Moh Arif Widarto

Archive for Januari 2008

Selamat Jalan Ijal

with 6 comments

Pukul 04.39 WIB ada panggilan di telepon genggam saya. Panggilan itu tidak terangkat karena saya sedang di air. Istri saya bilang sekitar pukul setengah dua juga ada panggilan dari teman saya, Nasip. Panggilan itu tidak diangkat oleh istri saya karena saya baru tertidur sekitar pukul satu lepas tengah malam. Saya baru saja terlelap dan istri saya tidak sampai hati membangunkan saya.

Pas Shubuh saya telpon Kisdiyanto yang menelpon saya pukul setengah empat. Dari operator mendapat tanggapan bahwa telepon berada di luar servis area. Saya panggil nomor telpon Nasip, sama juga. Saya panggil nomor rumah Kisdiyanto dan diangkat oleh istrinya. Saya tanyakan di mana Pak Kis dan dijawab bahwa Pak Kis ada di rumah Nasip.

“Ada apa?”

“Anak Pak Nasip meninggal.”

“Meninggal? Siapa?”

“Saya juga nggak jelas, Mas, karena selsai menerima telpon tadi Mas Kis langsung ke tempatnya Pak Nasip. Entah yang pertama entah yang mana.”

“Ya sudah, kalau begitu saya akan ke sana saja.”

Baca entri selengkapnya »

Written by Kombor

Januari 30, 2008 at 11:37 am

Ditulis dalam Banten, Kesehatan, Tangerang

Ditandai dengan , , , ,

Selamat Jalan Ijal

with one comment

Pukul 04.39 WIB ada panggilan di telepon genggam saya. Panggilan itu tidak terangkat karena saya sedang di air. Istri saya bilang sekitar pukul setengah dua juga ada panggilan dari teman saya, Nasip. Panggilan itu tidak diangkat oleh istri saya karena saya baru tertidur sekitar pukul satu lepas tengah malam. Saya baru saja terlelap dan istri saya tidak sampai hati membangunkan saya.

Pas Shubuh saya telpon Kisdiyanto yang menelpon saya pukul setengah empat. Dari operator mendapat tanggapan bahwa telepon berada di luar servis area. Saya panggil nomor telpon Nasip, sama juga. Saya panggil nomor rumah Kisdiyanto dan diangkat oleh istrinya. Saya tanyakan di mana Pak Kis dan dijawab bahwa Pak Kis ada di rumah Nasip.

“Ada apa?”

“Anak Pak Nasip meninggal.”

“Meninggal? Siapa?”

“Saya juga nggak jelas, Mas, karena selsai menerima telpon tadi Mas Kis langsung ke tempatnya Pak Nasip. Entah yang pertama entah yang mana.”

“Ya sudah, kalau begitu saya akan ke sana saja.”

Nasip dan Kisdiyanto adalah teman SMP saya dari SMP1 Sleman. Nasip yang asal Jlapan, Pondokrejo, Tempel adalah teman sekelas saya sejak kelas satu sampai kelas tiga. Kalau Kisdiyanto yang dari Glagahombo, Pondokrejo, Tempel beda kelas. Selepas SMP mereka melanjutkan ke STM. Lulus STM mereka merantau ke Tangerang. Nasip bekerja di pabrik kontener sedang Kisdiyanto di PT. Hasi sampai saat ini. Saat kuliah di UPH saya kembali bertemu dengan Nasip di Tangerang. Kalau Kisdiyanto setelah bekerja saya baru tahu kalau dia juga bekerja di Tangerang.

Nasip sudah berkeluarga. Istrinya berasal dari Garut. Mereka telah memiliki dua orang anak, keduanya laki-laki. Syaiful Rijal, anak pertama berumur sembilan tahun dan duduk di kelas tiga SD. Adiknya bernama Alfi, masih berumur empat tahun. Syaiful Rijal atau dipanggil Ijal adalah anak yang berbeda dari anak kebanyakan. Pembawaannya sangat kalem dan sabar. Selain itu, dia juga sangat rajin sholat dan puasa. Dia tidak pernah ketinggalan sholat jamaah di mushola di Perumahan Tigaraksa di dekat rumahnya di Jalan Garuda IV. Menurut Pak Ustadz yang berbincang dengan saya, Ijal merupakan satu-satunya anak kecil yang berjamaah sholat Shubuh. Di saat anak lain masih belum bangun Ijal sudah ikut berjamaah Shubuh di masjid. Pak Ustadz mengamati Ijal beberapa kali berangkat belakangan kalau sholat Maghrib. Ketika suatu kali ditanya oleh Pak Ustadz, Ijal menjawab bahwa dia berbuka dulu. Pak Ustadz mengaku sangat malu bahwa anak sekecil itu sudah rutin puasa Senin – Kamis.

Para tetangga pun memiliki kesan bahwa Ijal ini anak yang berperilaku dewasa. Dia tidak nakal. Selalu menjawab apabila ditanya oleh tetangga. Pokoknya sikapnya sangat menyenangkan dan itu menjadikan Ijal sebagai anak yang sangat di kenal di lingkungannya. Ditambah lagi Pak Nasip dan Bu Nasip adalah guru ngaji yang merintis pengajian dari rumah kontrakannya sampai dipindahkan ke mushola ketika lingkungan itu sudah memiliki mushola.

Ijal benar-benar anak yang istimewa. Saya mengetahui itu karena saya tahu bagaimana keadaannya sejak dia bayi. Saya sering bersilaturahim ke rumah Nasip sejak zaman dia belum berkeluarga. Ketika sudah berkeluarga saya pun cukup sering bertandang. Kecuali ketika saya pulang dan tinggal di Sleman saya tidak mengunjungi rumahnya di Perumahan Tigaraksa, Tangerang.

Kini Ijal sudah tiada. Ajalnya tiba karena demam berdarah. Penyakit yang telah membunuh ribuan orang di Indonesia tetapi sampai sekarang pemerintah dan masyarakat sudah menganggap penyakit ini sebagai penyakit biasa. Terkena demam berdarah dipandang sebagai takdir yang tidak bisa ditolak dan semua orang tinggal menunggu arisan saja. Padahal, semua itu dapat dicegah kalau pemerintah memiliki program yang jelas dan rakyat dengan sadar mau bahu-membahu bersama pemerintah dalam menjalankan program pemberantasan dan pencegahan.

Hari Jumat Ijal mengelu tidak enak badan. Badannya panas. Dia dibawa ke klinik bidan di kompleks itu. Katanya sakit panas biasa. Sabtu, Minggu, Senin Ijal masih memaksa untuk sholat. Menurut bapaknya, Ijal tidak mau makan karena setiap makan dia akan muntah. Agar ada makanan Ijal diminta makan kueh karena nasi benar-benar tidak bisa dimakannya lagi. Hari Selasa panas Ijal tinggi sekali. Ijal kemudian diberi penurun panas. Namun, setelah diberi penurun panas justru panas ijal turun drastis dan tubuhnya berbalik menjadi sangat dingin. Karena bapaknya bekerja, lepas Maghrib Ijal baru dibawa ke rumah sakit. Dengan mobil tetangga Ijal di bawa ke Klinik Citra Sehat. Klinik yang terbesar di Perumahan Citra Raya tetapi tidak punya dokter tetap dan todak punya UGD. Karena terlalu lama antri, Ijal dibawa ke RS Selaras. Di sini ijal diambil sampel darahnya dan diberi oksigen. Darahnya sudah sangat hitam. RS Selaras menyatakan tidak mampu menangani dan dirujuklah Ijal ke RS Husada Insani, Tangerang. Ijal masuk rumah sakit pukul sepuluh malam. Ketika bapaknya pulang untuk mengambil pakaian ganti, pukul setengah dua pagi dia mendapat kabar kalau Ijal sudah diambil kembali oleh Allah SWT. Seketika itu juga Nasip yang merupakan teman main saya ketika di SMP membuat panggilan ke HP saya tetapi tidak terangkat karena saya tidak mendengar dan istri saya tidak sampai hati membangunkan saya.

Bakda Shubuh saya langsung meluncur ke Jl. Garuda IV di Perumahan Tigaraksa. Sudah banyak orang di sana temasuk Kisdiyanto. Agak lama saya peluk Nasip. Saya tidak bisa bicara apa-apa. Saya hanya memeluknya. Kata-kata yang dapat keluar dari mulut saya hanya, “Sabar, Sip. Ikhlaskan.” Setelah itu baru saya masuk ke rumah dan menyampaikan duka saya kepada Eti istrinya. Jenazah Ijal ada di ruang tamu yang sempit ditunggui ibunya dan beberapa pelayat. Saya tidak melihat muka jenazah Ijal. Saya belum bisa menata duka saya sehingga saya mengatakan, “Nanti saja. ” kepada Kisdiyanto yang menanyakan apakah saya akan melihat muka Ijal atau tidak. Saya melihat muka Ijal pada saat dia disucikan dan dikafani. Wajahnya begitu teduh.

Puncak kesedihan saya adalah ketika Ijal akan disholatkan. Saya teringat bagaimana dia selalu mengalah kepada Alfi, adiknya. Ijal sangat sabar. Berbeda dengan Alfi yang agak pemarah. Dan, Ijal selalu bersikap sabar kepada adiknya. Dia tidak pernah menyakiti adiknya. Terakhir perjumpaan saya dengan Ijal adalah ketika Idul Fitri 1428H lalu dia bersilaturahmi ke rumah orang tua saya di Sleman. Lalu saya balas bersilaturahim ke rumah orang tua Nasip di Jlapan. Yang paling akhir adalah ketika Eti, Ijal dan Alfi bersama saya sekeluarga kembali dari kampung ke Tangerang. Saya yang membawa Avanza kantor ketika pulang ke Sleman bersama keluarga Kisdiyanto dan kembalinya ke Tangerang bersama istri dan anak-anak Nasip.

Selamat Jalan ijal. Semoga Allah menerimamu di sisi-NYA karena engkau belum memiliki dosa. Ijinkan Pak Lik memajang gambar pusaramu sebagai tanda cinta Pak Lik kepadamu dan peringatan buat Pak Lik bahwa ajal bisa datang kapa saja tanpa mengenal usia dan tanpa bisa dicegah lagi.

Makam Syaiful Rijal bin Nasip Mulyanto

Syaiful Rijal

Lahir: 22 Mei 1999

Wafat: 30 Januari 2008

 

- * -

Demam berdarah adalah musuh nyata. Penyebabnya kasat mata, hanya nyamuk, tetapi kita manusia Indonesia ini tidak berdaya. Tidak bisa berbuat apa-apa. Sungguh mengenaskan karena kita hanya menunggu giliran untuk terkena.

Perumahan Tigaraksa hanya sejengkal dari komplek pemerintahan Kabupaten Tangerang — Kota Tigaraksa — dan warga Perum Tigaraksa itu sudah banyak yang terkena penyakit menular ini. Akan tetapi, jarak yang sejengkal itu tidak mampu membuat Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang cancut taliwaondho. Lalu bagaimana dengan wilayah lain yang jauh dari ibukota Kabupaten Tangerang?

 

Update 1 Februari 2008:

Tengah malam tadi Nasip menelpon saya, “Tok, aku njaluk ngapu
ro
,” katanya. “Ana apa, Sip?” “Alfi, Tok. Alfi masuk rumah sakit.” “Masuk rumah sakit? Loro apa?” “Podho kakange, DBD. Aku njaluk ngapuro, Tok. Nek ana salahku dingapurani. Aku mung ngabari iki, nek Alfi mlebu rumah sakit.” “Yo wis, saiki dileremke atine, sing sabar. Sesuk esuk aku tak mampir rumah sakit.”

Cobaan untuk pejuang Allah memang luar biasa. Belum hilang duka atas meninggalnya Ijal, keluarga Nasip sudah harus merawat Alfi yang juga menderita demam berdarah. Saya pribadi belum tentu bisa menanggung ujian seperti itu.

Tadi pagi saya dan istri pergi ke rumah sakit tempat Alfi dirawat. Saya bawakan kurma karena banyak orang mengatakan jus kurma cepat untuk membantu memulihkan trombosit penderita demam berdarah dengue. Ketika saya tanyakan di rumah sudah disemprot anti nyamuk secara tuntas atau belum Nasip mengatakan bahwa sudah diajukan permintaan fogging tetapi belum dilakukan. Sementara nasip di rumah sakit,
para tetangga yang membantu menyelenggarakan tahlil untuk ijal di Perum Tigaraksa.

Written by Kombor

Januari 30, 2008 at 11:32 am

Ditulis dalam Umum Bebas

Ditandai dengan

Tambah Kategori Blogroll

with 14 comments

Dengan adanya Komunitas Bloger Benteng Cisadane atau KBBC maka saya merasa perlu untuk menambah satu lagi kategori Blogroll di Kombor.Com. Sebelumnya, saya sudah memiliki kategori Alumni SMATN dan Blogroll. Alumni SMATN saya gunakan untuk menampung blog yang dikelola oleh alumni SMA Taruna Nusantara Magelang. Sedangkan, Blogroll untuk blog secara umum. Tentunya blog Indonesia karena saya jarang sekali membaca blog luar negeri.

Saya memang tidak memasang blogroll di halaman depan karena akan sangat panjang kalau dipasang di halaman depan. Akan tetapi Sampeyan semua jangan khawatir, blog Sampeyan tetap saya taut ke Kombor.Com. Saya menggunakan layanan dari Blogrolling dan pada saat membuat blogroll saya tautkan blogroll tersebut ke Kombor.com.

Saya sangat menyukai Blogrolling karena saya bisa membuat blogroll sebanyak saya suka. Saat ini ada tiga blogroll yang sudah saya buat dan semuanya menaut ke Kombor.Com yaitu Alumni SMATN, Bloger Benteng Cisadane, dan Blogroll. Kalau nanti ada Komunitas Bloger Tidak Mutu mungkin saya akan gabung dan membuat kategori blogroll yang baru.

Apakah blog yang saya blogroll memberi taut balik?

Baca entri selengkapnya »

Written by Kombor

Januari 24, 2008 at 4:19 am

Ditulis dalam Blogroll, Tangerang

Ditandai dengan , ,

Payah, Nokia Tidak Punya Handphone CDMA dengan Phonebook 1000 atau Lebih

with 10 comments

Saat ini telepon selular CDMA sudah menjadi andalan saya. Tarifnya yang murah dengan dukungan mobilitas yang juga sudah memadai membuat telepon genggan saya yang GSM praktis hanya digunakan untuk menerima panggilan. Untuk melakukan panggilan saya akan menggunakan telepon genggam CDMA. Pengalaman saya, penggunaan telepon genggam CDMA bisa menghemat 40% – 50% biaya telepon seluler yang semula dengan GSM. Oleh karena itu, nomor CDMA sudah saya naikkan menjadi nomor pasca bayar. Sedangkan, nomor GSM masih tetap prabayar. Tidak diisi pulsa juga tidak apa-apa karena nomor itu masa berlakunya sampai 2010 nanti.

Saat ini saya menggunakan telepon genggam Nokia 6275i. Saya pilih telepon berbentuk batang itu karena pada waktu keluar dulu telepon genggam itu merupakan salah satu telepon genggam CDMA Nokia yang fiturnya paling canggih. Konektivitas menggunakan bluetooth, sinar infra merah atau kabel data. Kamera 2 juta piksel, ada slot untuk kartu memori sampai dengan 1GB. Dan bla-bla-bla. Reviewnya ada di sini.

Semua fitur di atas tidak menyusahkan saya. Kameranya sering saya gunakan untuk mengabadikan peristiwa-peristiwa yang saya anggap penting untuk difoto. Foto-foto dari jepretan kamera telepon genggam itu yang kemudian saya publikasikan melalui Photobor. Piranti lunak Nokia PC Suite memudahkan saya untuk memindahkan foto dari kartu memori telepon ke notebook kantor dengan menggunakan bluetooth. Bahkan, kadang-kadang telepon genggam itu saya gunakan untuk mengisi blog atau blogwalking. Malam Sabtu lalu bahkan saya mengabiskan empat jam untuk mengakses internet menggunakan telepon genggam saya sebagai modem.

Radionya kadang-kadang saya gunakan untuk mendengarkan siaran dari Radio Elshinta, satu-satunya stasiun radio yang saya dengarkan. Saya tidak pernah mendengarkan musik melalui radio. Siaran musik di televisi pun saya tidak pernah tonton. Entah kenapa dengan diri saya tetapi saya tidak dapat menikmati musik dan tidak menyukainya.

Fitur Nokia N6275i bagus. Yang tidak cukup bagi saya adalah buku teleponnya yang sangat miskin. Hanya mampu menyimpan 500 nama. Kartu SIM hanya 250 nama. 750 nama terlalu sedikit buat saya. Saya selalu teringat pada kutipan yang berbunyi: kawan seribu terlalu sedikit, musuh satu terlalu banyak. Oleh karena itu 750 nama terlalu sedikit untuk saya.

Saya amati semua telepon genggam CDMA Nokia miskin buku telepon. Angka 500 adalah angka paling tinggi untuk telepon genggam CDMA Nokia. Yang lain ada yang 200. Huh! Apalagi yang 200. Orang macam apa yang puas dengan 200 nama saja di buku teleponnya?

Saya iri dengan telepon genggam GSM keluaran Nokia yang memiliki buku telepon dinamis (dynamic phonebook), bisa disimpan di kartu memori. Sehingga, yang membatasi banyaknya catatan yang akan disimpan di buku telepon bukan setingan telepon melainkan kapasitas memori. Mengapa telepon genggam GSM Nokia bisa begitu tetapi telepon genggam CDMA Nokia tidak bisa?

Saya malas setiap kali akan memanggil seseorang harus membuka buku telepon dari teleon genggam GSM saya kemudian keypad telepon genggam CDMA. Sungguh sangat tidak praktis. Alasan itu yang membuat saya membeli Audiovox 6700 yang ternyata malah ceritanya menjadi lain karena Adhi Purnomo Basuki pemilik KFK Cellular itu tidak pernah mengembalikan Audiovoc 6700 saya yang sedang diperbaikinya. Sampeyan semua tentu teringat pada cerita mengenai saya yang mencari Adhi Purnomo Basuki sampai hari ini. Gerai KFK Cellular yang di Jl. Kembangan Selatan sudah tidak ada dan alamat di Taman Cipinang Indah Blok B2 No. 2 adalah alamat palsu. Alamat itu yang didaftarkan di PonselJakarta.Com dan menurut ketentuan PonselJakarta.com, setiap toko HP yang akan memasang iklan di PonselJakarta.Com akan disurvey. Hah? Bohong banget. Bahkan, dua kali email saya ke marketing@ponseljakarta.com tidak pernah dibalas.

Saya membeli Audiovox 6700 karena tidak mampu membeli Dopod 818 CDMA. Padahal, kalau saya pikir-pikir lagi saya mungkin bisa ngutang dulu sama teman untuk bisa membeli Dopod 818 itu. Sekarang, saya tetap memakai Nokia 6275i yang miskin buku alamat itu.

Saya akan tunggu sampai setahun ke depan. Kalau Nokia tidak mengeluarkan telepon genggam CDMA yang memiliki buku telepon dinamis mungkin saya akan mencari Dopod 818 CDMA yang bekas. Kok bekas? Iya, saya yakin setahun ke depan Dopod 818 CDMA bekas sudah murah.

Written by Kombor

Januari 22, 2008 at 7:29 am

Ditulis dalam Teknologi Informasi dan Komunikasi

Ditandai dengan ,

Fairing Satria FU untuk Bajaj Pulsar 180DTSi

with 22 comments

Posting kali ini tentang modifikasi Bajaj Pulsar 180DTSi. Akan tetapi, berbeda dengan biasanya yang kebanyakan teks saja, kali ini saya akan lebih banyak menampilkan gambar daripada teks. Modifikasi memang bukan bidang saya sehingga banyak aspek yang tidak saya kuasai. Yang menggerakkan saya untuk mempublikasikan mengenai fairing Satria FU untuk Bajaj Pulsar 180DTSi ini adalah:

  • murah
  • mudah
  • mantap

Murah karena harha fairing Satria FU ini menurut empunya modifikasi diperoleh dengan harga Rp 75.000,-. Mudah karena hanya sedikit bagian dari fairing FU yang dipotong supaya bisa “plek” dengan tanki bensin Bajaj Pulsar 180DTSi. Mantap karena hasilnya betul-betul membuat banyak penunggang serigala yang kemecer ingin meniru.

Pak Haris, demikian nama pemilik serigala warna biru yang sudah dimodifikasi dengan ditambahi fairing Satria FU, spatbor belakang dibuang, mesin dan pelek (velg) dikerok sedikit dan knalpot dibobok sehingga suaranya jadi gahar tapi tidak berisik.

Karena ilmu saya tidak cukup untuk menulis tentang modifikasi, berikut saya tampilkan saja gambarnya supaya Sampeyan semua dapat menilai sendiri apakah motor Pak Haris ini jadi cakep atau tidak. Menurut saya dan beberapa pulsarer yang melihat sih TT alias top tenan!

Aksi fairing FU di Pulsar 180cc

Image065 Image063

Mesin dikerok sehingga menurut Pak Haris menjadi tampak seperti “mesin” karena kelihatan warna logamnya.

Image066

Pelek dikerok sehingga banyak yang nanya, “Beli di mana nih, peleknya?”

Image067

Spatbor belakang juga dicukur habis.

Image068

Aksi modifikasi lengkap. Maaf ya, ada kardusnya, nggak sampai hati meminta Pak Haris membongkar belanjaannya.

Image069 

Pak Haris (pakai jaket) menerangkan cara memasang fairing FU ke Pulsar 180cc:

Image070

Proyek Pak Haris selanjutnya adalah mengubah serigalanya menjadi monoshock. Tentu tampilan serigala biru Pak Haris akan lebih sangar lagi. “Akan lebih menyerupai Ducati Desmosedici tunggangan Stoner.” Kata Pak Haris yang mengidolakan Stoner. Huh! Itu kan yang menjungkalkan jagoan saya di motoGP.

Saya benar-benar tertarik untuk memberi Si Ngorok fairing seperti milik Pak Haris supaya Si Ngorok tidak kelihatan telanjang.

Written by Kombor

Januari 21, 2008 at 7:31 am

Ditulis dalam Motor

Ditandai dengan ,

Kopdar Bloger Tangerang

with 29 comments

20 Januari 2008 Bloger Tangerang jadi kumpul di foodcourt WTC Serpong. Ada 12 orang yang hadir.

  1. Kang Caplang
  2. Kang Anggara
  3. Jenderal Bayut
  4. Kang Payjo
  5. Mbak Hanna
  6. Mbak Triyani
  7. Kang Away
  8. Kang Jalal
  9. Kang Indrio
  10. Kang Tukang Kopi (ini pulang ke Citra Raya mbonceng Si Ngorok)
  11. Kang Harry 
  12. Kombor

Intruder Tamu Agung: Kang Herry (Bandung), Kang Moerz (Bekasi)

(Daftar lengkap ada di Kang Caplang yang membawa daftar hadir kopi darat tadi. Silakan diintip blognya apa sudah ada reportasenya.)

Acara diisi dengan perkenalan. Satu persatu Bloger memperkenalkan diri. Mulai dari Kang Caplang, saya lalu ditutup Mbak Triyani yang keasyikan di Gramedia sehingga lupa kalau ada kopdar. Kemudian, karena suasana di foodcourt berisik, sidang dipindahkan ke Solaria. Berikut suasana setelah pindah ke Solaria:

Image073-kecil Image074-kecil

Mbak Hanna yang menjadi sponsor kopdar perdana ini. Beliau membayari makan siang dan memberi doorprize berupa tiga buah buku. Kang Caplang yang jadi provokator tidak bertanggung jawab akhirnya memenangkan doorprize juga. Selain Kang Caplang, Payjo yang mengawali dengan mencari Bloger Tangerang dan kang Herry yang menjadi Tamu Agung pada kebagian doorprize juga.

doorprize-yang-dimenangkan-caplang

Hasil kopi darat perdana:

  • Bloger Tangerang akan berkumpul lagi di rumah Kang Caplang. Waktunya belum ditentukan.
  • Bloger Tangerang akan membuat sebuah kategori (WP) atau label (blogspot) tambahan di blognya, yaitu Tangerang.
  • Pengumpan kategori/label Tangerang akan dikumpulkan dalam sebuah agregator blog. Nama belum dirumuskan.
  • Akan dibuat milis Bloger Tangerang
  • Untuk kegiatan offline akan dilakukan kegiatan sosial kemasyarakatan. Program akan dibuat per proyek.

Foto-foto lihat reportase Kang Caplang kalau sudah ada.

Written by Kombor

Januari 20, 2008 at 2:02 pm

Ditulis dalam Komunitas, Kopi Darat, Tangerang

Ditandai dengan ,

Fairing Satria FU untuk Bajaj Pulsar 180DTSi

without comments

Posting kali ini tentang modifikasi Bajaj Pulsar 180DTSi. Akan tetapi, berbeda dengan biasanya yang kebanyakan teks saja, kali ini saya akan lebih banyak menampilkan gambar daripada teks. Modifikasi memang bukan bidang saya sehingga banyak aspek yang tidak saya kuasai. Yang menggerakkan saya untuk mempublikasikan mengenai fairing Satria FU untuk Bajaj Pulsar 180DTSi ini adalah:

  • murah
  • mudah
  • mantap

Murah karena harha fairing Satria FU ini menurut empunya modifikasi diperoleh dengan harga Rp 75.000,-. Mudah karena hanya sedikit bagian dari fairing FU yang dipotong supaya bisa “plek” dengan tanki bensin Bajaj Pulsar 180DTSi. Mantap karena hasilnya betul-betul membuat banyak penunggang serigala yang kemecer ingin meniru.

Pak Haris, demikian nama pemilik serigala warna biru yang sudah dimodifikasi dengan ditambahi fairing Satria FU, spatbor belakang dibuang, mesin dan pelek (velg) dikerok sedikit dan knalpot dibobok sehingga suaranya jadi gahar tapi tidak berisik.

Karena ilmu saya tidak cukup untuk menulis tentang modifikasi, berikut saya tampilkan saja gambarnya supaya Sampeyan semua dapat menilai sendiri apakah motor Pak Haris ini jadi cakep atau tidak. Menurut saya dan beberapa pulsarer yang melihat sih TT alias top tenan!

Aksi fairing FU di Pulsar 180cc

 Image065 Image063

Mesin dikerok sehingga menurut Pak Haris menjadi tampak seperti “mesin” karena kelihatan warna logamnya.

Image066

Pelek dikerok sehingga banyak yang nanya, “Beli di mana nih, peleknya?”

Image067

Spatbor belakang juga dicukur habis.

Image068

Aksi modifikasi lengkap. Maaf ya, ada kardusnya, nggak sampai hati meminta Pak Haris membongkar belanjaannya.

Fairing-FU-di-Pulsar

Pak Haris (pakai jaket) menerangkan cara memasang fairing FU ke Pulsar 180cc:

Image070

Proyek Pak Haris selanjutnya adalah mengubah serigalanya menjadi monoshock. Tentu tampilan serigala biru Pak Haris akan lebih sangar lagi. “Akan lebih menyerupai Ducati Desmosedici tunggangan Stoner.” Kata Pak Haris yang mengidolakan Stoner. Huh! Itu kan yang menjungkalkan jagoan saya di motoGP.

Saya benar-benar tertarik untuk memberi Si Ngorok fairing seperti milik Pak Haris supaya Si Ngorok tidak kelihatan telanjang.

Written by Kombor

Januari 20, 2008 at 6:56 am

Ditulis dalam Bajaj Pulsar 180DTSi

Dua Serigala di Gebyar Muharram 1429H

with 8 comments

Pada Gebyar Muharram 1429H di Citra Raya, Tangerang ada dua ekor serigala yang berhasil diitemukan diantara puluhan bebek. Serigala merah dan serigala hitam.

Serigala merah sudah tentu Si Ngorok, milik orang yang punya blog ini. Serigala hitam belum teridentifikasi. Pemiliknya tidak ketemu sehingga tidak sempat bincang-bincang.

Akhir-akhir ini semakin banyak serigala di wilayah Jabodetabek. Saya sudah semakin sering mendahului, didahului atau berpapasan dengan serigala-serigala lain pada saat sedang menjelajah jalanan. Salam khas dengan klakson dua kali acap saya lakukan walaupun tidak selalu penunggang serigala itu membalas. Saya pun kalau ditoet-toet tidak selalu membalas. Kadang-kadang karena situasi jalanan yang sedang ramai kita lebih baik konsentrasi pada pengendalian motor. Menyintas dengan metode SEE-SIPDE kalau kata Mas Caplang provokator kopi darat Bloger Tangerang yang akan dilaksanakan di food court WTC Serpong pada 20 Januari 2008 ba’da coblosan Bupati Tangerang.

 singorok

 sihitam

Source: Gebyar Muharram 1429H

Bajaj Pulsar 180DTSi nama aseli serigala itu. Motor buatan Bajaj Auto India yang di Indonesia hadir dengan Bajaj Auto Indonesia. Pertumbuhan populasi Bajaj Pulsar 180DTSi diperkirakan akan menurun mulai tahun 2008 ini menyusul masuknya generasi baru Pulsar dengan cc yang lebih besar yaitu Bajaj Pulsar 200DTSi.

Kira-kira akan ada berapa serigala pada kopi darat bloger Tangerang nanti ya?

Written by Kombor

Januari 18, 2008 at 8:33 am

Ditulis dalam Pulsar

Ditandai dengan ,

Bajaj Pulsar 200cc Akhirnya Diluncurkan

with 17 comments

Kesimpangsiuran isu pada kuartal ketiga 2007 lalu akhirnya terbukti BAI alias Bajaj Auto Indonesia akhirnya meluncurkan Bajaj Pulsar 200cc di Indonesia. Adalah KafeMotor yang meluncurkan bisikan bahwa BAI akan merilis Pulsar 200cc pada Januari 2008. Sebagai pengendara Bajaj Pulsar 180DTSi pada Desember 2007 saya mencoba mencari konfirmasi dari Fontana Merdeka, dealer Bajaj Pulsar di Jl. Merdeka, Tangerang. Pihak Fontana Merdeka mengatakan bahwa mereka belum diberi informasi oleh Fontana Pusat mengenai akan diluncurkannya Bajaj Pulsar 220cc. Mereka mengatakan bahwa kalau akan ada produk baru pihak BAI pasti mengumpulkan semua dealer untuk diberi briefing. Saya sih menduga Fontana Merdeka hanya mencoba utuk menyembunyikan informasi tersebut supaya Bajaj Pulsar 180DTSi yang digelar di gerainya tetap laku. Kalau ada kepastian berita bahwa pada Januari 2008 akan diluncurkan Bajaj Pulsar 200cc tentu pembeli akan menunggu motor yang akan bertarung di pasar motor melawan Si Macan, Honda Tiger Revo.

Selang waktu peluncuran Pulsar 200cc di India dan Indonesia adalah satu tahun. Di India, Pulsar 200cc diluncurkan pada Januari 2007. KafeMotor memuat bisikan mengenai akan duluncurkannya Pulsar 200cc ini pada November 2007 lalu.

Spesifikasi Bajaj Pulsar 200DTSi

Tipe mesin: 4-tak, 1 silinder, Air cooled, SOHC
Kapasitas mesin: 198,6 cc
Tenaga maksimum: 18 dk
Torsi maksimum: 17,17 Nm
Transmisi: 5 kecepatan
Suspensi depan: Teleskopik
Suspensi belakang: NitroX shock absorbers
Rem depan: Cakram 260 mm
Rem belakang: Tromol
Pelek: Alloy wheels 17 inci
Ban depan: 90/90-R17
Ban belakang: 120/80-R17
Wheelbase: 1.345 mm
Berat kosong: 145 kg

Sayangnya, penambahan kapasitas sebesar 20cc hanya memberikan kenaikan tenaga sebesar 1,5 daya kuda. Pulsar 200cc 18dk dan Pulsar 180cc 16,5dk. Akan tetapi, tetap saja tenaga maksimum Pulsar 200cc lebih besar dari Tiger Revo yang 16,7dk. Bagi pemilik Pulsar 180cc tidak harus segera melego Pulsarnya dan menggantinya dengan yang 200cc. Kalau butuh cc besar, bore up saja Pulsar 180cc dan belikan oil cooler, begitu kata Ilham KafeMotor kepada saya November 2007 lalu.

Apakah saya akan ganti ke Pulsar 200cc?

Kalau pingin sih iya. Sayangnya, Si Ngorok masih utang 16 angsuran lagi. Kalaupun mau ganti berarti saya harus nunggu 16 bulan lagi. Itu kalau belum ada varian dengan cc lebih besar tentunya. (Nggaya banget sih. Padahal postur tubuh sebenarnya lebih cocok kalau saya ini make Yamaha Mio. Hahaha…)

Harga

Karena pertanyaan Den Praditya di sini, informasi ini saya tambahkan.

Apabila Sampeyan kepincut dengan Bajaj Pulsar 200cc ini maka Sampeyan perlu mengeluarkan mas kawin sebesar Rp 20 juta. Sedangkan, untuk Bajaj Pulsar 180cc produksi 2008 harganya Rp 17 juta. Harga Bajaj Pulsar 180cc naik dari Rp 16,5 juta OTR (Jabodetabek) menjadi Rp 17 juta.

Untuk Bajaj Pulsar 200cc harganya hanya terpaut Rp 3 juta dari Tiger Revo. Sedangkan, untuk Bajaj Pulsar 180cc menjadi sama dengan Megapro-nya Primus. Iya nggak sih?

Written by Kombor

Januari 17, 2008 at 6:09 am

Ditulis dalam Motor

Ditandai dengan ,

Langka Kedelai Di Negeri Tempe

with 5 comments

Hari-hari ini Sampeyan tidak lagi bisa mengatakan bahwa tempe itu makanan ndeso, makanannya orang melarat yang tidak mampu membeli daging atau telur. Makanan yang bisa dimasak suka-suka itu kini harganya berlipat dua. Bahkan, yang lebih parah lagi, dia bersama kerabatnya yang empuk yang bernama tahu sudah hilang dari pasar. MIOL mewartakan bahwa tahu tempe menghilang dari pasar tradisional Bogor. Kemarin, tukang sayur yang menjadi langganan kami sudah tidak membawa tahu – tempe.

Hmm… di warteg depan kantor saya, setiap kali makan pasangan tempe – tahu itu tidak pernah absen. Konon tempe itu bergizi tinggi dan dapat mencegah kanker sehingga saya rajin memakannya. Yang paling sering saya makan adalah tempe goreng dan tahu goreng. Sayur tahu di warteg saya jarang makan karena lidah saya lebih cocok dengan tahu yang digoreng. Coba makan di warung makan di Jogja, tempe bacem dan tahu bacem yang nikmat pasti akan saya makan. Di Jakarta atau Tangerang susah mencari warung makan yang punya tempe dan tahu bacem. Mungkin orang Tegal tidak suka bikin tempe dan tahu bacem karena di warteg saya tidak pernah menjumpai tempe dan tahu bacem.

Tempe bisa dimasak suka-suka. Digoreng hanya dengan bumbu bawang putih, ketumbar dan garam rasanya nikmat. Dibakar juga oke. Dibacem enak. Disayur lodeh juga bisa. Atau, yang kadang saya lakukan adalah membuat sambel tempe. Tempe yang digoreng tanpa bumbu diulek dengan sambal cabe rawit yang hanya dibumbui bawang putih dan garam. Hmm… rasanya nikmat betul. Saking nikmatnya orang tidak pernah memikirkan bahwa suatu saat mereka akan sulit untuk mencari tempe di pasar. Mereka tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa kedelai yang menjadi bahan mentah tempe dan tahu itu sebagian diimpor dari luar negeri.

Saya selalu memikirkan, setelah minyak bumi langka, minyak goreng langka, dan susu bayi langka, apa lagi yang akan langka. Beras yang merupakan makanan pokok orang Indonesia tentu akan dilindungi sampai titik darah penghabisan oleh pemerintah. Gula pun juga demikian. Saya pernah berpikir bahwa suatu saat bangsa ini akan kesulitan untuk mendapatkan kedelai yang sebagiannya diimpor. Eh… ndilalah kok hari-hari ini kejadian. Kedelai langka di negeri tempe. Pengusaha tahu dan tempe banyak yang sudah tidak berproduksi lagi karena mahalnya harga kedelai. Akibatnya, orang-orang kecil semakin kehilangan sumber protein.

Saya tahu bahwa Indonesia mengimpor kedelai sejak kelas III SMP. Kegemaran membaca koran membuat saya tahu bahwa kedelai yang menjadi bahan baku tempe, tahu dan kecap itu ternyata diimpor dari luar negeri. Pak Siswono Yudhohusodo pada acara Todays Dialogue di MetroTV tadi malam mengatakan bahwa pada masa Pak Harto dulu Indonesia pernah swasembada kedelai. Sayang saya lupa tahun berapa itu. Direktur Budidaya Kacang-kacangan dan Umbi-umbian Departemen Pertanian Muchlizer Murkan mengatakan pada tahun 1992 Indonesia pernah swasembada kedelai. Setelah itu, seperti halnya beras yang pernah dicapai swasembadanya hanya pada 1983, kita sampai hari ini tidak pernah swasembada kedelai. Bahkan, komposisi impor semakin menigkat sedangkan produksi lokal semakin menurun.

Grafik impor kedelai (dari BI)

Grafik produksi kedelai RI (dari BI)

Masalah kedelai yang mestinya bisa ditangani di tingkat menteri sampai harus membuat Presiden SBY membahas masalah tempe pada sidang kabinet di Departemen Pertanian. Pemerintah sudah mennghapus bea masuk impor kedelai tetapi hal tersebut tidak mampu menekan harga kedelai. Departemen Pertanian sih sudah mengaku siap untuk mengembangkan kedelai di daerah non padi. Sebelumnya pemerintah pernah menargetkan bahwa 2006 adalah tahun swasembada kedelai. Namun yang terjadi, pada tahun 2007 impor kedelai justru meningkat. Mudah-mudahan kali ini pemerintah serius dengan programnya dan mampu mengkonsolidasikan seluruh potensi bangsa untuk bersama-sama mengupayakan swasembada kedelai supaya tidak terjadi lagi kelangkaan kedelai di negeri tempe. Memalukan bukan, kita marah proses pembuatan tempe dipatenkan Jepang tetapi di negeri tempe ini hari-hari ini langka tempe.

Apa yang sudah ditulis di blogosfer mengenai masalah kelangkaan kedelai dan hilangnya tempe-tahu dapat dilihat di sini >>>>>>.

Written by Kombor

Januari 15, 2008 at 5:54 am

Ditulis dalam Manajemen, Nasional

Ditandai dengan