Indeks Harga Saham Gabungan Turun Tiga Koma Sembilan Puluh Sembilan Persen

Posted on Oktober 20, 2008 by

1


IHSG Jumat (12/9) pagi ditutup anjlok 74,703 poin (3,99 persen) pada 1.795,430.  Pencapaian ini merupakan posisi IHSG terendah sejak 23 Februari 2007 lalu.  Waktu itu IHSG berada pada level 1.791.553. Sumber: Kompas

Pada kesempatan ini saya melayangkan protes kepada Pak Sawali dan para Guru Bahasa Indonesia yang lain karena telinga saya setiap kali harus sakit ketika mendengarkan reporter berita di stasiun televisi kita membacakan angka-angka. Apabila dibaca oleh reporter televisi, kutipan berita dari Kompas di atas akan dibaca sebagai berikut:

IHSG Jumat dua belas September pagi ditutup anjlok tujuh puluh empat koma tujuh ratus tiga poin atau tiga koma sembilan puluh sembilan persen pada seribu tujuh ratus sembilan puluh lima koma empat ratus tiga puluh. …

Perhatikan pada bagian yang saya cetak tebal. Para reporter itu membaca angka di belakang koma seperti membaca angka di depan koma. Padahal, angka di belakang koma itu menurut yang saya pelajari harus dibaca dengan menyebut angkanya saja. Kutipan berita di atas seharusnya dibaca:

IHSG Jumat dua belas September pagi ditutup anjlok tujuh puluh empat koma tujuh kosong tiga poin atau tiga koma sembilan  sembilan persen pada seribu tujuh ratus sembilan puluh lima koma empat tiga kosong. …

Silakan pilih akan menyebut kosong atau nol. Yang jelas, angka di belakang koma itu tidak ada trilyunan, milyaran, jutaan, ratusribuan, puluhribuan, ribuan, ratusan dan puluhan. Coba banyangkan bagaimana reporter televisi itu akan membaca angka di bawah:

35,45789002234567

Angka di belakang koma, itu bisa tidak terbatas jumlahnya. Dibuat satu angka, dua angka, tiga angka sampai empat angka di belakang koma hanya untuk membantu memudahkan kita membaca atau menalar. Makanya, membacanya tidak perlu ada ribuan, ratusan, puluhan, dan angka-angka lain yang menunjukkan jumlah.

Mudah-mudahan para Guru Bahasa Indonesia mau menerima protes saya ini. Untuk pengelola setasiun televisi, saya usulkan agar menyuruh para reporternya untuk belajar Bahasa Indonesia lagi. Baiklah, saya setuju mereka reporter yang lancar berbahasa Inggris, Mandarin dan lain-lain. Akan tetapi, kefasihan menggunakan bahasa asing itu tidak ada gunanya apabila menggunakan bahasa sendiri saja tidak benar.

Mari berbahasa Indonesia dengan baik dan benar!

Posted in: Bahasa Indonesia