seharusnya sinar matahari
engkau bagi dengan anak-anak muda
yang sejak lahirnya
telah engkau payungi
dengan perisai kharisma
atau ketakutan semata
sebaiknya kepada mereka
kau buka daun jendela malam
agar terlihat purnama penuh
dengan korona memancar pamor
kekuatan dan kekuasaan atas sebuah negeri
yang siap kau wariskan
istirahatlah dengan damai
di bukit-bukit hijau milikmu
dan mulai munajat pada ilahi
dzikirkan ratap tobat
dan doa keselamatan dinasti
2 Februari 1998
—-oOo—-
Keterangan: Sajak itu saya tulis sebagai pesan kepada penguasa orde baru, sebelum Pak Tua itu lengser keprabon
sawali tuhusetya
April 1, 2008
lirik yang bagus, mas arif. memang sudah saatnya negeri ini dikelola dan diurus oleh yang muda2. yang tua2, apalagi yang sudah lama menikmati singgasana kekuasaan, sudah seharusnya rela dan legawa utk menyerahkan mahkota dan singgasana merak kepada generasi muda. sayangnya, tak banyak pemimpin yang punya visi semacam itu.
Ternyata masih relevan ya, Pak? Sungguh waktu itu saya menulis sajak itu khusus untuk alharhum Pak Tua. Lihat saja tanggalnya, 2 Februari 1998.
Ersis Warmansyah Abbas
April 1, 2008
Wow bagus amat … jago ya bikin puisi. Selamat.
Terimakasih Pak Ersis. Tidak sejago Pak Ersis tentunya, yang puisinya sudak diterbitkan.
Koko
April 11, 2008
Ah, pak tua..kami menolak warisanmu
hutang di mana-mana
sumber daya alam diambil semua
kami disisakan apa?
sampah dan polusi
korupsi dan kolusi
mati di dalam lumbung padi.