- edensor – Hanya Sebuah Buku Harian?

Posted on Mei 18, 2008 by

4


image Menyusul khatamnya Sang Pemimpi saya juga khatam membaca edensor hari ini. Namun sayang seribu sayang saya merasakan grafik kepuasan saya menurun membaca edensor ini. Lebih rendah dari Sang Pemimpi yang nilai kepuasan saya telah lebih rendah dari Laskar Pelangi. Kalau digambarkan grafik kepuasan saya menurun dari LP ke SP dilanjutkan turun lagi dari SP ke edensor.

Berbeda dengan Laskar Pelangi — terlepas dari saya merasa bodoh — membaca edensor tidak memberi sensasi rasa seperti yang diberikan oleh Laskar Pelangi. Edensor saya rasakan datar saja dan membacanya hanya berasa seperti membaca sebuah buku harian.


Saya bukan kritikus sastra. Sastra bukan disiplin saya. Di sini saya hanya menyampaikan apa yang saya rasakan ketika membaca tetralogi Laskar Pelangi. Sudah tiga novel yang saya baca dan seperti yang saya nyatakan di atas, skor kepuasan saya menurun dari buku pertama ke buku kedua dan turun lagi ke buku ketiga.

Saat membaca Laskar Pelangi saya memiliki ekspektasi bahwa Sang Pemimpi dan edensor akan lebih dahsyat atau paling tidak sedahsyat Laskar Pelangi. Apa boleh dikata, ternyata edensor hanya menampilkan cerita-cerita perjalanan dengan imajinasi yang menurut saya tidak setinggi Laskar Pelangi. Memang, kalau dinilai edensor lebih masuk akal daripada Laskar Pelangi. Namun, lebih masuk akal bukan berarti selalu lebih baik kan?

Namun, terlepas dari apa yang saya tulis di atas, saya masih menunggu Maryamah Karpov. Bukankah ini sebuah tetralogi? Sungguh tidak lucu kalau saya membaca tetralogi hanya sampai buku ketiga. Tentu saja saya mengharapkan Maryamah Karpov kembali meledakkan kepuasan saya.

Ditandai:, ,
Posted in: Buku