Menurut berita yang baru saja dibacakan di Metro Malam, pemerintah akan menurunkan kembali harga bensin premium. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Ketua Bappenas Paskah Suzetta disebut menyatakan bahwa harga premium akan diturunkan sekitar Rp1000 sehingga harganya akan menjadi Rp4500. Akan tetapi, harga solar, walaupun turun, akan lebih tinggi daripada premium.
Saya tentu saja menyambut baik rencana penurunan harga premium tersebut. Di tengah memburuknya keadaan ekonomi, penurunan harga premium merupakan kabar baik. Justru aneh apabila harga premium tidak turun karena harga minyak mentah dunia semakin turun. Akan tetapi, rencana harga solar yang akan lebih tinggi daripada premium membuat saya masih bertanya-tanya mengenai maksud pemerintah. Kita semua tentu paham bahwa solar merupakan bahan bakar utama moda angkutan barang dan manusia. Sebagian besar barang baik itu kebutuhan pokok maupun barang ekonomi yang lain diangkut dengan moda transportasi berbahan bakar solar. Truk, trailer, dan bus menggunakan solar. Ketiga macam moda angkutan itu digunakan untuk mengangkut barang dan manusia dalam jarak jauh. Apabila harga solar lebih tinggi dari premium, saya takut tidak ada efek pengganda yang signifikan sebagai hasil penurunan harga solar. Akibatnya, meskipun harga BBM turun, belum tentu harga barang akan ikut turun secara signifikan. Peningkatan daya beli masyarakat sebagai hasil penurunan harga premium dan solar tidak akan seberapa.
Saya berpendapat bahwa khusus untuk solar, pemerintah harus memberikan kebijakan harga yang berbeda antara angkutan umum dan kendaraan pribadi. Harga solar individu dan solar industri sudah dibedakan. Selayaknya, untuk memberikan efek penurunan harga yang positif, harga solar untuk angkutan pun harus dibedakan antara angkutan umum (barang dan manusia) dan kendaraan pribadi. Tentu saja harga solar untuk angkutan umum yang lebih murah itu disubsidi oleh pemerintah.
Selain itu, agar subsidi BBM tepat sasaran, pemerintah harus mengeluarkan kebijakan resmi bahwa kendaraan di atas 2000 cc harus menggunakan bahan bakar non subsidi. Kendaraan berkapasitas mesin lebih besar mengkonsumsi bahan bakar lebih banyak daripada yang kecil. Tidak pantas kendaraan berkapasitas mesin 2000 cc ke atas diperbolehkan menggunakan premium.
Satu hal lagi yang menjadi pertanyaan saya adalah tidak disebut-sebutnya penurunan harga minyak tanah. Apakah ini berarti minyak tanah akan dilepaskan dari subsidi secara total? Sungguh kasihan rakyat miskin apabila dipaksa memakai kompor gas walaupun dengan tabung 3 kg sekalipun. Rakyat miskin bisa beli minyak tanah sebanyak yang dia mampu. Tidak mampu beli 1 liter, mereka akan beli 1/2 liter. Tidak mampu beli 1/2 liter mereka akan beli 1/4 liter. Masih tidak mampu, mereka bisa beli sesuai uang yang dimiliki dan pengecer minyak tanah masih dapat melayani. Bandingkan dengan gas. Punya uang atau tidak, rakyat miskin harus beli gas minimal 3 kg. Itu pun kalau takarannya tidak dicurangi agen gas. Sungguh kasihan rakyat kita, dilupakan oleh pemerintah yang seharusnya memahami kebutuhan mereka.
boyin
Desember 11, 2008
semoga turun terus mas…kasian juga rakyat kecil. tapi kok harga2 nggak turun tuh?
boyin’s last blog post..Jangkrik goreng ini, bukan kecoak
hedi
Desember 11, 2008
kesannya jadi tipis antara realitas harga minyak memang sedang turun atau kampanye hihihi
hedi’s last blog post..Jangan Berharap pada Timnas
pedas
Desember 16, 2008
orang tidak tahu dunia diceritain dunia
klo sedang kesulitan anggaran paling ngutang
selama koruptor masih nangkring jangan berharap
selama tidak mencetak tenaga ahli jangan berharap
hah… politik
politik tidak pernah memihak pada rakyat
wahid najmuddin
Desember 17, 2008
Haha.. yang namanya kebijakan itu tergantung bro (bijak sana? atau bijak sini?). Ketika harga premium mengalami kenaikan.. itu kenaikannya sangat tajam. Giliran harga diturunkan seperti layaknya permainan (membodohi anak kecil). Penurunan dicicil.. Rp. 500,- lalu.. entah mungkin cuma diturunkan Rp. 100,- (hahaha…)
Terlepas dari isu bahwa penurunan harga premium dan solar dikecam sebagai upaya menaikkan pamor partai politik tertentu.. saya pikir seharusnya pemerintah lebih cepat tanggap menangani masalah vital yang dihadapi masyarakat. Alasan pemerintah menunda penurunan harga premium (baca : menunggu kesepakatan harga dari OPEC) menurut saya itu terlalu basi. Orang (baca : rakyat) miskin dan sakit itu tidak perlu lagi harus menunggu untuk mati.
Masalah lain seperti kelangkaan gas, dll.. ah.. pusing saya !! Entah episode masalah apalagi yang akan menimpa rakyat Indonesia.
Tambahan : Menjadi pemimpin itu bukan untuk mencari kekuasaan, kekayaan, dan kebanggaan. Menjadi pemimpin adalah sebuah tanggungjawab namun bukanlah dipikir menjadi sebuah beban. Ketika rakyat menderita, rakyat mati karena kelaparan, rakyat miskin tidak mampu mendapatkan fasilitas pendidikan dan kesehatan (karena tidak mampu)… maka Sang Pemimpin-lah yang menanggung dosa dan pantas untuk dicaci-maki.
Andi sakab
Desember 22, 2008
Kalo saya bingungnya gini. Kok harga bbm kayak harga penawaran ya
kenapa engga sekaligus aja langsung di kasih harga nett prizenya aja, Khan buat rakyat kita sendiri. Cuma pendapat loh om