Membaca Laskar Pelangi Serasa Bodoh

Posted on Mei 9, 2008 by


Kalau tidak salah ingat saya pernah menyampaikan bahwa saya sudah mengakuisisi Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan edensor dari Gramedia Karawaci. Laskar Pelangi belum selesai saya baca. Pembatas masih saya selipkan di antara halaman 384 dan 385. Saya baru akan membaca Bab 28 yang berjudul Societeit de Limpai. Minggu lalu saya sama sekali libur membaca. Tentu Sampeyan semua tahu mengapa saya bisa libur membaca. Yang belum tahu bisa membaca-baca postingan minggu lalu (maaf, bukan promosi).

Saya belum selesai membaca Laskar Pelangi. Novel yang sangat terlambat saya baca. Terus-terang saya memang agak kurang suka segala sesuatu yang pop. Apa pun yang pop dan jadi tren sesaat hampir pasti tidak akan saya ikuti. Sebagai bukti sampai saat ini saya belum pernah membaca Saman yang konon spektakuler. Saya belum pernah membaca Ayat-ayat Cinta. Filmnya pun saya tidak nonton. Apa yang pop, kecuali post office protocol tidak mampu membuat saya ikut-ikutan.

Lalu, mengapa saya mengakuisisi tiga dari tetralogi Laskar Pelangi?

Jujur saya katakan bahwa saat ini saya ingin mencari keseimbangan jiwa. Sejak mulai bekerja rasanya jiwa ini kering. Saya tidak lagi menulis sajak-sajak cinta kacangan. Saya tidak membaca cerpen Kompas Minggu dan sajak-sajak yang dimuat di sana. Bahkan saya jarang membaca Al-Quran lagi. Saya merasa hidup ini begitu kering. Saya kelelahan mengejar gaji dan melupakan bahwa saya punya hidup yang harus saya jalani dengan hidup sehidup hidup.

Tinggal di Tangerang dan bekerja di Jakarta walaupun remunerasinya jauh lebih tinggi daripada hidup seadanya yang saya jalani di Sleman selama satu setengah tahun pada pertengahan 2002 sampai akhir 2003 tetapi rasanya kurang bermakna. Saya merasa lebih menjadi manusia seutuhnya di Sleman dengan segala keterbatasan yang ada. Yang pasti, saya bisa bermasyarakat karena saya tidak menghabiskan sebagian besar hari di tempat kerja. Saya masih bisa bersosialisasi dengan masyarakat. Bekerja bakti atau saling membantu dengan tetangga. Di sini, hari terasa sangat pendek sehingga sosialisasi dengan tetangga serasa kurang. Untung ada KBBC sehingga saya bisa bersosialisasi kembali.

Nah, saya ingin menyeimbangkan jiwa. Saya percaya bahwa sastra mampu memberikan keseimbangan pada jiwa kita. Sastra akan membantu kita mengolah rasa dan memberi jiwa kita isi untuk mengimbangi olah pikir yang selalu kita lakukan.

Karya adik kelas saya, ES Ito, yaitu Negara Kelima dan Rahasia Meede sudah tamat saya baca. Begitu pula lima seri Gajah Mada karya Langit Kresna Hariadi. Saya butuh basuhan baru dan saya putuskan untuk mengakuisisi tetralogi Laskar Pelangi supaya istri saya juga bisa ikutan baca.

Namun, berbeda dengan Negara Kelima, Rahasia Meede dan lima seri Gajah Mada yang terasa ringan saya baca, Laskar Pelangi karya Andrea Hirata membuat saya seperti orang bodoh. Benar Andrea Hirata menyukai biologi dan sains. Namun, justru karena itu saya menjadi seperti orang bodoh. Saya banyak tidak tahu nama-nama latin species yang disebutkan dalam Laskar. Pelangi sehingga saya tidak bisa membayangkan binatang atau tumbuhan apa yang sedang disebutkan. Saya benar-benar seperti si buta yang mendeskripsikan gajah. Membaca tetapi tidak mengerti yang saya baca. Memang ada glosarium di akhir buku tetapi cukup mengganggu kenikmatan membaca apabila sedikit-sedikit saya harus membuka glosarium.

Selain itu, saya tidak bisa membayangkan anak-anak SD Muhammadiyah yang diceritakan di sana bisa memiliki pengetahuan memadai tentang sebuah suku di Afrika. Padahal, mereka berlatar belakang orang marginal. Koran saja terlambat satu bulan. Apakah SD Muhammadiyah itu punya perpustakaan berkoleksi lengkap?

Adik ipar saya yang masih duduk di bangku SMP ingin membaca Laskar Pelangi juga. Entahlah anak yang masih gemar membaca tinlit dan ciklit itu apa akan mampu mencerna Laskar Pelangi dengan baik. Saya sendiri kalau harus mengeluarkan apa yang saya cerna melalui saluran sekresi saya pasti akan merasakan sembeli yang luar biasa sakit karena banyak yang saya harus telan mentah-mentah tanpa bisa saya kunyah dengan penuh penghayatan untuk mengurai rasanya satu per satu.

Saya ingin tahu, apakah hanya saya yang menjadi orang bodoh ketika membaca Laskar Pelangi. Sudahkan Sampeyan membaca novel itu?

Ditandai:,
Posted in: Buku, sastra