Sistem Khilafah Sudah Lama Mati
Petikan ungkapan KH Imam Ghazali: “khilafah Islamiyah bertujuan untuk melindungi umat Islam, lantas kenapa saat Indonesia dijajah selama 350 tahun silam, diam saja,” (Kutipan selengkapnya ada di bawah kometar saya)
Mungkin Pak KH Imam Ghazali itu perlu ditingkatkan pengetahuan sejarahnya. Pada saat Indonesia dijajah olh Belanda (1596 – 1950) adalah periode kemunduran khilafah. Waktu itu, wlayah-wilayah taklukan Islam di Eropa sudah dirbut kembali oleh Tentara Salib (CMIIW di bawah Perancis). Selain itu, Dinasti Mogul dari Mongolia juga berhasil menganeksasi wilayah kekuasaan khalifah. Jadi, pada saat itu, daulah khilafah terkonsentrasi untuk mempertahankan wilayahnya dari serangan berbagai arah: Perancis, Rusia, Mongolia. Bagaimana mungkin membantu kerajaan-kerajaan nusantara kalau di wilayahnya sendiri khalifah kesulitan menghadapi gempuran musuh?
Puncak kemunduran Daulah Khilafah terjadi pada tahun 1924 ketika Kemal Ataturk mengkudeta khalifah dan merubah Turki menjadi Negara sekuler.
Nation State di Timur Tengah adalah warisan dari imperialisme Eropa yang begitu berhasil menggerogoti kembali wilayah Daulah Khilafah, maka agar khilafah tidak bangkit lagi, mereka membagi-bagi wilayah bekas daulah khilafah menjadi Negara-negara kecil dan membentuk Negara nasionalis. Eropa menanamkan nasionalisme sempit agar setiap Negara Arab sibuk berperang dan lupa akan ukhuwah Islamiyah. Sayang sekali, kyai-kyai di Indonesia pun sudah terjebak pada nasionalisme sempit.
Mengenai system khilafah yang dikatakan dasarnya kurang kuat. Saya hanya bisa beristighfar. Ketika Nabi SAW menjelang wafat, beliau mengangkat Abu Bakar menjadi khalifah. Abu Bakar mangkat, Umar dipilih. Umar mangkat, Utsman bin Affan dipilih. Utsman mangkat, Ali bin Abi Thalib diangkat. Jadi, apa yang diwariskan Nabi SAW itu dasarnya tidak kuat? Selain itu seperti dituturkan oleh KH M Shiddiq Al Jawi, empat madhzab yang ada semuanya sepakat bahwa perlu ada imamah.
Kemudian mengenai pernyataan bahwa NU akan memberikan perlawanan kalau HTI tidak memperbaiki cara dakwah dalam arti jangan berdakwah ke orang-orang NU, di sini saya melihat adanya pengkaplingan terhadap jiwa dan raga manusia yang berarti juga merendahkan martabat manusia. Bagaimana mungkin manusia bisa dikapling sebagai yang ini warga NU dan pasarnya NU, yang ini warga Muhammadiyah dan pasarnya Muhammadiyah. Yang ini masih bebas, bukan warga siapa-siapa, silakan didakwahi. Manusia kk dikapling-kapling seenaknya sendiri. Apa ada jaminan kalau seseorang itu jadi anggota NU makan jaminannya pasti masuk surga? Siapa tahu justru kalau masuk HTI-lah yang masuk surga. Kita kan nggak tahu soal itu, masak mau mengkapling manusia…
Saya sendiri tidak berafiliasi ke NU, Muhammadiyah, Persis, HTI atau yang lain. Menurut saya semua itu hanya berupa organisasi yang tidak berhak mengklaim manusia menjadi lahan kaplingnya.
==========
Harian Bangsa, Kamis 31 Agustus 2006 10:55:41 WIT
Sistem Khilafah Sudah Lama Mati
Dari Debat Nation State vs Khilafah
Surabaya-HARIAN BANGSA
Debat terbuka mengenai Nation State dan Khilafah di Wisma Bahagia IAIN Sunan Ampel kemarin mampu menyedot perhatian ratusan massa, baik dari jamaah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) maupun anak-anak muda Nahdlatul Ulama (NU). Beberapa peserta rela duduk di lantai, sebagian lainnya berdiri di dekat pintu dan jendela gedung tersebut.
Acara debat terbuka itu menghadirkan Pimpinan Pondok Pesantren Mahasiswa An Nur Surabaya, KH Imam Ghazali Said dan Ketua Lajnah Tsaqofiyah DPD I Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jogjakarta, KH M Shiddiq Al-Jawi. Debat dengan tema ‘Nation State dan Khilafah’ difasilitatori Komunitas Tabayyun bekerjasama dengan HARIAN BANGSA.
Mengawali pandangannya, KH Imam Ghazali Said yang juga dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya itu menyatakan, konsep kebangsaan Indonesia berupa nation state tidak bisa dielakkan. Sementara sistem khilafah dianggap Kiai Ghazali bukan sesuatu yang wajib diterapkan. Sebab, kata dia, khilafah merupakan sistem yang bersifat ijtihad. Bahkan, dalam catatan sejarah, khilafah Islamiyah sudah lama mati. ”Kenapa khilafah Islamiyah hancur, ini lantaran dasarnya tidak kuat. Banyak terjadi penyelewengan selama khalifah berkuasa,” ujarnya.
Lalu dalam sejarahnya pula, sistem khilafah tidak punya peranan yang sangat berarti, terutama dalam melindungi kepentingan umat Islam. “Kalau khilafah Islamiyah bertujuan untuk melindungi umat Islam, lantas kenapa saat Indonesia dijajah selama 350 tahun silam, diam saja,” ungkapnya.
Oleh karena itu, dia mengatakan, sistem khilafah tidak cocok untuk diterapkan di Indonesia. Pasalnya, sistem tersebut berbenturan dengan nilai-nilai nation state seperti suku, bahasa, dan geografis. Di Arab sendiri, katanya, banyak negara yang ternyata menggunakan nation state, bukan khilafah.
”Di Jordania sendiri, tempat lahirnya Hizbut Tahrir (HT), organisasi tersebut dilarang. Karena pada saat itu, ada upaya pihak HT merebut kekuasaan secara paksa dengan menggunakan kekerasan,” kata kiai yang mengaku pernah melakukan penelitian tentang masalah tersebut. Kiai Ghazali menerangkan, konsep nation state sendiri dimana-mana hampir sama, yakni berisikan beragam suku, bahasa, dan kedekatan geografis. Sementara untuk masalah agama sendiri tidak masuk dalam konsep tesebut. Ini karena negara, terutama Indonesia, menghotmati semua agama yang ada.
”Bahkan Kiai Hasyim (KH Hasyim Asyari), sendiri merupakan orang yang pertama kali memberikan seruan jihad untuk mempertahankan nation state. Dan kalau merujuk pada umur terbentuknya organisasi, maka NU jauh lebih tua dibanding HTI. “Itu artinya, NU berperan penting dalam pembentukan Negara Indonesia,” terang dia.
Kiai Ghazali kemudian mengungkapkan bahwa dalam perkembangannya, pergerakan HTI tidak selaras dengan apa yang dicita-citakan sebelumnya. Bahkan, mereka berusaha memaksakan faham kepada masyarakat NU dengan cara mendatangi masjid-masjid. Untuk itu, tambah Kiai Ghazali, pihaknya berusaha mengingatkan agar HTI tidak melakukan upaya-upaya ‘penyerobotan’ baik massa maupun masjid-masjid milik warga NU. Sebab, dari laporan-laporan masyarakat banyak yang menyebutkan infiltrasi HTI ke masjid-masjid dengan alasan ukhuwah.
Selanjutnya, mereka diajak masuk ke paham HTI. ”Kalau tidak sepaham dibilang kafir, bahkan Indonesia sendiri mereka anggap negara jahiliyah. Ini kan tidak benar,” katanya.
Kiai Ghazali menegaskan, NU siap melakukan perlawanan kalau memang HTI tidak segera membenai tata cara mereka berdakwah. Dia berharap, HTI mencari ‘pasaran’ di luar warga NU.
Di sisi lain, Ketua Lajnah Tsaqofiyah DPD I Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jogjakarta, KH M Shiddiq Al Jawi mengatakan, adanya sikap tidak senang terhadap HTI merupakan sesuatu yang wajar. Menurutnya, pembicaraan soal khilafah dan nation state tidak akan bisa selesai apabila sudut pandang baik NU maupun HTI berbeda. ”Memang ada banyak perbedaan, namun perbedaan terjadi bukan untuk memanaskan suasana dan ingin menang sendiri,”katanya.
Kiai Shiddiq yang juga Dosen STEI Hamfara Jogjakarta dan Pengasuh Ma’had Taqiyuddin an Nabhani ini mengatakan, soal khilafah tidak bisa dibandingkan dengan nation state.
Masalahnya, kata dia, perbandingan yang dipakai melalui metode empiris. Sementara khilafah sendiri diakuinya sudah lama mati. ”Realitasnya khilafah itu kan sudah lama mati, sementara konsep nation state itu saat ini ada. Jadi jangan hakimi konsep dengan ralitas, kami berharap meskipun berbeda pendapat, tapi semuanya tetap berbuat adil,” katanya.
Menanggapi pernyataan Kiai Ghazali dimana khilafah tidak wajib hukumnya, Kiai Shiddiq mengatakan dari empat imam masing-masing Imam Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad semuanya sepakat bahwa harus ada imamah. Kiai Shiddik pun menyimpulkan bahwa khilafah menjadi bagian dari Islam.
Dan mengenai dugaan adanya penyelewengan ajaran yang dilakukan oleh HT, kata dia, kasusnya tidak terjadi di Indonesia. Itulah kenapa, kata dia, HTI mencoba mengingatkan bahwa khilafah saat ini terlupakan. Ini juga yang menyebabkan sistem khilafah di Turki hancur pada 1924.
Mengenai dugaan adanya ’sabotase’ HTI terhadap warga dan masjid-masjid milik NU, Kiai Shiddiq mengatakan hal tersebut karena salah persepsi masyarakat semata. Sebab, ujarnya, HTI selalu datang dengan niat silaturahim.
Sementara itu, acara yang digelar mulai pukul 13.00 WIB tersebut berangsur-angsur memanas. Hal ini terjadi setelah sesi dialog dibuka. Dimana, hampir semua pertanyaan tertuju pada Kiai Shiddiq. Para penanya mempertanyakan apa dan bagaimana strategi membangun khilafah Islamiyah yang digagas HTI untuk Negara Indonesia.
Meski hampir sebagian besar peserta sepakat bahwa konsep nation state sudah merupakan bentuk final, namun mereka penasaran dengan keterangan Kiai Shiddik selaku wakil HTI, lantaran tidak bisa menunjukkan siapa amir (pempimpin) HTI baik untuk Indonesia, maupun dunia internasional. Meski demikian, di akhir acara, kedua pembicara sama-sama sepakat untuk melakukan introspeksi diri. Baik secara pribadi maupun golongan (NU dan HTI). Bahkan, sembari berjabat tangan, kedua pembicara lantas berpelukan. (lan)
Simbah yakin, khilafah ini akan ada lagi. Cuma mungkin si Ghozali itu sudah masup liang kubur. Kenapa yakin? Karena itulah yang disabdakan Nabi saw dalam riwayat Imam Ahmad (haditsnya shahih) bahwa putaran zaman itu akan melalui beberapa fase, yakni :
Fase nubuwah (kenabian)
Fase khilafah ‘ala manhaj Nubuwah (khalifah dgn dasar risalah Nabi, ini fase khulafaur rasyidin, cuma 30 tahun sebagaimana sudah diramalkan Nabi saw)
Lalu fase Mulukiyah (kerajaan, dinasti2 umayah, abasiyah sampai utsmaniyah/ottoman yang runtuh saat attaturk laknat kudeta)
Trus fase Jabariyah (liberalisme, ya sekarang ini, dimulai dengan nasionalisme negeri2 muslim yang intinya sebenarnya adalah perpecahan, Di fase ini para imperialis malah bersatu… lihat uni eropa)
Lalu kembali ke fase khilafah ‘ala manhaj Nubuwah (entah berapa tahun lagi).
Tenang saja, semua sudah sesuai dgn apa yang disabdakan Nabi saw. Simbah bukan anggota HTI. Tapi simbah pingin punya ndil untuk terciptanya fase Khilafah ‘ala manhaj Nubuwah yang kedua ini.
Mbah Dipo
September 6, 2006 at 3:30 pm
sekarang sudah ada ke khalifahan yang berpusat di Cilengsi ….
shidiq
September 12, 2006 at 2:43 am
Assalamu’alaikum Wr Wb
Saudaraku saya Orang Islam, Leluhur saya juga Ber akidah Islam, sejak Nabi Adam hingga sekarang Semua para Nabi dan pengikut-pengikutnya yang setia tetap berakidah Islam.
Islam yang diemban Nabi Muhammad saw adalah penyempurnaan dari akidah Leluhurnya (Aqidah Islam sebelum Nabi Muhammad SAW). termasuk Leluhur PraSejarah Nusantara…Ingat lho…Nabi Muhammad saw Menyempurnakan bukan menghilangkan Ajaran sebelumnya…yah pokoknya terlalu panjang…..laionkali masalah ini harus dibahas.
Perlu banyak pelurusan sejarah :
1. Di dalam Islam sendiri (Tarekh Islam) terutama tentang hadist-hadits tentang kekholifahan.
Allohu Akbar…Nabi Muhammad SAW tidak-tidak-tidak-tidaaaaaaaak mengangkat Abu Bakar sebagai Kholifah, baik Hadist Shahih dalam suni maupun Syiah dalam hal ini sepakat. Namun mengapa Abu Bakar sendiri mengangkat langsung Ummar sebagai Kholifah pengganti Abu Babakar.
Lihat peristiwa Ghadirkum, Shohih Bukhory: Ummar menolak titah Nabi Muhammad saw untuk membawakan pena+kertasnya dimana Nabi akan menuliskan wasiat menjelang akhir hayatnya…, Mengapa?…wy..Keluarga Nabi yang disebut dalam Al-Qur’an Ahlul-Bait menangis dan marah melihat sikap tidak baik Umar terhadap Nabi. dan banyak lagi.
Coba saudaraku hayati…fikirkan dari peristiwa Pengangkatan Abu Bakar diangkat menjadi kholifah dengan Cara Musyawarah, yaaaaaah kayak dibuat MPRnya lah….
shidiq said,”sekarang sudah ada ke khalifahan yang berpusat di Cilengsi …”.
semudah itukah membuat khalifahan, paling juga kha-khalifahan..hehehehehehehehe….
tu lihat NEGARA IRAN-sudah system kekholifahan,Imamah, Sy’ah dari dulu tetap Sy’ah dengan sistem kekholifahan dan Immamah yang terjaga keberadaannya….Namun banyak informasi baik kalangan ulama jalur Idiologi yang menjelekkan memfitnah syi’ah itu sendiri…
LANTAS APAKAH NABI MUHAMMAD SAW PERNAH MENGANGKAT PEMIMPIN PENGGANTI BELIAU SECARA LANGSUNG DAN IKRAR DIHADAPAN UMMAT ISLAM WAKTU ITU?
sekian dulu,
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Agus Wirabudiman
Oktober 2, 2006 at 5:41 am
Memang sistem khilafah sudah mati, tapi haruskah kita berpangku tangan
dengan tidak melaksanakan syariat islam, sesuai dengan qs 4:59, dan banyak lagi yang mewajibkan sistem khilafah, memang di cileungsi masih kecil, karena inilah kita mulai setapak demi setapak agar sistem khilafah kembali berkibar.
Agus Wirabudi
November 20, 2006 at 7:26 am
Debat ini mirip seperti Orang Buta yang sedang bertengkar dengan Orang tuli. Kata Allah orang Islam sekarang seperti orang pikun. Tidak tahu bahwa posisi islam sudah diinjak2 oleh dunia, bahkan oleh yang mengaku muslim sendiri. Tetapi mengklaim punya khilafah? Yang namanya khilafah itu artinya penguasa. Tanah mana hari ini yang dikuasai islam? Sejengkal tanah pun tak ada yang berlaku hukum islam secara sempurna.
Pihak yang satu lagi -mungkin sudah frustasi untuk menegakkan islam- malahan bekerja dengan Thogut, bercengkrama dengan orang2 yang bibirnya basah dengan lafal quran tetapi melaksanakan dengan seksama hukum2 yang bukan dari Allah. Pertanyaannya, Nabi mana yang bersikap seperti itu? Apa ada ajaran dalam quran yg seperti itu? Kalau tidak, berarti mereka tidak mau mengikuti sunnah-nya para nabi dan rasul. Kalau tidak mau mengikuti, berarti berada pada posisi yang berseberangan dengan para nabi dan rasul, alias elemen dari abu Jahl.
Jika para pembaca ingin mengetahui bagaimana Allah akan bekerja, silahkan hubungi saya, karena ada informasi dari Allah yang tidak diketahui oleh manusia yang akan membelalakan mata karena tidak diduga kehadirannya. Tentu dengan sarana berfikir sebagai satu2nya modal untuk memahami kharakter-Nya.
Allah akan “hadir” ke muka bumi, sebagaimana hadirnya pada jaman para rasul dahulu. Sunnatullah akan berulang, dan Allah tidak pernah berdusta akan Sunnatulah-Nya.
Wassalam
Mesiyyakh
Desember 9, 2006 at 6:55 pm
Gimana caranya menghubungi Mesiyyakh kalau nomer telpon atau email tidak ditunjukkan kepada umum. Email yang diisikan pada formulir tidak ditunjukkan kepada umum. Kalau url itu otomatis akan membuat taut ke alamat yang dituliskan pada field URL.
Arif
Desember 12, 2006 at 1:56 pm
Maaf, dapat menghubungi email address saya di: futucomz@yahoo.com
mesiyyakh
Desember 19, 2006 at 5:53 pm
Sistem kepemimpian itu harus di tegakkan (Khilafah), karena wadah umat islam itu ada di khilafah. dengan tegaknya sistem khilafah insya allah umat islam akan meraih kejayaannya.
Buat orang yang menolak sistem khilafah, maka keislamannya patut dipertanyakan. coba perhatikan surat QS:3:103, yang artinya berpegang teguhlah kalian di jalan allah, dan haram berpecah belah.
Juga perhatikan QS:4:59, yang artinya taatilah Allah, Rasul dan ulil amri.
Mufli Effendi
Januari 15, 2007 at 2:13 am
jadi kita yang orang awam dan hidup di negara Indonesia yang multikultural dan multireligion harus gimana
dani
Januari 18, 2007 at 5:32 am
kalau khilafah sudah lama mati, maka kami akan datang untuk membangkitkannya!!
Hayo!! Anda mau apa??
titok
September 16, 2007 at 9:25 am
Wah, serunya diskusi belajar ber-sama2 saling berbagi ilmu.
Menurut hemat saya, sebaiknya kita jangan mudah dipecah belah apalagi diadu domba. Sebab jenderal yg hebat bukanlah jenderal yang memenangkan sepuluh peperangan, melainkan jenderal yg sepuluh kali menang tanpa peperangan.
Hayo!! Silakan Direnungi, Semoga Bersedia Dengan Senang Hati
rha-k
Agustus 19, 2008 at 9:30 pm