Langka Kedelai Di Negeri Tempe

Posted on Januari 15, 2008 by

5


Hari-hari ini Sampeyan tidak lagi bisa mengatakan bahwa tempe itu makanan ndeso, makanannya orang melarat yang tidak mampu membeli daging atau telur. Makanan yang bisa dimasak suka-suka itu kini harganya berlipat dua. Bahkan, yang lebih parah lagi, dia bersama kerabatnya yang empuk yang bernama tahu sudah hilang dari pasar. MIOL mewartakan bahwa tahu tempe menghilang dari pasar tradisional Bogor. Kemarin, tukang sayur yang menjadi langganan kami sudah tidak membawa tahu – tempe.

Hmm… di warteg depan kantor saya, setiap kali makan pasangan tempe – tahu itu tidak pernah absen. Konon tempe itu bergizi tinggi dan dapat mencegah kanker sehingga saya rajin memakannya. Yang paling sering saya makan adalah tempe goreng dan tahu goreng. Sayur tahu di warteg saya jarang makan karena lidah saya lebih cocok dengan tahu yang digoreng. Coba makan di warung makan di Jogja, tempe bacem dan tahu bacem yang nikmat pasti akan saya makan. Di Jakarta atau Tangerang susah mencari warung makan yang punya tempe dan tahu bacem. Mungkin orang Tegal tidak suka bikin tempe dan tahu bacem karena di warteg saya tidak pernah menjumpai tempe dan tahu bacem.

Tempe bisa dimasak suka-suka. Digoreng hanya dengan bumbu bawang putih, ketumbar dan garam rasanya nikmat. Dibakar juga oke. Dibacem enak. Disayur lodeh juga bisa. Atau, yang kadang saya lakukan adalah membuat sambel tempe. Tempe yang digoreng tanpa bumbu diulek dengan sambal cabe rawit yang hanya dibumbui bawang putih dan garam. Hmm… rasanya nikmat betul. Saking nikmatnya orang tidak pernah memikirkan bahwa suatu saat mereka akan sulit untuk mencari tempe di pasar. Mereka tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa kedelai yang menjadi bahan mentah tempe dan tahu itu sebagian diimpor dari luar negeri.

Saya selalu memikirkan, setelah minyak bumi langka, minyak goreng langka, dan susu bayi langka, apa lagi yang akan langka. Beras yang merupakan makanan pokok orang Indonesia tentu akan dilindungi sampai titik darah penghabisan oleh pemerintah. Gula pun juga demikian. Saya pernah berpikir bahwa suatu saat bangsa ini akan kesulitan untuk mendapatkan kedelai yang sebagiannya diimpor. Eh… ndilalah kok hari-hari ini kejadian. Kedelai langka di negeri tempe. Pengusaha tahu dan tempe banyak yang sudah tidak berproduksi lagi karena mahalnya harga kedelai. Akibatnya, orang-orang kecil semakin kehilangan sumber protein.

Saya tahu bahwa Indonesia mengimpor kedelai sejak kelas III SMP. Kegemaran membaca koran membuat saya tahu bahwa kedelai yang menjadi bahan baku tempe, tahu dan kecap itu ternyata diimpor dari luar negeri. Pak Siswono Yudhohusodo pada acara Todays Dialogue di MetroTV tadi malam mengatakan bahwa pada masa Pak Harto dulu Indonesia pernah swasembada kedelai. Sayang saya lupa tahun berapa itu. Direktur Budidaya Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Departemen Pertanian Muchlizer Murkan mengatakan pada tahun 1992 Indonesia pernah swasembada kedelai. Setelah itu, seperti halnya beras yang pernah dicapai swasembadanya hanya pada 1983, kita sampai hari ini tidak pernah swasembada kedelai. Bahkan, komposisi impor semakin menigkat sedangkan produksi lokal semakin menurun.

Grafik impor kedelai (dari BI)

Grafik produksi kedelai RI (dari BI)

Masalah kedelai yang mestinya bisa ditangani di tingkat menteri sampai harus membuat Presiden SBY membahas masalah tempe pada sidang kabinet di Departemen Pertanian. Pemerintah sudah mennghapus bea masuk impor kedelai tetapi hal tersebut tidak mampu menekan harga kedelai. Departemen Pertanian sih sudah mengaku siap untuk mengembangkan kedelai di daerah non padi. Sebelumnya pemerintah pernah menargetkan bahwa 2006 adalah tahun swasembada kedelai. Namun yang terjadi, pada tahun 2007 impor kedelai justru meningkat. Mudah-mudahan kali ini pemerintah serius dengan programnya dan mampu mengkonsolidasikan seluruh potensi bangsa untuk bersama-sama mengupayakan swasembada kedelai supaya tidak terjadi lagi kelangkaan kedelai di negeri tempe. Memalukan bukan, kita marah proses pembuatan tempe dipatenkan Jepang tetapi di negeri tempe ini hari-hari ini langka tempe.

Apa yang sudah ditulis di blogosfer mengenai masalah kelangkaan kedelai dan hilangnya tempe-tahu dapat dilihat di sini >>>>>>.

Ditandai:
Posted in: Manajemen, Nasional