Jangan Merokok Banyak-banyak

Posted on Mei 10, 2008 by

11


Merokok bukan kebiasaan yang baik. Sama tidak baiknya dengan kegemaran minum-minuman beralkohol yang dapat menghilangkan kesadaran manusia. Sama juga tidak baiknya dengan narkotika dan obat-obat psikotropika yang membuat pemakainya berhalusinasi ke dunia khayalan yang tak pernah bisa dijamah. Rokok, minuman beralkohol, narkotika dan obat-obat psikotropika mengakibatkan kecanduan. Pada tingkat inilah letak kesamaan ketidakbaikannya.

Saya tidak akan membahas minuman beralkohol dan narkoba. Saya hanya akan bicara soal rokok.

Rokok tidak baik. Selain tubuh seorang perokok yang diancam banyak penyakit mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki, merokok jelas mengganggu bukan perokok untuk mendapatkan udara yang tercemar buangan asap kenalpot bersih. Asap rokok menambah parah udara yang sudah penuh gas karbon monoksida, karbondioksida, nitrogen monoksida dan partikel-partikel logam berat serta zat-zat pencemar yang lain.

Bukti ketidakbaikan rokok adalah larangan perokok pada anaknya yang ingin merokok. Saya punya tetangga yang perokok berat. Tetangga saya ini sudah almarhum. Anak ketiga almarhum suka bergaul dengan anak-anak yang lebih tua sehingga ketika usia SMP sudah fasih mengisap rokok. Almarhum tetangga saya ini sering menghukum anaknya kalau ketahuan merokok. Padahal, almarhum sendiri adalah perokok.

Nah, hal tersebut berbeda dengan yang saya lihat di Ciamis, tempat asal ibu saya. Di sana anak-anak umur lima tahun sudah bebas merokok. Hampir semua pria di lingkungan tersebut merokok. Mencari pria yang tidak merokok sangatlah sulit. Sungguh lebih mudah mendapatkan wanita yang merokok daripada mencari pria yang tidak merokok.

Saya sangat senang apabila lebaran ke Ciamis karena di sanalah saya yang masih kecil bebas merokok bersama saudara-saudara. Almarhum bapak kehabisan cara untuk melarang saya dan mas saya merokok apabila kami sedang di Ciamis. Almarhum bapak sendiri bukan perokok. Beliau sama sekali tidak bisa merokok. Lucu sekali ketika melihat almarhum bapak merokok pada acara-acara jagongan di kampung. Kami meminta agar almarhum bapak tidak usah merokok karena almarhum bapak memang tidak bisa merokok.

Saya sendiri belajar merokok sejak kelas lima sekolah dasar. Sungguh terlambat apabila dibandingkan dengan saudara-saudara di Ciamis. Saya masih ingat waktu itu Rokok MinakDjinggo harganya Rp25 per batang. Rokok putih yang murah adalah Commodore, isi 20 batang harganya Rp350. Saya sama sekali tidak suka Commodore. Yang saya sukai adalah Djarum Super atau MinakDjinggo filter.

Saat SMP, saya sudah lebih fasih merokok. Saya suka main bersama teman-teman agar bisa merokok. Di rumah tentu saja saya akan menghadapi amarah almarhum bapak apabila kedapatan merokok. Almarhum bapak bukan perokok sehingga saya merasa bahwa apabila almarhum bapak marah melihat saya merokok merupakan hal yang wajar. Berbeda dengan almarhum tetangga saya yang perokok berat itu. Melarang anaknya merokok seperti orang tidak punya cermin.

Ada kejadian lucu yang saya alami pada saat SMP dulu. Almarhum bapak dan ibu pergi kondangan. Saya tidak tahu kemana dan hanya berpikir bahwa mereka akan pergi lama. Oleh karena itu saya santai-santai saja merokok di dapur sambil menanak nasi seperti yang dipesankan oleh ibu sebelum pergi. Kami masih memasak pakai luweng yang memakai kayu bakar sehingga saat memasak harus ditongkrongi supaya apinya tidak mati. Hmm… Nikmat sekali bisa merokok di rumah tanpa harus sembunyi-sembunyi. Saya pun menikmati momen tersebut sepenuh hati.

Tiba-tiba, tanpa saya sadari almarhum bapak sudah berdiri di belakang saya sambil berkacak pinggang dan geleng-geleng kepala. Sebentar kemudian beliau mengelus dada. Saya pun diinterogasi.

“Jadi Kamu ini merokok ya?”
“Iya, Pak.” Saya tidak mungkin bohong karena tertangkap basah sedang merokok.
“Sudah lama Kamu merokok?”
“Sudah.”
“Belum bisa cari duit sudah merokok. Nyusahin orang tua saja.”
“Saya tidak pernah minta uang untuk beli rokok,” kata saya membela diri.
“Lalu dari mana kamu dapat uang untuk beli rokok?”
“Jual telur ayam kampung.”
“Oh… Pantes setiap hari bapak periksa telur ayam di petarangan tidak nambah-nambah. Ternyata kamu ambil ya.”
“Iya. Saya suka ambil satu dari setiap petarangan. Kan saya setiap pagi disuruh ke rumah bibi untuk mengambil pakan.” Kami punya bibi yang membuka warung makan dan setiap pagi saya ditugasi menenteng ember untuk mengambil sisa-sisa makan para pembeli untuk pakan ayam, entok, angsa dan bebek peliharaan almarhum bapak. Karena sering ikut makani, saya merasa berhak untuk mengambil telur guna keperluan saya.

“Bisa berhenti merokok nggak?”
“Wah, susah Pak. Nggak bisa.” Saya menjawab dengan jujur.
“Ya sudah. Kalau tidak bisa berhenti, merokoknya jangan banyak-banyak.”
“Wah, ya jelas nggak bisa kalau merokok banyak-banyak?”
“Apa maksudmu?”
“Saya kalau merokok satu-satu, Pak, nggak bisa banyak-banyak.”
Almarhum bapak melotot memandang saya sambil berkata, “Dasar bocah ngeyelan.” Habis itu almarhum bapak meninggalkan saya.

Ternyata kejadian itu diceritakan pada tetangga kami yang juga sudah almarhum, Pak Wiyono. Dalam kesempatan kami bertemu. Misalnya dalam kerja bakti di mana ada almarhum bapak, almarhum Pak Wi dan saya, Pak Wi akan berkata, “Tok, kalau merokok jangan banyak-banyak.” Saya pun akan menjawab spontan, “Nggak kok Pak Wi, saya merokoknya satu-satu.” Lalu almarhum Pak Wi akan tertawa sambil memandang almarhum bapak yang tersenyum kecut.

-oOo-

Alhamdulillah sejak Juni 2007 lalu saya sudah berhenti merokok. Saya harus mengurangi faktor risiko stroke atau penyakit jantung koroner. Saya punya riwayat hipertensi. Tidak pernah berolah raga, sering tidur larut dan merokok plus minum kopi. Sudah gitu saya sudah kelebihan berat badan. Dengan rendah badan 163 cm berat badan saya 80 kg. Sungguh postur yang tidak akan menarik wanita manapun kecuali muka saya ditutupi jaguar atau mercy seri terbaru. Mulai berolah raga jelas sulit. Olah raga saya adalah nonton motogp, f1 dan kadang nonton pertandingan sepakbola atau tinju. Jenis olahraga yang tidak mengeluarkan keringat karena bergerak tetapi tetap basah kuyup karena kegerahan. Dus, saya memilih berhenti merokok dan berhenti ngopi. Itu yang paling mudah saya lakukan dan justru akan memberi penghematan sampai dengan Rp400ribu sebulan.

Sungguh berhenti merokok itu mudah.

Posted in: Umum Bebas