Saya Tidak Rela Indonesia Dikuasai Singapura

Posted on Oktober 24, 2008 by

7


Saya yakin Anda akan mengatakan bahwa judul di atas terlalu provokatif. Saya juga percaya bahwa Anda dengan segera akan menyangkal dan mengatakan bahwa tidak mungkin Indonesia dapat dikuasai oleh Singapura. Hmm… pendapat saya, Anda tidak tepat.

Untuk mengusai Indonesia, Singapura tidak perlu melancarkan serangan militer ke Indonesia. Penguasaan melalui kekuatan militer adalah gaya lama. Gaya orang-orang Eropah mulai abad 15 sampai abad 20. Kini, di abad 21, penguasaan suatu negara atas negara lain melalui jalan yang lebih halus dan tanpa pergerakan militer, kecuali Amerika yang memang koboi dan suka menebar perang di mana-mana.

Ah, saya tidak percaya ada jalan halus bagi suatu negara untuk menguasai negara lainnya. Boleh saja. Saya tidak akan memaksa Anda untuk percaya. Akan tetapi, apabila suatu negara dapat menguasai salah satu atau kombinasi dari beberapa hal berikut atas negara lainnya, ceritanya akan lain:

  • ekonomi
  • pangan
  • energi
  • teknologi

Ekonomi

Ekonomi merupakan bidang yang sangat penting. Dalam pelajaran ketahanan nasional kita mengenal adanya Astagrata yang terdiri dari Trigatra dan Pancagrata. Ekonomi ini masuk dalam Pancagrata yang terdiri dari Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya dan Pertahanan Keamanan. Pancagrata ini sering disebut dengan ipoleksosbudhankam.

Saking pentingnya ekonomi ini, Orde Baru menjadikannya panglima. Ingatkah Anda akan jargon “ekonomi sebagai panglima”? Jargon ini merupakan ideologi pembangunan Orde Baru sebagai koreksi atas ideologi Orde Lama yang menjadikan politik sebagai panglima. Belakangan kita semua tentu paham bahwa nama Orde Baru, Orde Lama ataupun jargon ekonomi sebagai panglima dan politik sebagai panglima itu semuanya bikinan Orde Baru. Namun, semua itu tidak penting. Yang penting adalah bahwa ekonomi merupakan bidang vital bagi setiap negara. Kesejahteraan rakyat tidak akan tercapai apabila ekonomi tidak bergerak. Hal ini yang membuat setiap pemerintahan berusaha sekuat tenaga untuk menggerakkan roda perekonomian negara. Berlomba-lomba untuk mengejar pertumbuhan ekonomi.

Bagi negara maju (developed countries), pembangunan ekonomi relatif lebih mudah dilaksanakan karena mereka telah memiliki sumberdaya yang memadai dalam hal kapital, teknologi dan sumberdaya manusia. Sebaliknya, bagi negara berkembang (developing countries), pembangunan ekonomi merupakan pekerjaan yang berat. Rata-rata negara berkembang adalah negara miskin. Negara-negara ini mungkin kaya sumberdaya alam tetapi miskin dalam hal penguasaan kapital, teknologi dan sumberdaya manusia yang berkualitas. Untuk melaksanakan pembangunan, setiap negara tentu membutuhkan dana. Nah, di sinilah negara-negara yang kaya masuk. Mereka berperan sebagai negara donor atau kreditor. Pada saat menjadi donor atau kreditor, negara-negara itu tentu tidak hanya meminjamkan uang melainkan mereka juga menyetir negara-negara debitor dengan cara mempengaruhi kebijakan-kebijakan pembangunan di negara debitor. Mereka mengatur sektor-sektor yang dapat dibiayai oleh uang pinjaman mereka. Bahkan, mereka juga mengatakan kepada negara debitor bahwa konsultan untuk perencanaan atau pengawasan pekerjaan yang dibiayai utang itu haruslah berasal dari negara kreditor. Sebuah permainan yang cantik namun menyengsarakan rakyat di negara peminjam.

Anda boleh saja mengatakan bahwa negara debitor tetap memiliki kedaulatannya. Akan tetapi, pengalaman panjang Indonesia dengan IGGI, CGI dan IMF tentu memberikan fakta yang lain. Konon liberalisasi sektor migas adalah syarat IMF ketika Indonesia berhutang kepadanya guna mengatasi krisis moneter sejak 1997. Siapa di belakang IMF, tentu negara-negara kaya.

Negara kaya menguasai perekonomian negara lain bukan hanya melalui transaksi hutang-piutang jangka panjang. Mereka juga menjajah melalui investasi pengusaha-pengusaha mereka di negara berkembang. Dengan dua tangan, negara dan swasta mereka mengepung negara berkembang sehingga negara berkembang tersebut menjadi bergantung kepada negara kaya. Di sanalah penjajahan ekonomi terjadi.

Pangan

Negara manakah yang tidak butuh pangan? Jawabannya adalah negara robot. Ya, karena robot tidak butuh pangan. Selama suatu negara memiliki manusia sebagai warga negara maka negara itu akan membutuhkan pangan untuk memenuhi kebutuhan warga negaranya.

Masalah pangan ini bukan hal sepele. Setiap negara harus mampu berswasembada pangan. Harus mampu menyediakan sendiri pangan untuk memenuhi kebutuhan warga negaranya. Loh, bukankah kita bisa impor dari negara lain? Nah, di sinilah celah untuk menguasai negara lain melalui pangan. Negara dengan jumlah penduduk besar seperti Indonesia selalu rawan terhadap kekurangan pangan. Ingat-ingatlah kapan Indonesia dapat berswasembada pangan. Seingat saya, tahun 1983 adalah tahun pertama Indonesia dapat mencapai swasembada beras. Setelah itu, konon, swasembada beras tidak pernah tercapai lagi sampai tahun 2008 (Partai Demokrat saat ulang tahun ke-7-nya mengklaim bahwa Indonesia sudah berswasembada beras lagi per 2008). Produksi beras nasional dari tahun ke  tahun selalu minus terhadap kebutuhan beras nasional. Kekurangan itu ditutupi dengan impor. Apabila kita tidak mampu membuat bangsa ini bisa makan bahan makanan pokok selain beras maka ke depan kita akan selalu bergantung kepada negara lain untuk menutupi kekurangan yang ada.

Itu baru beras. Pada komoditas kedelai, kita juga bergantung pada pasokan impor. Tempe dan tahu yang merupakan makanan rakyat miskin menjadi makanan kelas menengah ke atas karena harga kedelai dunia yang melambung. Pada komoditas kedelai ini, Indonesia sudah bergantung kepada negara lain.

Komoditas pangan selanjutnya adalah gandum. Indonesia bukanlah penghasil gandum. Entah mengapa pemerintah tinggal diam ketika masyarakat Indonesia dimanjakan dengan makanan yang berbahan dasar tepung terigu seporti mi instan dan roti. Di sektor gandum ini, Indonesia sangat bergantung kepada luar negeri.

Bahan makanan selanjutnya adalah daging dan telur ayam. Anda salah besar apabila Indonesia tidak bergantung pada luar negeri pada komoditas ini. Silakan ditelusuri, untuk ayam pedaging dan petelur, di mana letak peternak kita. Saya beri bocoran sedikit, peternak kita hanya memelihara. Bibit ayam berupa DOC Day Old Chicken) mungkin diproduksi di Indonesia. Akan tetapi, siapakah yang menguasai teknologinya termasuk indukannya? Jadi jangan salah, daging ayam dan telur saja secara tidak langsung kita sudah bergantung kepada luar negeri. Oleh karena itu, Partai GERINDRA akan menggalakkan kembali peternakan ayam kampung oleh keluarga-keluarga Indonesia. Kita telah dibodohi oleh luar negeri dengan membunuh ayam kampung spesies asli kita hanya karena flu burung. Padahal, jumlah korban flu burung sangat lebih kecil apabila dibandingkan dengan korban yang tewas di jalan raya atau pun korban demam berdarah.

Bicara ayam tidak berhenti pada ayamnya saja melainkan kita juga harus bicara mengenai pakannya. Kepala dan kulit udang kita bisa punya. Jagung, kita juga punya walaupun untuk pakan ternak jagungnya kita impor juga. Vaksin, obat-obatan, apakah kita bisa memproduksi sendiri?

Ada beberapa lagi komoditas pangan di mana Indonesia sudah memiliki ketergantungan kepada negara lain. Inti dari deskripsi di atas adalah bahwa kita ini sebenarnya sudah berada dalam krisis pangan. Kita tidak merasa karena kita masih dapat mengimpor bahan-bahan pangan tersebut. Akan tetapi, apabila di dunia terjadi krisis pangan berat, negara-negara pengekspor pangan tentu akan memilih untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya daripada memenuhi permintaan impor kita. Pada saat itulah kita akan benar-benar bertekuk lutut pada mereka yang mau memasok pangan kepada negara kita.

Mengenai pangan ini, marilah kita kutip perkataan Hubert Humphrey (Wapres AS) pada tahun 1964:

“If you are looking for a way to get people to lean on you it seems to me that food dependence would be terrific.”

K
etahanan pangan itu perlu. Presiden Bush mengatakan pada Future Farmer’s of America:

“… I mean, after all, we are talking about national security. It’s important for our nation to build – to grow foodstuffs, to feed our people. Can you imagine a country that was unable to grow enough food to feed the people? It would be a nation that would be subject to international pressure. It would be a nation at risk…. “

Energi

Energi dibutuhkan dalam pembangunan. Perumahan, perkantoran dan pabrik-pabrik memerlukan energi untuk kebutuhan spesifik masing-masing. Saat ini rumah tangga di Indonesia sudah mulai sangat bergantung kepada listrik untuk kebutuhan penerangan. Di kota-kota besar, listrik bukan hanya dipergunakan untuk penerangan melainkan juga untuk kebutuhan lain seperti memompa air, menanak dan memanaskan nasi, menyetrika, menghidupkan kulkas, AC dan lain-lain.

Pembangkit listrik di Indoesia saat ini ternyata sebagian besar menggunakan generator berbahan bakar minyak. Celakanya, saat ini Indonesia sudah menjadi negara pengimpor minyak karena produksi minyak yang dijual ke luar negeri dengan belanja minyak dari luar negeri sudah lebih banyak belanja minyak ke luar negerinya. Konon Pertamina kita tidak bisa memasak minyak yang disedotnya dari perut bumi Indonesia dan hanya bisa menyaring minyak setengah matang yang harus dibeli lewat Singapura. Masih untung kita punya batubara yang para penambangnya lebih memilih untuk menjual ke luar negeri daripada memasok PLN. Masih untung juga kita memiliki energi panas bumi yang belum semuanya kita manfaatkan. Masih untung sepanjang tahun kita mendapatkan sinar matahari sehingga apabila terpaksa kita bisa memasang panel surya di setiap rumah. Coba bayangkan negara yang sama sekali tidak memiliki minyak, batu bara, panas bumi, dan matahari tidak bersinar sepanjang tahun. Negara seperti itu harus memiliki PLTN. Iya kalau mereka menguasai teknologi nuklir. Kalau tidak, tentu mereka akan bergantung kepada negara-negara maju lagi. Negara yang sudah menjajah lewat ekonomi dan pangan.

Terhadap penguasaan negara lain melalui energi ini mari kita kutip Paul Scott dari National Syndicated Columnist:

“It is Henry Kissinger’s belief … that by controlling food, one can control people, and by controlling energy, especially oil, one can control nations and their financial systems. By placing food and oil under international control along with the world’s monetary system, Kissinger is convinced a loosely knit world government can become a reality by 1980.’‘

Teknologi

Teknologi berkembang sangat cepat. Teknologi apa pun. Dan saat ini, kita baru bisa menjadi bangsa pembeli dan pemakai teknologi, bukan periset dan produsen teknologi. Mau membantah? Silakan. Kita mau bicara teknologi pertahanan, alutsista kita masih bergantung kepada luar negeri. Ketika kita diembargo senjata oleh Amerika dan Eropa pasca Jajak Pendapat di Timor Leste, sebagian pesawat AS Hawk dan F-16 kita menjadi rongsokan karena dikanibal untuk membuat pesawat yang lain bisa tetap terbang. Ketika rudal-rudal di kapal-kapal perang kita kadaluwarsa, kita juga tidak bisa membeli dari luar negeri. Bukankah ini ciri bahwa dalam bidang teknologi pertahanan (militer) kita sudah bergantung kepada luar negeri.

Dalam teknologi telekomunikasi, semua perangkat jaringan telekomunikasi adalah buatan luar negeri. Hampir tidak ada yang buatan kita sendiri. Komputer? Kita tidak dapat memproduksi sendiri. Bisanya hanya merakit. Televisi, hanya bisa merakit. Mobil? Juga hanya bisa merakit. Untunglah kita bisa memproduksi cangkul, sabit, bajak dan ani-ani sehingga kita masih bisa menanam padi.

Negara lain sudah menguasai kita melalui teknologi. Hanya saja, mungkin kita tidak merasakannya karena hal itu sudah masuk ke dalam kehidupan kita sehari-hari.

Bagaimana Singapura menguasai Indonesia?

Pada paparan di atas, saya hanya membicarakan empat bidang. Apabila mau dibabar, tentu banyak bidang lain yang juga dapat menjadi celah bagi suatu negara untuk negara lain. Empat bidang di atas juga memiliki turunan (derivative) masing-masing. Nah, dalam hal Singapura menguasai Indonesia, Singapura masuk melalui sektor ekonomi melalui penguasaan atas perusahaan-perusahaan terbaik di Indonesia. Singapura menguasai industri keuangan dan telekomunikasi Indonesia. Mengenai masalah ini, penjelasan lebih lanjutnya dapat Anda baca melalui artikel Pak Nofie Iman yang berjudul Orang-orang terkaya Indonesia dan masa depan kita.

Jadi, Singapura mencoba menguasai Indonesia melalui sektor ekonomi. Apakah militer mereka lemah? Tidak. Kekuatan alutsista Singapura adalah yang paling kuat di Asia Tenggara. Hanya saja, untuk perang panjang mereka mungkin akan kedodoran juga apabila harus melawan Indonesia yang berpenduduk 230 juta orang ini.

Bukan hanya itu saja, Singapura juga menguasai Indonesia melalui pengkhianat-pengkhianat yang ada di dalam birokrasi kita. Konon, antek-antek Singapura sudah sampai ke level Eselon III di birokrasi. Antek-antek ini tentu saja orang kita, orang Indonesia yang jiwanya mudah terbeli. Mereka yang hanya dengan diajak jalan-jalan ke Singapura atau negara lain dan diberi uang rela menggadaikan kedaulatan bangsa. Saya katakan konon karena saya hanya mendengarnya. Mengenai kebenarannya, silakan dikaji sendiri. Akan tetapi, coba bayangkan sedikit masalah di bawah:

Apakah Indonesia tidak mampu membangun pelabuhan laut internasional sekelas Singapura?

Sungguh gila. Negara sebesar Indonesia tidak memiliki kedaulatan dalam arus keluar masuk barang melalui laut. Semua harus lewat Singapura. Bayangkan saja, negara yang oleh Pak Habibie disebut sebagai the red dot on the map itu membuat kita harus bergantung kepada mereka. Kita bukan tidak bisa membangun pelabuhan seperti itu karena investor pasti mau berinvestasi untuk membangun pelabuhan internasional dengan asumsi arus keluar masuk barang melalui Indonesia yang sangat padat. Justru yang tidak ada adalah kemauan politik. Mengapa? Silakan saja aduk-aduk isi Departemen Perhubungan terutama Direktorat Jenderal Perhubungan Laut dan tanya mengapa mereka tidak mau membangun pelabuhan laut internasional di Indonesia. Pelabuhan laut yang sebenar-benarnya, yang diakui secara internasional.

Bukan hanya di laut, lalu lintas udara kita juga tidak berdaulat. Kontrol atas lalu lintas udara kita sebagian juga berada di Singapura karena mereka memiliki lalu lintas udara yang lebih padat dan radar yang lebih baik. Padalah, angkasa Singapura tidak ada seperseribu angkasa kita.

Saya tidak rela Indonesia dikuasai Singapura

Saya tidak rela Indonesia dikuasai Singapura melalui sektor apa pun. Oleh karena itu, saya sangat mengecam pengobralan aset kepada pihak luar negeri terutama Singapura. Saya sangat anti kepada penjual Indosat kepada Temasek. Kita tahulah siapa orangnya dan siapa yang jadi Presiden waktu itu. Singapura melalui Temasek saat ini sudah menguasai Astra, BII, Telkomsel, Danamon dan Indosat yang dijual ke Q-Tel.

Sungguh, saya tidak rela. Bagaimana pun caranya, kita harus mengambil kembali aset-aset kita yang sudah dikuasai oleh asing. Kita harus membuat peraturan di mana asing hanya boleh menguasai maksimal 10% saja kepemilikan di perusahaan-perusahaan kita. Kita harus melarang kepemilikan silang oleh pihak asing di perusahaan-perusahaan kita. Indonesia harus untuk Indonesia.

-*-

Catatan: Seluruh kutipan berasal dari sini.

Posted in: Politik