Dua hari ini (kemarin dan hari ini) lagi-lagi kita (yang di Jakarta dan Tangerang) dianugerahi pemadaman listrik bergilir oleh PLN. Sungguh anugerah yang sangat membahagiakan karena kerugian yang ditimbulkan oleh penggiliran ini cukup sulit untuk kita hitung. Kita dapat melihat kantor-kantor pemerintah yang tidak dapat melayani masyarakat, bank yang tidak dapat melayani nasabah, perusahaan yang kehilangan peluang bisnis, dan kuantifikasi dari kerugian-kerugian itu.
PLN enak saja bicara kalau pemadaman bergilir terpaksa dilakukan karena pasokan BBM terlambat. Masalah ini, masalah miss management seperti ini, mengapa pula selalu berakibat kepada pemadaman yang harus disyukuri dengan umpatan oleh pelanggan (baik bisnis maupun perorangan). Ketidakbecusan mengurus cadangan minimal dalam inventory management yang dilakukan oleh PLN membuat pelanggan harus menanggung akibat. Pemerintah, PLN, dan Pertamina masih bertikai dalam cara-cara pembayaran subsidi. PLN mendapat subsidi BBM dari pemerintah. Pertamina menyalurkan BBM kepada PLN sambil menagih tunggakan tetapi pelanggan yang harus menanggung akibat.
Kita tentu saja dalam hati sangat gerah dan tidak bisa menerima perlakuan semena-mena seperti ini. Akan tetapi, apa daya? Penyedia listrik di negeri bencana ini hanya PLN, kita tidak memiliki alternatif untuk membeli listrik dari perusahaan lain selain PLN. Akibatnya, kalau PLN memiliki acara iseng membuat pemadaman bergilir, kita hanya bisa menunggu giliran dan pasrah.
Suaraku pernah menulis tentang PLTN di blog ini. Bukan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir melainkan Pembangkit Listrik Tenaga Ngawil. PLT Ngawil ini perlu disediakan buat mereka semua yang menolak PLT Nuklir. Bayangkan, listrik kita saat ini sebagian besar dibangkitkan dari BBM yang mahal harganya dan memiliki lingkaran setan antara pemerintah, Pertamina dan PLN yang tidak habis-habisnya. PLT Uap dan PLT Panas Bumi hanya sedikit. PLT Air bisa dikatakan tinggal menunggu waktu untuk menjadi sejarah karena AIR hanya akan tersedia di musim hujan di mana di mana-mana air melimpah menjadi air bah dan banjir bandang dan ketika kemarau entah pada menghilang di mana. Apa praktek-praktek bodoh seperti ini yang harus kita teruskan?
Mungkin, kita saat ini memang harus memikirkan bahwa suatu saat di nusantara ini, setiap anggota keluarga harus bergiliran ngawil kalau butuh listrik. Huh!!!
Posted on Juli 25, 2006 by MAW
0