan berkunjung di. Penggunaan frasa “berkunjung di” tersebut pernah juga saya baca… [Read more…]
IHSG Jumat (12/9) pagi ditutup anjlok 74,703 poin (3,99 persen) pada 1.795,430. Pencapaian ini merupakan posisi IHSG terendah sejak 23 Februari 2007 lalu. Waktu itu IHSG berada pada level 1.791.553. Sumber: Kompas Pada kesempatan ini saya melayangkan protes kepada Pak Sawali dan para Guru Bahasa Indonesia yang lain karena telinga saya setiap kali harus sakit… [Read more…]
Lihat empat kalimat di bawah: Ditempat itu balok atau ubi goreng dimakan dengan sambal Di tempat itu balok atau ubi goreng di makan dengan sambal Ditempat itu balok atau ubi goreng di makan dengan sambal Di tempat itu balok atau ubi goreng dimakan dengan sambal Menurut Sampeyan, kalimat nomor berapa yang benar? Lihat empat kalimat… [Read more…]
Umur saya masih muda, baru mau 34 tahun. Akan tetapi, saya pernah melayani lima buah perusahaan. Tentu bukan sebagai eksekutif namun sebagai karyawan. Nah, yang sangat saya sayangkan, banyak sekali penyandang gelar Sarjana Strata 1 yang tidak mampu menulis surat resmi. Sungguh sangat disayangkan, lulus S1 tetapi tidak memiliki keterampilan berbahasa yang namanya menulis surat… [Read more…]
November 8, 2010 by MAW
3