Moh Arif Widarto

Archive for April 2007

Kang Kombor hidup lagi

with 7 comments

Sumpah… dia hidup lagi! Silakan ke http://kombor.com, url itu akan dilarikan ke rumah sakit… eh, ke http://kang.kombor.com.

Dia pindah rumah. Harta bendanya nggak dibawa. Mungkin yang dirasa penting akan dipublikasikan ulang. Yang tidak penting akan dibiarkan mengendap di harddisk katanya.

Written by Kombor

April 25, 2007 at 2:56 pm

Ditulis dalam Kang Kombor

Sudahlah…

with 4 comments

Gaya intelek saya mengatakan agar saya berhenti membuang energi pada sesuatu yang nggak ada gunanya seperti yang dilakukan Kang Kombor itu. Memang Kang Kombor itu kalau sedang kambuh gilanya bisa sangat di luar nalar perbuatannya. Umm… lebih tepatnya nggak pakai nalar.

Ya jelaslah… orang gila memang nggak punya nalar!

Jadi begini sajalah,…

Saya dapat info darinya siang ini tentang NS kombor.com yang sudah dia alihkan dari NS-nya WordPress.com. Mungkin kalau warasnya sudah kembali, dia akan mengembalikan lagi ke NS-nya WordPress.com. Tapi itu kecil sekali kemungkinannya. Walaupun bodoh, dia itu memegang prinsip secara kuat dan berkomitmen penuh pada apa yang sudah diucapkannya. Sekali dia bilang tidak akan mengirim email untuk mengemis kepada Matt agar akon-nya di layanan gratisan itu (sebenarnya dia mbayar $10 untuk bisa make domain kombor.com) direaktivasi.

Tapi ternyata tempat beli domainnya nggak memungkinkan dia menambah CNAME record, beda dengan domain-domain lain yang dia beli dari Yahoo!SmallBusiness. Katanya sekarang dia sedang akan mentransfer domainnya ke registrar lain yang domain settingsnya bisa dikendalikan secara penuh. Yahoo!SmallBusiness tidak menyediakan layanan transfer domain sehingga harus mencari registrar lain.  Domain itu tadinya dibeli di suatu registrar, karena mau dipakai juga untuk Google Apps, ditransfer ke registrar kedua. Eh, tidak tahunya kedua registrar itu tidak seperti Yahoo!SmallBusiness.

Selama proses berlangsung, domain hanya akan diteruskan menggunakan URL forwarding ke blognya yang baru.

Gayanya bagaimana?

Katanya pakai gaya Kang Kombor yang seperti tukang becak itu, bicara saja apa adanya.

Apakah akan membahas motoGP juga?

Katanya masih tetap akan membahas motoGP. *Umm… tukang becak kok membahas motoGP? Seharusnya hanya membahas balap becak saja.

Kalu mau komentar kan susah, harus ngetik dulu?

Sama saja. Bu Maya, Mbak Kenny, Mas Anang kalau mau komentar di blog yang memakai layanan blog – yang walaupun tidak melanggar TOS pun akan bisa dikenai penangguhan karena setiap penggunanya sudah menandatangani TOS yang dalam isinya memberikan hak kepada pemberi layanan untuk berbuat seperti itu tanpa perlu memberikan notifikasi sebelumnya (di mana sih kalusul itu?)– yang berbeda pun harus ngetik nama, email, utl dan isi komentar. Dia (Kang Kombor) pun akan melakukan yang sama kalau akan memberikan komentar di blog yang majikannya lain.

Kang Kombor kok begitu banget sih? Nggak mau mendengarkan kita-kita?

Kata Kang Kombor, prinsip itu harus dipegang teguh. Walaupun hanya tukang becak tetapi kalau memiliki prinsip untuk dipegang secara teguh, itu akan lebih baik daripada presiden yang selalu ragu untuk mengambil keputusan. Ssst… itu pesan Kang Kombor.

Kombor.com tidak bisa dibuka?

Oh, itu sedang diurusin. Sementara pakai saja dulu http://kangkombor.blogspot.com

Tulisan-tulisan lama bagaimana?

Ada di harddisk. Sebenarnya kalau mau dipublikasikan ulang juga bisa. Tapi kan secara “moment”-nya sudah nggak tepat kalau dipublikasikan ulang karena setiap tulisan biasanya ada asbabun nuzulnya.

Written by Kombor

April 25, 2007 at 11:02 am

Ditulis dalam Blogging, Kang Kombor

Anda suka Kombor.Com atau arif.widarto.net?

with 15 comments

Well… iwel-wel orang dalam istana. Saya perlu menanyakan kepada teman-teman blogger di WP.com, tentunya yang memiliki kedekatan psikologis dengan saya, mengenai gaya bertutur dalam ngecring alias ngeblog.

Apakah Anda menyukai gaya berutur ala tukang becak di Kombor.com atau gaya bertutur sok intelek (tapi malah kelihatan bodoh) di arif.widarto.net ini?

Terus-terang kesadaran saya membimbing saya untuk segera memindahkan domain kombor.com ke penyedia layanan blog yang lain dengan gaya bertutur yang seperti Kang Kombor, bukan seperti Moh Arif Widarto. Saya memang ingin dekat dengan semua kalangan dan terus-terang lebih suka dipanggil Kombor atau Kang Kombor daripada Pak Arif atau Mas Arif. Akan tetapi, tentunya saya juga ingin menyempil di antara kumpulan orang-orang berpendidikan dan berbahasa dengan gaya seperti mereka walaupun saya mengakui bahwa saya tentunya tidak akan dapat menyamai pencapaian yang telah mereka raih. Punya keinginan boleh-boleh saja kan?

Bagaimana teman-teman? Silakan kemukakan pendapat Anda secara jujur. Saya tidak akan pura-pura sebagai seorang demokrat seperti mantan presiden kita yang katanya demokrat tetapi kalau diskusi suka marah-marah. Saya juga tidak akan pura-pura menjadi seorang liberalis dengan membebaskan Anda untuk bersuara sesuka Anda. Saya hanya meminta dengan tulus agar Anda dapat berpendapat dengan jujur. Misalnya:

  • Gaya bertutur Kang Kombor nampak seperti tuturan orang idiot
  • Gaya bertutur Arif jauh dari kesan orang berpendidikan

Silakan kalau Anda memang memiliki pendapat seperti itu. Saya sih dibilang bodoh akan saya terima. Kalau saya memang bodoh, buat apa marah-marah? Gitu aja kok repot…

Akan tetapi, beri saya informasi: Anda lebih suka cara bertutur Kombor atau Arif?

Written by Kombor

April 24, 2007 at 12:32 pm

Ditulis dalam Kang Kombor

Simpati Saya Kepada Warga TAS

with 3 comments

Saudara-saudaraku Warga Perum TAS yang sedang ditimpa kemalangan, Terimalah salam hormat saya. Saya turut prihatin atas apa yang menimpa Saudara-saudara semua. Percayalah, saya sangat bersimpati kepada Anda semua yang telah memperjuangkan hak Anda semua untuk menuntut penggantian kerugian secara kontan atau yang Anda sekalian sebut sebagai Cash and Carry.

Saya sangat berduka karena Pemerintah yang lebih dekat kepada Pemilik Lapindo telah menolak permohonan Anda sekalian. Semoga pemerintahan yang lebih dekat kepada pemilik kapital seperti ini tidak diberi kekuasaan yang langgeng di negara kita ini. Marilah kita sama-sama berdoa.

Saya teringat pelajaran agama mengenai doa-doa yang terkabul. Mudah-mudahan pelajaran ini cukup kuat saya ingat. Doa yang terkabul diantaranya adalah:

  1. Doa orang tua kepada anaknya
  2. Doa orang yang sedang berpuasa
  3. Doa orang miskin yang teraniaya
  4. Doa pemimpin yang adil

Saya kira, Anda sekalian sedang mewakili orang-orang miskin yang sedang teraniaya. Saya melihat saat ini Anda semua adalah orang miskin yang teraniaya karena harta benda Anda semua telah ditimbun oleh Lapindo dengan lumpur panas dari keculasannya dalam melakukan pengeboran di dekat lingkungan Anda.

Percayalah, pemimpin kita saat ini belumlah dapat dikatakan pemimpin yang adil sehingga doanya akan kalah makbul dari doa Anda semua. Kalau pemimpin kita adil, tentunya dia akan mengirim negosiator yang mampu menegokan pembayaran kontan 100%. Ataupun kalau bertahap, 80% dan 20%. Paling buruk, negosiator itu harus bisa bertahan di posisi 50% – 50%. Bukan seperti saat ini, 20% – 80%.

Kita orang-orang kecil selalu menjadi mainan penguasa dan yang empunya kapital. Empunya kapital adalah sahabat-sahabat penguasa. Penguasa adalah kacungnya pemilik kapital. Rakyat adalah obyek bagi penguasa dan yang empunya kapital.

Mari kita semua berdoa:

Ya Allah Ya Rabbi, bukakanlah mata hati pemimpin kami agar mampu melihat keteraniayaan lahir dan batin kami. Agar bisa memihak kami daripada memihak mereka-mereka yang hanya bisa membeli kepentingan pemimpin kami.

Ya Allah Ya Rabbi, panjangkanlah kepemimpinan pemerintahan ini apabila dia Kau pandang sebagai pemimpin yang adil. Kabulkanlah doa-doanya. Kabulkanlah hajatnya. Baguskanlah semua perbuatannya di mata rakyat dan lawan-lawannya.

Namun Ya Allah Ya Rabbi. Apabila Kau pandang sebaliknya, pendekkanlah kepemimpinan pemerintahan ini. Persulitlah segala macam usahanya sehingga di mata rakyat dan lawan-lawannya, semua yang diperbuatnya adalah salah belaka. Hina dan nistakan dia dengan kehendak-Mu.

Amin.

 

Insya’ Allah, semakin banyak yang membaca ini, semakin banyak yang berdoa bersama saya. Fakta yang dapat saya sampaikan kepada Anda semua saat ini, pemerintahan sekarang selalu saja sulit untuk berbuat sesuatu dan segala kebijakannya buruk di mata lawan-lawannya.

Written by Kombor

April 23, 2007 at 3:55 pm

Ditulis dalam Lumpur Lapindo

Belum ada pernyataan dari penyelenggara ngadutrafik 2007 untuk membantu mereaktivasi akun-akun di WP.com yang disuspend

with 13 comments

Sampai hari ini belum ada pernyataan resmi dari penyelenggara lomba ngadutrafik 2007 mengenai langkah mereka dalam rangka membantu melakukan reaktivasi akun-akun di WP.com yang disuspend oleh Matt.

Saya punya 2 blog di WP.com, yaitu kombor.com dan Blog Ikastara Tangerang. Dengan kesewenang-wenangan dari Matt ini, saya tidak akan pernah sekalipun memohon kepada Matt agar akun saya direaktivasi. Saya sendiri sampai detik ini belum mengerti di bagian mana saya melanggar TOS WP.com. Dalam dugaan saya, Matt hanya bereaksi atas laporan yang disampaikan salah satunya oleh calupict. Cek pengakuannya di sini. Karena Matt tidak bisa Bahasa Indonesia dan dipacu oleh banyaknya blog baru dengan kata-kata ngadutrafik2007 pada alamatnya, Matt langsung “emosi” dan segera menyuspend akun-akun itu. Emosi, seperti kata Presiden SBY kepada kami-kami yang minta agar IPDN dibubarkan. (Wah, nyangkut juga ke sana).

Di lain sisi, secara moral, panitia lomba ngadutrafik 2007 punya kewajiban untuk menghubungi Matt agar akun-akun yang disuspend, yang tidak berhubungan secara langsung dengan acara ngadutrafik 2007 sebaiknya direaktivasi. Masih beruntung kombor.com bisa diakses walaupun saya nggak akan bisa posting lagi selama akub belum direaktivasi.

Himah dibalik kejadian ini adalah saya bisa kembali ke domain saya, widarto.net dan ngeblog di http://arif.widarto.net ini. Kombor.com biarlah tetap mengudara seperti apa adanya sampai Matt membunuhnya. Toh saya sudah tidak bisa ngapa-ngapain lagi. Yang saya bisa lakukan hanya memindahkan domain kombor.com ke blog lain di Blogger.

Untuk yang belum tahu, saya memiliki dua blog pribadi di Blogger, yaitu http://arif.widarto.net dan www.widarto.net. Yang terakhir untuk latihan Bahasa Inggris. Nobody is perfect, kata pepatah. Tapi ada pepatah lain yang mengatakan practice makes perfect. Jadi, saya praktek Bahasa Inggris di www.widarto.net. Kalau tatabahasa dan kosa-katanya itu-itu saja, berarti saya males meningkatkan keterampilan berbahasa Inggris saya. :)

Mudah-mudahan teman-teman Blogger di WP.com akan tetap mau mengunjungi blog saya walaupun saya tidak main di WP.com lagi sampai Matt bertobat dan mereaktivasi akun saya tanpa reserved.

Saya ucapkan terimakasih kepada Wa Guru yang sudah bersdia menyampaikan pesan saya kepada teman-teman di WP.com bahwa saya akan ngeblog di sini sekarang.

Written by Kombor

April 23, 2007 at 1:21 pm

Ditulis dalam Blogging

Ngadutrafik2007 bikin account saya di WP.com di-suspend

with 11 comments

Akhirnya, tiba juga masanya saya kena suspend di WP.com karena melanggar TOS. Pelanggaran TOS itu diakibatkan karena saya ikut ngadutrafik2007 dengan membuat web di WP.com dengan alamat http://tipsngadutrafik2007.wordpress.com.

Kegiatan ngadutrafik 2007 itu mungkin dikategorikan sebagai SPAM sehingga dianggap melanggar TOS. Akan tetapi, itu hanya dugaan saya karena Matt tidak pernah mengirimkan email kepada saya mengenai suspending ini. Saya tahu kalau account saya disuspend sekitar pukul 11 pagi ini ketika akan login. Saya tidak bisa login dan ada tulisan pada jendela login:

Account suspended.

Dah, hanya begitu saja. Di bawah tulisan itu masih ada field username dan password.

Nah, sekarang bagaimana? Karena Panitia Lomba Ngadutrafik 2007 yang meminta peserta membuat blog baru di WP.com. Apakah Panitia Ngadutrafik 2007 yang akan membantu membebaskan account itu atau kami harus sendiri-sendiri untuk membebaskan account itu kembali? Saya menunggu info dari Mas Cosa Aranda mengenai hal ini.

Written by Kombor

April 23, 2007 at 4:25 am

Ditulis dalam Blogging

Saya tidak dalam posisi akan menyelesaikan semua masalah kekerasan dalam dunia pendidikan

with 10 comments

Beberapa hari terakhir ini Petisi Pembubaran IPDN menuai kritik redaksional yang diajukan oleh Bu Maya. Menurut beliau, petisi itu tidak empatik. Tidak menunjukkan Oprah way. Ada juga yang disebut sebagai poin-poinnya tumpang tindih.

Saya tidak sedang dalam posisi untuk memperdebatkan redaksional petisi tersebut. Akan tetapi, sebagai pendukung petisi, perkenankanlah di sini saya membantu memberikan pandangan pribadi mengenai maksud petisi tersebut.

Tuntutan utama petisi

Tuntutan utama petisi itu adalah PEMBUBARAN IPDN. Tuntutan utama itu diletakkan pada nomor satu dari ketiga butir tuntutan dalam petisi tersebut.

Tuntutan tambahan

Selain tuntutan utama mengenai Pembubaran IPDN, petisi tersebut memandang bahwa ada pekerjaan rumah yang lain yang harus dilakukan setelah IPDN dibubarkan. Oleh karena itu, diajukanlah tuntutan untuk dilakukan pengusutan tuntas atas segala penyimpangan yang pernah terjadi di IPDN. Kemudian, ada penyelesaian terhadap praja-praja yang masih tersisa di IPDN saat ini. Tuntutan itu dituangkan pada butir kedua, ketiga dan keempat tuntutan.

Apakah tuntutan tumpang tindih?

Menurut saya. Tuntutan tersebut tidak tumpang tindih. Pernyataan mengenai apakah yang akan dituntut kalau IPDN-nya sudah dibubarkan merupakan sebuah pernyataan naif yang (mohon maaf) saya sebenarnya kurang tertarik untuk menanggapi. Akan tetapi, karena situasinya mendesak saya untuk memberikan tanggapan, maka saya akan menanggapi.

Dibubarkannya sebuah institusi tidak dengan serta-merta terus mengakibatkan dilupakannya segala macam penyimpangan yang terjadi di dalamnya. Sebagai contoh, BPPN bisa saja telah dibubarkan. Akan tetapi, apabila ditemukan adanya penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada saat BPPN itu masih eksis, maka pejabat-pejabat BPPN pada saat aktif itu bisa diseret ke pengadilan. Sejalan dengan hal itu, dibubarkannya IPDN tidak serta merta membuat segala macam penyimpangan yang terjadi di dalamnya tidak bisa diusut lagi. Hanya diperlukan kemauan politik dari pemerintah untuk melakukan itu.

Dengan demikian, tuntutan kedua dari petisi itu tidak tumpang tindih dengan tuntutan pertama. Pernyataan ketiga, dari redaksionalnya sudah sangat kelihatan sangat tidak tumpang tindih dengan butir tuntutan pertama. Tuntutan ketiga memberikan usulan penyelesaian terhadap praja-praja IPDN yang saat ini masih berada di dalam IPDN, setelah IPDN dibubarkan.

Tuntutan keempat pun saya kira tidak memiliki ketumpangtindihan dengan tuntutan-tuntutan di atasnya. Petisi tersebut dimulai dengan yang spesifik dan diakhiri dengan tuntutan yang umum/general.

Apakah yang ingin diselesaikan?

Petisi ini tidak dimaksudkan untuk menyelesaikan seluruh kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan melainkan untuk menghentikan penyimpangan-penyimpangan (terutama kekerasan) yang terjadi di lingkungan IPDN.

Apakah pembubaran itu merupakan solusi tepat?

Kalau berbicara mengenai solusi, kita juga akan berbicara mengenai pengambilan keputusan. Dalam pengambilan keputusan terhadap suatu permasalahan, kita akan mendaftar alternatif-alternatif yang dapat dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, atau dengan kata lain memilih alternatif solusi terhadap permasalahan tersebut. Pada tulisan lain di kombor.com saya pernah mengajukan usulan-usulan solusi penyelesaian masalah IPDN. Berikut di bawah ini akan saya kutip untuk blog ini:

Perubahan Fundamental Versi Kang Kombor (Diurutkan dari yang paling fundamental):

  1. Bubarkan IPDN dan serahkan kepada Fisipol di PTN/PTS untuk mencetak calon-calon pejabat yang berkualitas.
  2. Bubarkan IPDN yang terpusat dan kembalikan ke masing-masing daerah penyelenggaraan pendidikannya seperti era APDN dulu. Pada masa APDN kita tidak pernah mendengar ada mahasiswa yang tewas dibantai seniornya.
  3. Ganti semua pengajar dan karyawan di IPDN sekarang dengan pengajar dan karyawan yang sama sekali baru. Mengganti sistem dan kurikulum tanpa mengganti mereka sama saja menggarami air laut. Diduga perilaku dan pikiran-pikiran nyleneh bersemayam di diri dan otak para pengajar dan karyawan IPDN karena sampai saat ini pembunuhan di IPDN tidak bisa dihentikan.
  4. Hentikan penerimaan mahasiswa baru sampai seluruh mahasiswa yang saat ini lulus semua untuk menghentikan tradisi buruk yang pasti akan selalu turun-temurun. Tanpa adanya pemotongan generasi ini, seluruh usaha yang dilakukan akan sia-sia.
  5. Ganti kurikulum secara total.
    • Stop materi pembekalan militer selama 3 – 6 bulan yang diberikan kepada praja IPDN yang baru masuk. Pembekalan militer inilah yang bisa menyebabkan para Praja itu menjadi sok militer.
    • Stop pembelajaran kedisiplinan sok militer melalui acara dhupak bujang/kuli. IPDN bukan untuk mencetak mandor pabrik melainkan calon pejabat yang harus mampu mengatur, melayani dan mengayomi masyarakat. Ajarkan kedisiplinan melalui cara yang lebih bermartabat.
    • Ganti penyebutan Praja menjadi Mahasiswa tanpa dibeda-bedakan menurut tingkatnya seperti sekarang ini. Lagipula, praja itu aslinya menunjukkan kewilayahan bukan sosok manusia. Mereka itu kalau lulus akan jadi Pamong Praja (bukan jadi praja itu sendiri), mereka yang seharusnya menjadi obyek operasi Polisi Pamong Praja yang harus diganti nama itu.

Kembali, dalam pengambilan keputusan atau pencarian solusi atas permasalahan yang kita alami, kita harus mengambil alternatif-alternatif pemecahan solusi. Nah, terhadap permasalahan kekerasan di IPDN yang tidak kunjung selesai tersebut, saya telah mendaftar alternatif-alternatif solusi tersebut. Ketika pada akhirnya saya setuju dengan tuntutan pembubaran IPDN adalah karena:

  • Pembubaran IPDN merupakan prioritas utama yang saya ajukan sebagai solusi
  • GTM yang dilakukan oleh seluruh civitas akademika IPDN membuat saya memandang mereka sebagai manusia-manusia yang tidak ingin mengedepankan kebenaran, tidak mau membantu mengungkapkan kebenaran dan secara sadar telah bersama-sama ikut menutupi kejahatan. Kita harus mengenai sebuah pernyataan yang menyebutkan bahwa apabila kita melihat suatu tindak kejahatan tetapi kita tidak mau mengungkapkannya, maka kita sudah membantu melakukan tindak kejahatan tersebut. Dus, seluruh civitas akademika yang katanya merupakan bibit-bibit unggul itu telah secara sadar ikut melakukan kejahatan.
  • Fakta bahwa 10 orang narapidana pembunuh Wahyu Hidayat ternyata masih diberi kesempatan oleh Departemen Dalam negeri untuk menghirup udara bebas, tidak dipecat dari PNS dan malah diberi pekerjaan dengan dititipkan di pemda-pemda di Jawa Barat merupakan bukti bahwa tidak seorang pun di dalam pemerintahan ini sungguh-sungguh ingin menyelesaiakan permasalahan kekerasan di IPDN. Silakan Anda renungkan, pantaskah seorang narapidana masih menyandang predikat PNS. Di mana-mana, PNS itu harus bersih dari tindak kriminal. Kalau terlibat kasus perdata, mungkin masih bisa. Akan tetapi, terbukti secara hukum ikut melakukan tindak kriminal tidak ada pantas-pantasnya lagi diberi predikat PNS. Dalam hal ini saya memandang Departemen Dalam Negeri telah melakukan pengkhianatan kepada rakyat. Pimpinan Departemen Dalam Negeri, terutama yang mengurusi IPDN ini seharusnya juga diturunkan dari jabatannya dan dituntut karena menyetujui narapidana untuk tetap menyandang predikat sebagai PNS.
  • Kita bukannya tidak pernah memberi kesempatan kepada IPDN untuk memperbaiki diri. Pasca terbunuhnya Wahyu Hidayat, tuntutan pembubaran STPDN sudah mengemuka. Akan tetapi, pada saat itu pemerintah telah memilih untuk mengganti STPDN menjadi IPDN. Mengganti Kepala STPDN menjadi Rektor IPDN. Asal Anda tahu, Rektor IPDN itu diberi tugas untuk mengubah sistem STPDN secara fundamental, bukan malah mempertahankan tradisi kekerasan yang ada di dalamnya. Kita semua sama-sama tahu bahwa IPDN dan Rektor IPDN telah gagal menggunakan kesempatan yang diberikan oleh pemerintah dan rakyat Indonesia. Saya tidak mau disebut sebagai bangsa pelupa. Oleh karena itu, fakta bahwa kita telah memberi kesempatan kepada IPDN dan IPDN tidak mau menggunakan kesempatan itu dengan baik tidak akan pernah saya lupakan. Keledai saja tidak pernah tersandung batu yang sama dua kali. Kalau pemerintahan ini tidak memandang kesempatan yang pernah dilakukan sebelumnya, saya katakan bahwa pemerintahan ini lebih buruk daripada keledai. Pemerintahan yang tidak dapat menyelesaikan apa-apa: lumpur lapindo, flu burung, demam berdarah, kelangkaan BBM, keterbatasan energi listrik.

Di antara alternatif-alternatif solusi untuk IPDN, pembubaran IPDN merupakan solusi yang lebih dekat pada “solusi tepat” daripada “solusi tidak tepat”.

Written by Kombor

April 23, 2007 at 4:03 am

Ditulis dalam IPDN

Pada ikut ngadutrafik 2007 nggak sih?

with 3 comments

Saya curiga. Jangan-jangan Pak Urip minta doa restu karena akan mengikuti lomba ngadutrafik 2007. Di bawah ini kutipan komentar Pak Urip:

“Hemmmm begitu yah… D sayang akhir-akhir ini saya tidak bisa leha-leha lagi. BTW sampai pertengahan mei nanti saya jarang jalan-jalan lagi nih kang, ada sesuatu yang perlu mendapat perhatian lebih banyak. Nulispun seadanya. Mohon doa untuk kesuksesan saya yah kang… *Mohon doa restu* halaaa.”

Pura-puranya sampai pertengahan Mei. Padahal lombanya sampai akhir Juli 2007.

:D Maaf Pak Urip. Ini cara saya mempromosikan blog Sampeyan dan blog yang ini.

Teman-teman pada ikutan nggak? Sampai hari ini dah ada 40 peserta ngadutrafik 2007.

Written by Kombor

April 20, 2007 at 8:11 am

Ditulis dalam Blogging

Alumni SMA TN di IPDN Please Jangan Ikut GTM

with 3 comments

Pesan moral buat adik-adikku alumni SMA Taruna Nusantara yang menjadi alumni STPDN atau IPDN dan yang saat ini masih di sana (saya tahu ada yang masih aktif jadi praja IPDN), tolong jangan ikut Gerakan Tutup Mulut. Jangan jadi orang yang memiliki iman paling lemah. Jadilah orang yang memiliki iman paling kuat.

Ingatkah akan pesan agama di bawah ini?

Dalam menghadapi kemunkaran atau kemaksiyatan, ada tiga hal yang bisa dilakukan:

  1. Mencegahnya dengan perbuatan
  2. Mencegahnya dengan ucapan
  3. Mengingkari (tidak menyetujui) dalam hati akan perbuatan munkar atau maksiyat itu

Yang ketiga dari pilihan-pilihan itu adalah selemah-lemahnya iman.

Kesetiaan kalian kepada korps STPDN-IPDN merupakan sesuatu yang pantas kami banggakan. Akan tetapi, kesetiaan kalian kepada korps telah mengkhianati kesetiaan kalian sebagai anak bangsa. Kalian memang bagian dari korps STPDN-IPDN. Namun di luar itu, kalian merupakan bagian sangat kecil dari bangsa ini.

Jangan sampai thesis saya menjadi benar bahwa pemusatan pendidikan pamong praja di STPDN-IPDN hanya akan menciptakan pamong-pamong praja yang akan menciptakan sebuah eksklusivisme negatif di kalangan pemerintahan di Indonesia. Jajaran Pemda di seluruh Indonesia yang dikontaminasi oleh alumni STPDN-IPDN yang sudah didoktrin sedemikian rupa sehingga mereka selalu satu suara dalam menyikapi isu apa pun. Saya juga punya thesis bahwa alumni STPDN-IPDN akan saling melindungi dalam perbuatan korupsi. Bukannya lulus dari STPDN-IPDN menjadi agen-agen perubahan (agents of change) melainkan menjadi agen-agen korupsi baru. Toh saya belum pernah mendengar ada alumni STPDN-IPDN yang membongkar korupsi di jajarannya masing-masing.

Saya termasuk yang setuju agar IPDN dibubarkan. Kalau IPDN tetap dipertahankan, mungkin kontrak sosial yang bernama negara ini perlu ditinjau ulang. Buat apa memiliki sebuah negara yang konon katanya sebuah negara besar tetapi pemimpinnya tidak mau membuang sampah busuk. Yang busuk di IPDN itu bukan manusianya dan sistemnya saja tetapi semuanya busuk. Oleh karena itu, IPDN harus dibubarkan.

Adik-adik, ingatlah Triprasetya Siswa dan Janji Alumni. Kalian mungkin punya janji apa pun yang diucapkan di IPDN. Namun, janji kalian lewat Triprasetya Siswa dan Janji Alumni SMATN telah kalian ucapkan lebih dulu. Kalian harus tepati janji itu.

Bicaralah sebagai orang yang bertanggung jawab. Jangan ikut menutupi sampah yang kalian ciptakan. Kalau kalian tetap ikut GTM, kalian tak ubahnya dengan sampah itu sendiri.

Written by Kombor

April 18, 2007 at 4:41 am

Ditulis dalam IPDN

PETISI ANAK BANGSA (TUNTUTAN PEMBUBARAN IPDN)

with one comment

To: Yth Presiden Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono

PETISI ANAK BANGSA

(TUNTUTAN PEMBUBARAN IPDN)

1. Bubarkan IPDN.

2. Usut tuntas segala bentuk kekerasan di STPDN/IPDN sejak pertama berdiri, tegakkan hukum tanpa basa basi.

3. Stop anggaran khusus dan ikatan dinas bagi siswa IPDN. Siswa yang masih tersisa saat ini diberi kesempatan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri di daerah asal masing-masing.

4. Hapuskan segala bentuk kekerasan dan manipulasi dalam dunia pendidikan di Indonesia.

DUKUNG PENDIDIKAN TANPA KEKERASAN DAN INTIMIDASI !!!

Sincerely,

The Undersigned

Klik http://www.petitiononline.com/pab2007/petition.html untuk ikut menandatangani.

Baca beritanya di Detik mengenai petisi ini.

Written by Kombor

April 17, 2007 at 12:05 pm

Ditulis dalam IPDN