Kang Kombor tidak menyangka tulisan Kang Kombor mengenai pendapat Angelina Sondakh tentang Adjie Massaid masih dikomentari sampai sekarang. Hal yang Kang Kombor tekankan pada tulisan itu adalah:
Ternyata tidak perlu menjadi siswa SMATN hanya untuk bisa:
- sangat concern terhadap masalah-masalah sosial kemasyarakatan
- berpikir bahwa: “anak – anak sebagai generasi penerus tongkat estafet pembangunan bangsa arus mendapat perhatian yang khusus oleh pemerintah dan seharusnya mereka dilihat sebagai asset bangsa yang ‘mahal’”
- berpendapat: “Masa depan bangsa ini harus diselamatkan dan kitalah sebagai generasi muda yang harus memperjuangkannya”.
Akan tetapi, komentar-komentar yang ada di sana sudah bergeser dari substansi yang Kang Kombor ingin angkat. Maaf, ada yang menghina pribadi Angelina Sondakh sebagai p***k. Lalu ada yang mulai membawa-bawa agama untuk dijadikan bahan komentar. Memang saat menulis itu, Angie mungkin sedang kasmaran dengan Adjie. Akan tetapi, Kang Kombor tidak pernah meneropong bahwa Angie akan menjadi mualaf. Kang Kombor bukan penggemar infotainment dan gosip artis. Bahkan Kang Kombor tidak tahu apakah benar Angie jadi mualaf. Kang Kombor tidak googling atau tanya kanan-kiri untuk mendapatkan konfirmasi.
Kalau boleh Kang Kombor berpendapat mengenai pindah agama. Maaf, ini pendapat pribadi. Agama memang pilihan pribadi. Pindah agama itu urusan pribadi. Akan tetapi, pindah agama untuk menikah, Kang Kombor anggap itu sebagai perbuatan hina. Kang Kombor memandang lebih baik menikah dengan yang sesama agama karena mudharat pernikahan beda agama lebih banyak. Manfaatnya tidak ada. Cinta? Prek!!
Keluar dari topik itu, Kang Kombor memandang di Indonesia ini (mungkin juga di luar sana) agama merupakan bahan lecehan yang paling mudah ditemukan. Apa pun masalahnya, pelecehan agama bisa dilakukan. Misalnya tentang Angie dan Adjie itu. Itu urusan dua manusia mau menikah dan konon salah satunya mau pindah agama. Komentar-komentar yang muncul bukan seputar masalah dua orang beda agama mau nikah melainkan melebar ke mana-mana termasuk membawa-bawa ajaran agama untuk dijadikan bahan lecehan. Tidak percaya? Silakan baca saja komentar-komentar pengunjung pada tulisan Kang Kombor itu.
Oleh karena itu, marilah kita mulai mencari masalah apa saja dan segera menjadikannya bahan untuk melecehkan agama. Agama memang merupakan bahan lecehan nomer satu.
Jadi, mengapa harus menunggu? Marilah segera kita mulai.
Jauhari
Februari 22, 2007
Ada Faktor X disetiap sesuatu…..
Bacalah…. dengan nama Tuhanmu yang menciptakan
xwoman
Februari 22, 2007
aduh prihatin banget liat komen-komennya….
ngeblog ko jadi gontok-gontokan, untung g benjol
setuju ma jauhari
helgeduelbek
Februari 22, 2007
agama adalah pilihan hidup, apakah kalau mau pindah juga pilihan, temasuk pilih jodoh penyebabnya?
hans
Februari 22, 2007
Kang Kombor, maaf sy sangat tidak setuju dengan ajakan anda untuk melecehkan agama orang yang diluar agama kita atau bahkan melecehkan agama kita sendiri, karena memang agama sy melarangnya. Sy tidak tahu agama anda apa atau anda memang tidak mempunyai agama, sehingga anda bebas melecehkan agama.
sebagai moderator blog ini, sebaiknya anda mengarahkan media ini untuk menjadi alat untuk saling menghormati agama dan hak asasi manusia.
venus
Februari 22, 2007
lho lho lho lhooooo….kok yang komen jadi bias kemana-mana gitu ya kang? aneh
papabonbon
Februari 23, 2007
bukan agama yg jadi bahan lecehan. tapi sikap hipokrit yg dikembangkan pemimpinnya dengan memanipulasi ajaran agama.
andi
Februari 23, 2007
He he he Blog jadi rame kang kombor
daripada membawa kemudhorotan yang lebih parah.
Jadi OOT ya .. klo emang tidak berkenan Kang Kombor boleh menutup komentarnya kok
Kang Kombor
Februari 23, 2007
@Kang Jauhari:
Memang selalu ada faktor X
@xwoman:
Itulah cermin bangsa(t) kita
@Pak Guru:
Pindah agama karena kawin bukan pilihan. Pilihannya adalah cari calon pasangan yang seagama.
@hans:
Tulisan saya itu bentuk sinisme saya terhadap para peleceh agama itu sehingga ajakan saya harus diartikan sebaliknya.
@Mbak Venus:
Yang seperti itu yang membuat Kang Tajib menutup komen pada artikelnya tentang Agnes Monica.
@papabonbon:
Pemimpin agama “APA” yang hipokrit?
@Kembali ke WordPress:
Saya akan biarkan komennya tetap terbuka supaya bisa menjadi cermin bagi kita untuk melihat bahwa bangsa(t) kita memang seperti ini adanya.
Mbah Dipo
Februari 23, 2007
simbah yakin, yang menurunkan agama ini tidak akan tinggal diam. memang yang melecehkan agama masih dikasih makan terus… namun toh gak lama, paling 100 tahun. setelah itu ada konsekwensi panjang tak terhingga dari peleceh agama ini di akherat…
m_kharis
Februari 23, 2007
Ass…..
membicarakan agama memang asik lho…… sama dengan membicarakan cinta he… he… he… Tuhan jadi kayak artis (selibritis) hebat ya……. eh… tapi ngomong2 Tuhan yang mana nich….. agama khan banyak atau kita buat agama baru, biar nanti jadi artis dadakan…… kayaknya Tuhan senyum2 aja tuh…. wow…..
Harus beda to….
Wss….
Dee
Februari 23, 2007
“Akan tetapi, pindah agama untuk menikah, Kang Kombor anggap itu sebagai perbuatan hina.”
Jadi ingat pernah dengar cerita, Buya Hamka menolak mengislamkan seorang lelaki yang hendak menikahi seorang gadis muslim. Karena selain agar bisa menikah, tidak ada motivasi lain dari si lelaki itu untuk memeluk Islam. Padahal, motivasi menikah masing-masing orang kan beda, tak melulu cinta.
Kalau dulu, orang sangat takut berkomentar atau menyerang agama lain, sekarang kayaknya semuanya bebas dilakukan ya Kang? Bahkan sesama penganut agama yang sama, bebas menghujat golongan lain yang dianggap kafir, dan cuma pantas menghuni kerak neraka.
Juliach
Februari 23, 2007
Ah… di Indonesia mah semua masalah njlimet banget.
Sebetulnya masalahnya gampang, woiii aturannya berliku-liku lebih panjang dr S. Amazone.
Sebaiknya pernikahan hrs dilangsungkan di catatan sipil, jadi berbeda agama tdk jadi masalah. Kemudian mau diresmikan secara agama itu terserah masing-masing. Lalu kalau sudah beranak pinak, anak-anak itulah yg berhak menentukan agama masing-masing, BUKAN ORANG TUA MEREKA.
Koq masih pada ribut.
Kang Kombor
Februari 23, 2007
@Mbah Dipo:
Nun injih, Mbah. Leres pangandika Panjenengan.
@m_kharis:
Ada tuh yang bikin agama baru, masuk bui.
@Wong Donya:
Buya Hamka memang TOP BGT.
@Mbak Juliach:
Nikah langsung di Catatan Sipil itu hanya untuk yang tidak punya sistem nilai (agama). Maaf ya, kalau yang punya agama pasti punya nilai untuk diejawantahkan dalam kehidupan.
Junkerz side B
Februari 23, 2007
GHIBAH…GHIBAH…BUBAR…
*nyamar jadi Kamtib*
micokelana
Februari 23, 2007
Bukannya cara penyebaran agama itu salah satunya adalah melalui jalur pernikahan. Jadi orang yang menikah kemudian pindah agama menurut saya bukan melecehkan. Tapi klo orang menikah 5 kali (telah cerai dulu sebelumnya) kemudian dia juga berpindah agama sebanyak 5 kali itu apa yah??
Klo tanpa menelaah bisa jadi orang tsb melecehkan agama. Tapi ada banyak hukum yang bisa membuktikan, tentunya pro dan kontra itu sudah biasa.
poltakmarbun
Februari 24, 2007
kalo mbaca komentar2nya, kembali satu pertanyaan klasik (bagi saya pribadi) terbersit di dalam kepalaku : “Agama apa yg paling benar? Mengapa banyak orang (menurut penilaian saya pribadi) yg rela mengorbankan segala sesuatu miliknya bahkan nyawanya sendiri demi agama yang dianutnya? Ya…, HANYA demi satu kata yg terdiri dari 5 huruf, yaitu: A-G-A-M-A. Bukan apa yg diajarkan oleh agama tersebut. Tapi ini cuma pendapat pribadi aja lho…
Kang Kombor
Februari 24, 2007
@Kang Fahmi:
Kalau bubar nanti blog saya jadi sepi. Saya kan belum jadi seleb. Halahh….
@Kang Mico:
Kalau kawin-cerai 5 kali dan pindah agama 5 kali pasti manusia itu PANCASILAIS sejati.
@Bang Poltak:
AGAMA itu kalau menurut saya artinya “bukan GAMA”. Jelas, karena saya lulusan UPH, bukan UGM.
ulu
Oktober 15, 2007
beragama itu enal lho. Beragama bisa jadi duit, beragama bisa jadi anggora parleman, beragama bisa jadi bangsa(t) yang besar, beragama bisa jadi selebritis, beragama bisa jadi partai politik. Jadi wajar toh orang pada ribut soal agama, bisa mengasyikkan gitu. Tanya aja pendapat orang-orang yang top karena agama,( bukan karena firman lho ). Jawabnya pasti asoi
xwoman
Februari 24, 2007
ahh ternyata cermin bangsa(t) ini nuorak e pol..
pantesan krisis di sana sini ga slese-slese…, padahal yang aku tau.. agama ngajarin berkasih sayang
salam damai dari kota sejuk
senyumsehat
Februari 24, 2007
Hehehe orang kok senengnya ribut to yo..? Mbok saling senyum aja, lha mbok yo karepe dewe2 ajalah wong suargo ga melok, neroko ga katut kok… Lha khan kebanyakan juga beragama gara2 keturunan, jarang yg bener2 yakin dan paham kenapa milih agama tersebut,apalagi buka kitabnya, kalau bener2 paham ga bakalan jd bangsa(t)yang korup dan tega sm rakyatnya..hiks
Kang Kombor
Februari 25, 2007
@xwoman:
Begitulah cermin bangsa(t) kita. Semoga selalu damai, Mbak.
@Bu Dokter:
Karepe dho ribut tetapi tidak berani menunjukkan jati diri. Bangsa(t) pengecut ya, Bu.
batman
Februari 27, 2007
ada apa dengan kalian semua ?
Agama adalah soal imajinasi, adalah soal konsensus.
sudah banyak pertikaian yang diakibatkan oleh pemahaman agama yang sempit dan picik, hentikanlah, pergunakanlah imajinasimu, guys.
Saat seseorang ingin keluar dari agamamu karena ingin menikahi kekasih hatinya, kamu marah2. tapi diam2 kamu mensyaratkan agar kekasihmu harus masuk keagamamu jika ingin hubungan kalian yang udah kelewat batas itu berakhir di pelaminan. Ada apa ini Dek Pendi ? Ini sangat tidak relevan dan signifikan…
zaki
Februari 27, 2007
Sodara-sodara,
Indonesia bukan negara agama!
Indonesia bukan negara kapitalis!
Indonesia bukan negara komunis!
Indonesia negara itu negara …
joni
Februari 28, 2007
agama membedakan, toleransi menyatukan.
wadehel
Maret 2, 2007
Agama emang biang masalah. Harusnya beragama ga perlu koar-koar berisik. Jadikan urusan pribadi sama tuhan, ngumpet sana dikamar, silahkan khusuk pake caranya sendiri.
Mau pindah seminggu 7 kali kek itu urusan mereka. Seperti Kang Kombor bilang, “Ternyata tidak perlu menjadi siswa SMATN hanya untuk bisa bla bla bla”. Menurut saya, tidak perlu harus jadi orang beragama hanya untuk bisa bla-bla yang sama.
Untuk damai dan toleran, untuk bisa bekerja sama, hari gene sebaiknya agama dijadikan urusan pribadi aja.
CHEM
Maret 3, 2007
menurt saya sih. sebaiknya kita itu gak perlu saling menjelek-jelekkan agama orang lain. bila kita mau menyebarkan agama kita , sebaiknya sebarkan dengan cara yang fair, gak perlu mencemooh dan mencela agama orang lain. (jangan-jangan banyak tu yang nyebarin agama dengan cara itu). bukankah agama melarang untuk menyakiti hati orang lain. Mari kita jaga persatuan bangsa ini untuk kemajuan bersama .UNTUKMU AGAMAMU, UNTUKMU AGAMAKU.
masdhenk
Maret 3, 2007
mbuh…
*komentar adalah wajar ketika kita masih diberi kesehatan*
tukangkomentar
Maret 11, 2007
Yang jelek bukan agamanya, yang jelek pikiran orang-orang yang ribut soal agama itu seperti di posting ini “Angelina Sondakh Tentang Adji Massaid”.
Mereka ini merupakan faktor-faktor yang ikut bertanggung jawab atas terjadinya kerusuhan-kerusuhan antar agama seperti di Poso, Ambon dll.
Pandangannya seperti pandangan kuda penarik andong yang pakai tutup mata.
orang bego
Maret 31, 2007
jangan mengkambing hitamkan agama sebagai biang masalah….
salahkan diri anda kenapa berkomentar tentang hal yang sifatnya menjelek2an orang lain…
apa anda sudah merasa hebat???
buat kang kombor thanks udah ngebuka forum yang cukup funtastic…
for all, mari kita saling mengerti satu sama lain sehingga kita saling menghormati dan mencinta pendapat orang yang beraneka ragam
bukan dicela ataupun kita berusaha meluruskan (kaya kita udah lurus aja)
yoi bro n sis …
wassalam….
madsyair
Maret 31, 2007
bicara perbedaan agama tidak ada habisnya. lha wong jelas2 berbeda kok diributkan. yang perlu,kita sama2 mengamalkan ajaran agama masing2 dengan benar. insyaAlloh bisa damai. semoga.
sarapan dulu,ah. dari tadi komentar serius.
mr lekig
Juli 2, 2007
wahai saudaraku..
berdamailah..
apapun agamamu, no problem, kita bersaudara, jadi mari ciptakan kedamaian.. peace..
lahir dengan agama?