Bangsa Anasionalis

Posted on Maret 23, 2008 by

5


Saya semakin lama semakin pesimis melihat perkembangan bangsa ini. Kalau saya amati, bangsa ini bukan semakin maju melainkan sebaliknya, semakin menenggelamkan diri.

Sementara bangsa-bangsa lain semakin gemilang dan mantap dengan jatidiri mereka, kita malah menderita krisis identitas, kita tidak memiliki jatidiri. Mungkin identitas kita saat ini adalah bangsa pengimpor segala. Tengoklah di sekitar kita, apa yang tidak kita impor. Minyak kita impor. Jeruk kita impor. Mobil kita impor. Sepeda motor kita impor. Peniti kita impor. Jarum jahit kita impor. Alat-alat pertukangan sepuluh ribu tiga yang sama sekali tidak bermutu kita impor. Bahkan, sampah pun (termasuk sampah B3) kita impor. Masihkah Sampeyan mau membantah?

Jatidiri yang kedua yang dapat saya sarikan dari pengamatan saya selama hidup ini (tentu saja saat sudah punya nalar) adalah kegemaran pemimpin dan pengusaha licik kita untuk melayani luar negeri dan menelantarkan bangsa sendiri. Lihat saja Tembagapura yang digadaikan ke Amerika sementara rakyat Papua tetap dibiarkan berkoteka. Lihat saja gas bumi yang diekspor mentah-mentah ke luar negeri sehingga tidak ada nilai tambah yang dapat ditawarkan. Lihat saja minyak sawit yang lebih asyik dijual ke luar negeri tanpa sedikitpun keinginan untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri yang hanya sedikit. Lihat saja hasil laut kita, yang terbaik dijual ke luar negeri dan sisa-sisa yang tak bermutu baru dilempar ke dalam negeri.

Identitas ketiga kita adalah penghambur devisa. Pejabat, istri pejabat, DPR, keluarga DPR, istri dan anak-anak pengusaha atau pemburu gaya, semuanya gemar menghamburkan duit di luar negeri. Mereka membelanjakan uang untuk membeli barang-barang yang ada di dalam negeri. Kalau keluarga pengusaha, bolehlah kita lihat mereka itu memakai uang sendiri. Kalau pejabat dan keluarganya plus DPR dan keluarganya, perlulah kita pertanyakan dari mana asal uang yang mereka belanjakan itu. Boleh dong kita menganggap mereka membelanjakan uang hasil perbuatan ilegal.

Identitas keempat, kita adalah bangsa yang gemar merugikan negara. Pejabat negara, pengusaha, semuanya paling gemar merugikan negara. Yang pejabat merugikan negara dengan menyetujui kontrak karya – kontrak karya gila dengan mengambil keuntungan pribadi dan mengabaikan keuntungan negara dan rakyat. Pejabat negara dan pengusaha merugikan negara melalui pembelian peralatan tempur TNI yang mahal tapi ompong. Pejabat militer gemar mencuri dari anggaran di lingkungannya. Rakyat gemar mencuri hasil dalam negeri dan menjualnya ke luar negeri.

Tidak adakah identitas yang baik, kok keempat identitas itu negatif semua? Begini ya, saya tidak suka menutupi kenyataan. Kalau kita memiliki identitas yang baik, tentu bangsa kita ini sudah makmur. Sebagai penghasil minyak bumi, kita tidak perlu pusing antri BBM. Sebagai penghasil minyak sawit, kita tidak perlu takut harga minyak goreng melambung gila-gilaan. Saya tidak suka menghibur diri dengan mengatakan bahwa kita ini bangsa yang ramah. Buktinya, pilkada kita selalu diwarnai bentrokan. Buktinya, pelajar bahkan mahasiswa gemar tawuran. Mana ada bangsa yang ramah yang gemar bentrok beradu okol dan tawuran? Gombal amoh!

Akar Semua Itu

Menurut saya, akar dari semua kebobrokan kita adalah ketiadaan nasionalisme kita sendiri. Pejabat-pejabat negara tidak punya nasionalisme. Anggota DPR tidak memiliki nasionalisme. Pejabat militer yang sok nasionalis tidak punya nasionalisme. Pengusaha tidak punya nasionalisme. Rakyat tidak punya nasionalisme. Kita tidak memiliki kecintaan yang sangat kepada bangsa ini.

Cepat atau lambat kita akan memanen semua itu. Sebagai bangsa yang anasionalis saat ini kita berdiri di atas pondasi yang rapuh. Kita dapat bercerai-berai kapan saja. Apalagi, nilai pengikat kita sebagai bangsa nampaknya sudah mulai luntur. Kita bergabung sebagai bangsa hanya karena persamaan nasib yang dipaksakan, yaitu sama-sama dijajah Belanda. Kita bergabung sebagai bangsa bukan karena persamaan cita-cita untuk menjadi besar bersama, maju bersama dan sejahtera bersama. Saya sendiri memandang bahwa mempertahankan yang besar ini dengan konsekuensi tetap miskin adalah pilihan yang buruk. Kalau bisa kecil, kaya dan makmur, mengapa memilih besar miskin dan sengsara?

Kalau kita sudah tidak memiliki nasionalisme Indonesia maka keruntuhan Indonesia adalah keniscayaan. TNI tidak akan mampu mengatasi apabila seluruh wilayah secara bersamaan menyatakan pensiun dari NKRI. Jujur saja, kemungkinan itu bisa terjadi.

Ditandai:
Posted in: Politik