Moh Arif Widarto

Jangan Menghina, Saya Juga Penulis Loh!

with 21 comments

Membaca adalah kesukaan saya waktu kecil dulu. Semua buku di dalam lemari buku Bu Lik saya yang seorang guru telah habis saya baca ketika saya masih SD. Semua buku yang ada di sana. Bahkan, buku panduan guru pun saya baca. Masih di SD pula waktu itu Kangmas saya yang sudah SMP saya minta untuk meminjam buku-buku di perpustakaan sekolahnya. Yang saya suka adalah buku-buku karya Karl May, yaitu Putera-Putera Suku Mimbrenyo dan Winnetou. Karya Karl May yang lain saya tidak mengikuti. Waktu di SMP saya menjadi pustakawan, menjadi petugas perpustakaan SMP sehingga saya menjadi lebih bebas untuk membaca buku yang ada di perpustakaan karena saya dengan mudah mencari sendiri di rak buku, tidak seperti siswa lain yang harus mencari dari katalog. Karya sastra yang berkesan untuk saya adalah "Cinta Bersemi Di Seberang Tembok", karya Bagin, pengarang zaman Balai Pustaka. Yang saya ingat, buku itu bercerita mengenai seorang pribumi Melayu Deli yang menjadi guru di Sekolah Cina dan menjalin cinta dengan Lian Min, seorang perempuan Cina. Ibunya tidak merestui perkawinan mereka tetapi pada akhirnya berbalik ketika mereka sekeluarga berkunjung sambil membawa cucu dan si menantu sujud di kaki ibu mertuanya. Pada "Cinta Bersemi Di Seberang Tembok" juga ada kisah mengenai Poh An Tui, Laskar Cina yang mendukung Belanda di Sumatra pada zaman Perang Kemerdekaan dulu. Buku ini sangay bagus tetapi sampai sekarang saya belum menemukan lagi di toko-toko buku. Mungkin sudah tidak diterbitkan lagi.

Kalau karya sastra tua semacam Layar Terkembang, Merantau Ke Deli, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, Merahnya Merah, Atheis, Belenggu, saya sudah baca. Tentu masih banyak karya sastra yang belum saya baca. Akan tetapi, sebagian besar isi buku di perpustakaan SMP dulu pun sudah saya baca. Di SMA, saya kembali menemukan Putera-putera Suku Mimbrenyo dan Winnetou. Saya pun membacanya kembali. Buku-buku yang hampir tidak pernah dipinjam oleh siswa lain saya baca, buku itu adalah buku-buku dari Taman Siswa yang berisi sejarah Taman Siswa dan ajaran-ajaran Ki Hadjar Dewantara. Di SMA kebanyakan waktu ke perpustakaan saya gunakan untuk membaca koran. Membaca buku-buku di luar buku pelajaran sudah mulai berkurang. Mungkin yang sering saya baca malahan serial Wiro Sableng karena ada teman yang memiliki koleksi lengkap. Lalu komik Tiger Wong.

Saat ini, membaca buku mulai berkurang. Terus-terang saya saat ini bisa dikatakan lebih banyak menulis daripada membaca. Makanya, buat teman-teman penulis saya minta agar jangan sombong. Bukan Anda-anda saja yang bisa menulis. Saya pun bisa menulis. Bedanya, Anda menulis dengan bagus dan laku dicetak sedangkan saya hanya menulis suka-suka. Yang membaca pun belum tentu ada. Hahaha!

Serius! Saya mulai sedikit membaca buku. Mata saya tidak betah membaca buku. Bawaannya ngantuk kalau baca buku. Makanya saya kadang-kadang membaca blog saja. Buku tidak banyak baca tetapi blog yang sering dibaca. Setiap ada kesempatan saya akan membaca blog. Kalau tidak ada kesempatan, saya tentu tidak akan melayari blog siapa pun. Akan tetapi, yang lebih saya utamakan adalah ngisi blog. Baca blog dari teman-teman yang lain saya nomorduakan. Nomor satunya adalah nulis di blog. Gimana lagi? Mau nulis buku tidak bisa je…

Waktu SMP dan SMA saya paling puyeng kalau diminta mengarang. Gila! Mengarang benar-benar sulit. Lagipula, saya juga heran mengapa kami dulu diminta mengarang tentang sesuatu yang kami tidak senangi ya? Diminta mengarang dengan judul yang sudah ditentukan. Pusing deh! Di SMA oleh Guru Bahasa Indonesia kami pernah diminta membuat cerpen. Aseli, saya pusing semilyar keliling. Mau nulis cerita pendek tentang apa? Akhirnya, karena tidak mendapat cerita hasil khayalan saya tulis saja cerpen mengenai kejadian yang saya alami. Bodoh amat mau diberi nilai rendah atau tinggi yang penting tugas saya kerjakan.

Sekarang keadaan sudah terbalik. Saya lebih banyak menulis daripada membaca. Memang hanya menulis sesuatu yang nggak mutu seperti ini. Tidak mutu tetapi melegakan jiwa. Kadang-kadang cunthel di kepala jadi hilang setelah saya nulis. Tetapi ada kalanya juga saya nulis malah kepala jadi cunthel. Jan blaik tenan! Tentu saja bukan cunthel karena tulisan saya tidak ada yang mbaca — sebelum ada blog dulu saya suka nulis buku harian — melainkan cunthel karena tulisan nglembreh ke mana-mana. Ya seperti tulisan ini. Coba dicari intinya, Sampeyan mungkin bingung.

Padahal, intinya itu ya: Jangan menghina, saya juga penulis! Hahaha… Penulis blog.

Saya iri pada mereka ini yang sudah menulis buku dan juga masih ngeblog:

Maaf penulis yang juga bloger yang belum kesebut. Bukannya mendiskriminasikan melainkan karena keterbatasan saya saja taut ke blog Anda tidak saya buat.

Written by Kombor

November 24, 2007 pada 11:55 am

Ditulis dalam Buku, Cermin Retak

21 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Waaaah, coba guru2nya om Kombor sekarang baca blog ini. Pasti ngasih nilai bagus, deh :D kalo saya juga lebih seneng nulis daripada baca. Terkesan sedikit egois memang. Tapi yah mau gimana? Rasanya kok kalo membaca itu lebih membutuhkan waktu yg lama daripada menulis, ya? Apalagi kalo memang tulisannya udah menggebu2 banged pengen dishare. Hehe :D

    Btw, pantes waktu bikin theme blog KKTM saya serasa de ja vu. Rupanya udah pernah lihat di blog ini sebelumnya :D

    Nona Nieke,,

    November 24, 2007 at 2:54 pm

  2. wah kalo penulis (blog) sih udah banyak kang, lha indonesia aja punya 350 ribu (katanya) :D

    Hedi

    November 24, 2007 at 3:23 pm

  3. Wah,siap bang, kaget saya ngeliat nama saya disebutkan juga diatas,jadi malu, hehehe… keep on writing, Abang… Tadinya masuk sini mo cari postingan abang tentang cara ngilangin tulisan “blogger” di bagian paling atas, ternyata, lha kok ada nama saya, bhahaha…. Sukses selalu ya Bang!

    Andie Wicaksono

    November 24, 2007 at 8:08 pm

  4. ndak kok kang, aku ndak bakal meng-hina :mrgreen:
    lha kita juga kan sama-sama belajar jadi penulis :)

    extremusmilitis

    November 24, 2007 at 11:00 pm

  5. wah, dr ketiga koment diatas smua nya pada berawalan ‘wah’ :lol: huhu.,

    itu berarti kang kombor memang sosok yang ‘wah’ ;)

    aLe

    November 25, 2007 at 2:03 am

  6. Kok banyak persamaan ya kang :?

    - Karl May
    Sama saya juga seneng dengan alur ceritanya yang detil dan relistis plus cerdas itu, meski hany satu buku yang dulu pernah saya baca, minjem dari perpustakaan kabupaten.

    - Kalau urusan nulis
    Saya juga maunya itu nulis saja meski kunjungan dari tetangga juga saya harapkan, tapi maunya tuh nulis seenaknya, nggak usah baca blog orang, pengunjung banyak :D

    - Baca buku ?
    Saat ini saya juga sama persis dengan sampeyan kang, nyerah. Apa karena kebiasaan mata yang tertimpa sinar monitor ya kang, yang membuat kita nggak kuat nyawang buku yang sama sekali nggak bercahaya ?

    Yang ini beda, dulu saya paling seneng mengarang, pelajaran yang mestinya dijawab dengan tanpa mengarang saja sering kali malah saya karang :D

    anas

    November 25, 2007 at 5:05 am

  7. Ha ha … sama-sama suka baca dong, sama-sama suka nulis, dan … ngak ah … ngak sama-sama suka menghina. Kita sama-sama menyemangati membaca dan menulis aja yuk! Salam.

    Ersis WA

    November 25, 2007 at 5:28 am

  8. Waaah hoby baca ternyata yaa, beda banget dengan saya, hobinya nonton tv terus… Namun kenapa ya, (dulu) saat banyak makanan rohani (bacaan) dikunyah tapi kok kesulitan terhadap penulisan (teknis saja kah, atau memang lainya?)

    tapi lain setelah setua ini… baru seperti kang Kombor sendiri buktinya. Saya juga, setelah disemangati para penebar virus nulis, setidaknya sekat2 itu bisa berkurang…

    kurt

    November 25, 2007 at 6:03 pm

  9. lah, kalau mau jadi buku, kan tinggal dibukukan saja kang, masalah ada yang mau beli atau tidak itu urusan kedua he…he…he… :D

    Anggara

    November 26, 2007 at 1:46 am

  10. kalo banyak baca banyak nulis itu SiiiP, kalo banyak nulis kurang baca Garing Dech OK

    zafan

    November 26, 2007 at 9:05 am

  11. Lha, yang menghina siapa kang?

    Manusiasuper

    November 26, 2007 at 9:51 am

  12. @Nona Nieke:
    Guru say abaca blog? Nggak ada waktu kalii…

    @Hedi:
    130ribu (menurut info saat PB2007)

    @Andie Wicaksono:
    Lihat di http://photobor.blogspot.com deh. Template photoblog saya itu menyembunyikan blogspot bar.

    @extermusmilitis:
    Iya deh…

    @anas:
    Gimana kalau aku nanti cari novel2 Karl May dan Sampeyan ke rumahku untuk membaca?

    @Ersis WA:
    Sampai di sini juga Wa Ersis.

    @kurt:
    Saya sudah mulai tinggalkan nonton tv. Sudah disindir sama Dodi Mawardi.

    @Anggara:
    Ada masalah lain: ada yang mau nerbitin nggak?

    @zafan:
    Apa benar begitu?

    @Manusiasuper:
    Nggak ada, wong sudah diperingatkan supaya jangan menghina.

    Kang Kombor

    November 27, 2007 at 4:35 am

  13. he he, obsesi yang belum kesampaian adalah menulis novel. Macam cersil legendaris Naga Sasra Sabuk Inten, Bende Mataram, atau senopati pamungkas.

    Kang kombor punya bakat terpendam kayaknya, suatu saat bunga rampai blognya dibukukan…

    MCA

    November 27, 2007 at 12:31 pm

  14. Perasaanmu wae kang…

    damme

    November 29, 2007 at 8:39 am

  15. Iya nih, mata suka perih kalo baca literatur panjang. Padahal kerjaan nuntut banyak membaca.
    Akhirnya lebih suka baca blog, biarpun lebih cepet pegel karena melototin layar tapi kayaknya kok lebih ‘asik’.

    Dhan

    November 29, 2007 at 9:20 am

  16. Saya akan menunggu buku karangan kang Kombor yang akan muncul….

    enny

    November 30, 2007 at 5:10 am

  17. Masih ditunggu bukunya Kang Kombor!

    dodimawardi

    November 29, 2009 at 6:14 am

  18. Perasaanmu wae kang…

    damme

    November 29, 2007 at 7:33 am

  19. ya kang kombor aja yang nyetak dan sekaligus menerbitkan, selesai toh :D

    Anggara

    November 29, 2007 at 9:48 am

  20. Cersil di lapangan TN malem2 juga tuh…:)

    damme

    November 29, 2007 at 10:51 am


Tinggalkan Balasan