Berbeda dengan Laskar Pelangi yang membuat saya menjadi bodoh, Sang Pemimpi sudah mampu membuat saya menjadi manusia rata-rata. Saya tidak bodoh dan tidak pintar dan keadaan itu cukuplah untuk membantu saya menikmati cerita dalam Sang Pemimpi dengan lebih baik.
Cerita yang disuguhkan dalam Sang Pemimpi sangat manusiawi dan saya kira banyak contohnya yang terjadi di dunia nyata. Saya kira Andrea Hirata mampu menyampaikan dengan sempurna pesan bagi pembacanya untuk berani bermimpi.
Sudah banyak orang yang menyampaikan bahwa pencapaian-pencapaian luar biasa yang berhasil dicatatkan oleh umat manusia berasal dari mimpi yang dibuat. Tentu kita harus memandang mimpi di sini sebagai cita-cita. Bukan mimpi yang menjadi bunga tidur kita. Andrea Hirata menyampaikan pesan untuk berani bermimpi itu dengan kemampuan bertuturnya yang apik dan dengan contoh yang sangat menggugah. Tokoh Arai yang telah menjadi yatim piatu sejak kecil justru menjadi tokoh yang mengajarkan kepada Ikal untuk terus bermimpi. Sungguh sangat membangkitkan semangat ketika Arai menasehati Ikal ketika Ikal melorot drastis rankingnya.
“Biar kau tahu, Kal, orang seperti kita tak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi, dan kita akan bertempur habis-habisan demi mimpi-mimpi itu!!”
(Satu catatan saya pada kalimat itu adalah penggunaan kau dan bukan Kau. Sepanjang yang saya ingat dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, kata sapaan itu ditulis dengan huruf kapital pada huruf pertamanya. Apa sudah berubah kaidah itu?)
Saya tidak heran kalau Pak Nugraha berkomentar pada postingan saya tentang Laskar Pelangi bahwa istri beliau menjadi timbul lagi semangatnya untuk kembali meneruskan studinya setelah membaca Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan edensor (edensor baru saya baca). Dalam tingkat yang berbeda saya pun semakin mantap dengan mimpi-mimpi saya. Mimpi yang tak kalah gemerlapnya dengan keinginan untuk melanjutkan studi.
Sebagai perantau — walaupun tidak seperti Ikal dan Arai yang dari Belitong ke Jakarta tetapi hanya dari Sleman ke Tangerang — saya dulu pernah merasakan makan dengan uang pinjaman selama tiga bulan ketika saya sudah kehabisan uang pada saat saya harus menyelesaikan studi di Fakultas Ekonomi UPH. Tentu Sampeyan semua akan bertanya-tanya, “Bagaimana mungkin orang yang mampu kuliah di UPH bisa kehabisan uang. Bukankah mereka pasti orang mampu?” Nah, saya buka rahasia saya. Saya dulu kuliah di UPH dengan beasiswa penuh, dibayari kuliah dan diberi uang saku. Sayangnya ketika krisis moneter yang dilanjutkan krisis ekonomi moneter, pada semester ke-9 uang saku saya dicabut dan hanya uang kuliah yang diberikan. Saya pernah bekerja paruh waktu di Bank Lippo Card Center untuk mencukupi kebutuhan dasar saya. Namun ketika proposal skripsi saya tidak kunjung disetujui oleh Dr. Michael Elias Malat, padahal sudah lima proposal saya ajukan, saya memilih pulang ke Sleman. Ketika akhirnya saya harus kembali ke Jakarta ayah dan ibu saya tidak memiliki sepeserpun uang untuk membiayai kepulangan saya ke Tangerang. Saya sungguh berterimakasih kepada sahabat saya, gadis keturunan minang yang saya cintai, karena telah mengikhlaskan hasil refund uang kuliahnya untuk saya pergunakan menyelesaikan skripsi.
Ketika akhirnya uang dari dia habis saya mulai berhutang kepada teman-teman sambil saya mencari pekerjaan. Sebagai orang yang kepepet saya tidak memiliki kemewahan untuk memilih. Oleh karena itu, perusahaan yang menerima saya pertama, perusahaan itulah yang pertama akan saya layani. Dan perusahaan itu adalah perwakilan Haksan Ltd. Sebuah trading company dari Korea Selatan. Saya menjadi Quality Controller untuk sepatu Lacoste yang dipesan dari pabrik-pabrik sepatu di Indonesia.
Saya tidak bisa lulus 8 semester walaupun IPK rata-rata saya nyaris cum laude karena ada satu mata ujian negara yang gagal lulus dengan nilai E; mata kuliah Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Sudah tidak lihat final Piala Dunia 1998 antara Prancis dan Brasil untuk baca buku, eh, paginya ketika membaca soal ujian saya benar-benar tertegun. Seluruh isi buku yang saya baca tidak nyambung dengan soal ujian. Celakalah maju ujian kalau salah baca buku. Akibatnya, saya harus mengulang ujian dan kesempatan itu saya gunakan untuk memperbaiki beberapa nilai ujian negara yang masih belum memuaskan. Selalu ada hikmah di balik musibah!
Kalau Ibu saya tidak meminta saya berhenti sekolah dan menyuruh saya bekerja sudah pasti saya akan mencari beasiswa untuk melanjutkan S2. Namun, demi Ibu yang telah mengandung dan melahirkan saya, keinginan untuk berburu beasiswa saya masukkan kotak dan saya memilih bekerja. Apalagi situasi memaksa saya untuk segera mencari nafkah supaya saya bisa menanggung biaya hidup di Tangerang. Klop sudah keinginan Ibu dan keadaan saya.
Saat ini saya memang tidak tertarik untuk melanjutkan S2 tetapi saya memiliki mimpi-mimpi lain yang tak kalah besarnya di banding mereka yang mimpi untuk bersekolah setinggi mungkin. Perlu saya sampaikan bahwa kebetulan saja mimpi yang dikejar oleh Arai dan Ikal adalah untuk belajar di Universitas Sorbone. Akan tetapi, pesan yang ingin disampaikan melalui Sang Pemimpi adalah “bermimpilah dan perjuangkan mimpi-mimpi itu sekuat-kuatnya, jangan pernah menyerah!”
Bermimpilah. Apabila Sampeyan tidak berani bermimpi, bacalah Sang Pemimpi. Insya’ Allah novel itu akan merangsang mimpi-mimpi Sampeyan untuk berani keluar.
Nayantaka
Mei 19, 2008
Maryamah Karpov wis njedhul durung Kang?
edratna
Mei 22, 2008
Saya sempat baca di Kompas (lupa tanggalnya), Andrea malah tertegun saat tahu Maryamah Karpov sudah keluar, padahal katanya dia belum menyelesaikan bukunya. Saya sendiri belum sempat ke toko buku, tapi gaya bahasa Andrea kan tak mudah ditiru…jadi kalau orangnya beda, pasti akan terasa.
Btw, saya setuju dengan bang Kombor bahwa kita harus memiliki mimpi….saya pun sempat mengalami cobaan yang nyaris tak tertanggungkan.Hanya dengan mimpi dan doa tak putus, semua berakhir dengan indah.
Menuruti keinginan ibu tak salah, apalagi jika memang kondisi diperlukan, cuma mimpi untuk dapat S2 tak boleh dilupakan…karena umur berapapun itu bisa dikejar. Masalahnya, perlukan S2, atau sertifikasi? Tergantung pada bidang pekerjaan yang kita geluti.
Tulisan adik saya (alumni IPB, ambil master Computer Science di Indiana University) perlu dibaca…di
http://triwahjono.wordpress.com/2008/05/17/
mengapa-seseorang-bisa-lulus-s1-s2-s3/
fatz
Mei 23, 2008
aku sungguh terkersan baca buku ini..
kata arai”bermimpilah..karena tuhan akan memeluk mimipi kita…”"
sungguh novel yang menggugah jiwa,,,,
fatz
Mei 23, 2008
aku pengin bgt punya emailnya bang andrea hirata…
tolong donk..kasih tau emailnya…!!
Raffaell
Mei 23, 2008
Kirain ini novelnya tentang lagu yang dinyanyikan oleh band asal jokjakarta itu, sang pemimpi.
hehehehehe
putri
Juni 3, 2008
Sang pemimpi memang membuat saya benar-benar berani bermimpi…
Saya juga merasakan hal itu, pak. Saya punya banyak mimpi (walau sebenarnya itu bisa juga dibilang cita-cita) yang saya rasa secara rasional agak sulit diwujudkan. Tapi setelah membaca sang pemimpi, saya jadi berani untuk kembali memupuk mimpi2 saya…Kata-kata yang diucapkan ikal itu juga salah satu yang memotivasi. Ada sebuah kata lagi yang sampe sekarang masih saya ingat…”Realitas adalah racun yang akan membunuh optimisme”..(saya rasa itu pendapatnya Ikal)
Dan saya selalu yakin bahwa Allah SWT akan selalu memberi kemudahan buat hamba-hamba-Nya yang berusaha dengan gigih…
Kira
Juni 9, 2009
will encounter aregarding escortall, you certainlyone. Maybe you’re
forced sex free porn moviesprofessionalthese questions aredirectly forlocated on their
[url=http://forum.dtw.be/viewtopic.php?t=11060]free vid clips young teen porn[/url]inquiries you feelescort service isservices and compare
Arif
Mei 20, 2008
Aku durung ngobrak-abrik toko buku, Ki. Rung ngerti wis ana pa durung.