Kelompok Eksklusif Anak-anak Elit Jakarta di SMA Taruna Nusantara

Posted on Juli 19, 2008 by

51


SMA Taruna Nusantara Magelang merupakan sekolah yang didirikan atas prakarsa almarhun Jendral LB Moerdani pada tahun 1980-an. Sekolah itu menerima siswa pertamakali pada tahun 1990. Sesuai salah satu wawasan yang diajarkan di sekolah berasrama itu, yaitu wawasan kenusantaraan, semua siswa berasal dari seluruh provinsi yang ada di nusantara. Saat itu masih 27 provinsi sehingga dari 281 siswa angkatan pertama, ada perwakilan dari setiap provinsi.

Saya masih ingat nama dari tiga teman saya yang berasal dari Timor Timur. Mereka adalah Virgilio, Jaulino dan Adelino. Nama belakang mereka samar-samar di kepala saya. Kalau tidak salah Virgilio Da Costa, Jaulino Da Costa Pinto. Untuk Adelino, saya tidak ingat sama sekali.

Para siswa SMA Taruna Nusantara angkatan pertama adalah mereka yang menduduki ranking 1 – 10 dari kelas satu sampai kelas tiga di SMP masing-masing. Harapannya adalah agar SMA Taruna Nusantara mendapat input yang bagus. Kita semua tentu paham bahwa SMA 1 Teladan di Yogyakarta merupakan sekolah yang selalu mendapat input paling bagus dari seluruh penjuru Yogyakarta. Dari input yang bagus itu SMA 1 Teladan selalu menghasilkan lulusan yang berkualitas pula. Demikian pula SMA Taruna Nusantara, ingin mendapat input yang bagus untuk menghasilkan output yang bagus. Bedanya, input untuk SMA Taruna Nusantara tidak hanya baik secara akademik tetapi harus seimbang antara tiga hal: akademik, kesamaptaan jasmani dan kepribadian. Oleh karenanya, seleksi untuk masuk ke SMA Taruna Nusantara yang saya ceritakan pada tulisan berjudul 14 Juli 1990 melingkupi semua aspek tersebut.

Namun, karena ketidakmerataan kualitas pendidikan di Indonesia, teman-teman saya dari Timor Timur ternyata tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Ketiga teman saya itu tidak naik ke kelas dua dan pindah ke SMA Taman Siswa di Jakarta. Kendala utama teman dari Timor Timur saat itu adalah Bahasa Indonesia mereka yang kurang lancar. Alhamdulillah, hal itu tidak dialami oleh teman-teman yang asli dari Irian Jaya. Ada tujuh orang teman saya dari Irian Jaya waktu itu dan tiga di antaranya adalah dari Irian Jaya. Mereka adalah Eriek Kadir Sully, Jermias Rontini dan Johny Edison Isir. Ketiganya saat ini sudah menjadi Perwira Menengah Polisi dengan pangkat Komisaris Polisi. Eriek dan Jermias di Brimob. Johny Edison Isir pernah di Densus 88. Sedangkan empat yang lain adalah Ferry Tobing, Agustinus Wahyudi (yang paling dekat dengan saya), Yudi Iskandar dan Komisaris Polisi Ikhlas Putro Wasono. Saya masih ingat nama lengkap mereka kan!

Saya ingat empat anak dari Irian Jaya yang bukan putra asli Papua itu pada saat calon siswa satu graha (barak) dengan saya di Graha VII. Saya ingat Ikhlas Putro Wasono yang pernah kambuh malarianya, Yudi Iskandar yang hitam kurus tinggi dan bicaranya sering sulit saya mengerti karena dialeknya, Ferry Tobing yang sudah misterius sejak dulu dan Agustinus Wahyudi yang kudapan roti tawarnya selalu diberikan kepada saya. Agustinus Wahyudi itu aslinya dari Temanggung. Dia adalah anak Katholik yang semasa SMA menjadi sahabat saya.

Berbeda dari anak-anak Timor Timur, anakianak dari Irian Jaya ini tangguh-tangguh. Ferry Tobing, Yudi Iskandar dan Isir (CMIIW) masuk jurusan Fisika (A1). Jurusan yang saya tidak mampu masuki. Agustinus Wahyudi masuk Biologi (A2). Sisanya masuk IPS (A3). Saya sendiri masuk jurusan Biologi karena tidak pantas masuk A1 dan tidak diterima masuk A3.

Anak-anak cemerlang lain adalah Abdullah Syafaat dari Kalimantan. Kristianus Iwan Patoding dari Sulawesi Selatan. Herman Ardiyanto, penggemar Kho Ping Ho, dari Bengkulu. Abdullah Syafaat sejak lulus SMA mendapat beasiswa ke Jepang dan saat ini menetap dan beristri orang Jepang. Patoding jadi pegawai Bea Cukai. Herman Ardiyanto jadi ahli pesawat riset tak berawak di Bandung. Saya? Jadi blogger nggak punya juntrungan, hehehe…

Mayor Penerbang Wastum adalah anak petani dari Cirebon. Dia menjadi penerbang pesawat F-16 bersama Mayor Penerbang Firman Dwi Cahyono. Dari Aceh ada Komisaris Polisi Armaini yang karena tugas negara di Densus 88 selalu bergerak memburu tersangka teroris. Pada saat gempa Aceh, keluarganya menjadi korban dan hanya seorang adiknya yang selamat. Armaini hanya ke Aceh untuk mencari keluarganya dan setelah ketemu adiknya, dia pergi lagi menjalankan tugas negara.

Saya selalu bangga dengan mereka, anak-anak cemerlang dari kampung halamannya masing-masing. Mereka yang bukan berasal dari kalangan borjuis tetapi mampu mencatatkan prestasi yang luar biasa. Saya ingat cerita adik kelas saya asal Cirebon yang pada saat liburan berkunjung ke rumah Wastum. Pilot F-16 itu waktu itu sedang membantu ayahnya mencangkul di sawah. Sungguh luar biasa!

Oleh karena itu, saya sangat sedih ketika mendengar SMA Taruna Nusantara harus berubah menjadi sekolah berbayar. Saya merasa akan banyak anak-anak cemerlang dari keluarga pas-pasan atau melarat yang tidak akan mampu bersekolah di SMA yang sangat hebat itu. Saya takut SMA Taruna Nusantara berubah menjadi sebuah sekolah yang lebih mementingkan untuk menampung anak orang yang mampu membayar lebih walaupun kemampuannya kurang daripada anak orang melarat yang sangat cemerlang.

Saya lebih sedih lagi mendengar cerita bahwa di SMA Taruna Nusantara ada sebuah kelompok eksklusif yang berisi anak-anak super power dari Jakarta. Mereka ini anak-anak dari orang sangat berpengaruh. Kalau bukan pengaruh kekuasaan, ya pengaruh ekonomi. Kelompok eksklusif anak Jakarta ini bernama gank ASOY. Mereka ini sungguh tidak terpuji karena selalu membantah arahan para Pamong Pengajar Pengasuh (guru) yang pada masa kami dulu merupakan orang yang sangat kami hormati karena mereka adalah orang tua kami juga.

Entah siapa manusia-manusia yang telah terbeli jiwa dan kepribadiannya sehingga tidak mampu mengeluarkan anak-anak yang selalu membantah gurunya itu. Anak-anak yang merasa bahwa uang orang tua mereka telah membeli semua yang ada hubungannya dengan SMA Taruna Nusantara. Kalau pun ada jiwa-jiwa di LPTTN yang terbeli, insya’ Allah jiwa kami para alumni angkatan beasiswa tidak pernah bisa dibeli.

Para siswa yang sekolah di SMA Taruna Nusantara Magelang dengan membayar itu pun berpikir bahwa dengan membayar mereka merasa bisa berbuat sekehendaknya sendiri. Angkatan yang baru lulus tahun ini pada saat lulusan merusak properti sekolah mulai dari pintu graha (asrama), tempat tidur, meja belajar, rak handuk, dan sebagainya. Seorang alumni angkatan I yang berkunjung ke kampus SMA Taruna Nusantara pada saat liburan pasca kelulusan dan kenaikan kelas sempat menyaksikan betapa berantakannya graha-graha akibat vandalisme yang dilakukan oleh angkatan yang baru lulus itu.

Sungguh perbuatan yang tidak terpuji. Saya ingat bahwa kami dulu yang lulus dan akan meninggalkan kampus harus meninggalkan graha dalam keadaan baik karena akan ditempati oleh adik-adik kami. Oleh karena itu, kami dulu melakukan kurvey (kerja bakti) untuk membersihkan dan mengecat graha. Sungguh berkebalikan dengan apa yang dilakukan anak-anak yang baru lulus tahun ini.

Saya yakin anak-anak yang merusak properti sekolah itu tidak memahami arti wawasan kejuangan, wawasan kebangsaan dan wawasan kenusantaraan yang menjadi wawasan dari SMA Taruna Nusantara. Anak-anak itu juga tidak memiliki kepribadian sebagai manusia yang bertanggung jawab. Sungguh sangat disayangkan kalau ternyata demi mendapatkan dana, SMA Taruna Nusantara harus mengorbankan nilai-nilai luhur yang diajarkan para pendiri. Mengorbankan tradisi-tradisi prestasi yang selalu dikedepankan. Mengorbankan kualitas lulusan (secara rata-rata) yang tidak mampu mengungguli angkatan-angkatan beasiswa.

Semoga LPTTN terbuka matanya bahwa anak-anak orang Jakarta memiliki kelompok eksklusif di SMA Taruna Nusantara. Kelompok eksklusif yang selalu membantah pamong pengajar pengasuhnya. Saya kira LPTTN tahu masalah ini karena ada siswa berbayar asal Magelang yang tidak lulus SMP dan masuk ke SMA Taruna Nusantara Magelang dengan membayar Rp200juta. Entah siapa orang LPTTN yang memutuskan menerima. Yang jelas, akibat melakukan itu, SMA Taruna Nusantara menjadi bahan ejekan di Magelang.

Anda berduit dan ingin anak Anda masuk SMA Taruna Nusantara Magelang? Silakan saja hubungi orang-orang Lembaga Perguruan Taruna Nusantara (LPTTN). Ketua LPTTN adalah jenderal aktif dan para pengurusnya sebagian besar para pensiunan TNI.

Ditandai:
Posted in: Pendidikan, SMA TN