Bismillah, Saya Bergabung Dengan Partai Gerindra

Posted on Juli 28, 2008 by

70


Lambang Partai Gerindra Setelah mempelajari naskah Deklarasi Partai, AD/ART Partai Gerakan Indonesia Raya (Partai Gerindra) maka dengan mengucakan “Bismillahirrahmaanirrahiim” saya bergabung dengan Partai Gerindra.

Partai dengan nomor urut 5 ini saya nilai akan menjadi partai yang menjadi bagian dari pemecahan masalah, terutama bagi masyarakat lemah, baik yang lemah secara ekonomi maupun sosial. Partai Gerindra akan mengusung program dari masyarakat dan melaksanakan program tersebut.

Saya sendiri selama ini sangat sulit untuk menentukan partai untuk menyalurkan aspirasi dan melakukan perjuangan. Akan tetapi, Partai Gerindra mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Ide mengenai ekonomi kerakyatan untuk mewujudkan kemandirian sangat sesuai dengan idealisme saya bahwa bangsa yang dihamparkan oleh Allah di atas kepulauan Nusantara ini akan mampu mandiri dengan segala potensi yang dimilikinya asal dapat dikelola dengan baik oleh orang-orang yang berprinsip untuk meletakkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan. Saya menilai Indonesia mampu untuk mewujudkan kemandirian dengan melakukan perdagangan antar pulau. Kita tidak harus bergantung kepada pihak asing karena segala potensi sumberdaya alam kita menyediakan hampir semua yang kita perlukan.

Selain statuta partai, saya juga melihat figur Pak Prabowo Subianto. Saya sendiri mengagumi Pak Prabowo yang bisa legowo menghadapi apa-apa yang ditimpakan kepada beliau. Terlepas dari semua kejadian itu, Pak Prabowo masih merah putih. Nasionalismenya lebih kuat dari politisi-politisi yang telah membuat bangsa ini carut-marut, politisi yang mengaku nasionalis tetapi gemar mengobral kekayaan negara.

Saya memiliki idealisme yang saya tuangkan dalam sebuah kalimat “Indonesia untuk Indonesia”. Dengan idealisme itu saya ingin memperjuangkan sebuah Indonesia yang benar-benar untuk Indonesia. Saya sangat kecewa melihat kekayaan alam Indonesia dijual mentah-mentah ke luar negeri tanpa diberi nilai tambah dulu. Masih mending kalau hal tersebut memberi nilai tambah kepada bangsa dan negara kita. Buktinya, rakyat di sekitar areal pertambangan yang dijual mentah-mentah tersebut tidak terangkat kesejahteraannya. Kita dapat melihat bagaimana rakyat di sekitar tambang tembaga yang dikontrakkaryakan ke Freeport, di sana ada negara dalam negara. Negara kecil di dalam kompleks pertambangan sangat mewah dan modern sementara rakyat pribumi pemilik kekayaan alam hidup dalam masa prasejarah dan tidak terangkat kesejahteraannya secara signifikan walaupun sudah tigapuluhan tahun kekayaan alam bumi mereka dikeruk oleh asing. Kita juga bisa melihat rakyat di daerah Duri, Riau. Di sana, di bawah tanah minyak (minyak bumi) dan di atas tanah minyak (minyak sawit) tetapi kesejahteraan masyarakat sana juga tidak tinggi. Ketika musim kelangkaan minyak, rakyat di sana juga mengalami. tengoklah pula bagaimana pabrik pupuk kita menjerit kekurangan pasokan gas sementara gas alam kita justru diprioritaskan untuk melayani permintaan asing.

Hal-hal yang demikian itu merupakan perwujudan anasionalisme. Kalau kita ini nasionalis, maka selalu kepentingan bangsa akan diletakkan di atas kepentingan apa pun.

Saya mengajak Anda untuk menjadi bagian dari pemecahan masalah untuk bangsa ini. Mari berjuang bersama dan bergabunglah dengan Partai Gerakan Indonesia Raya!

Ditandai: